Boss Gila

Boss Gila
BAB 33 Pasien yang Terkilir


__ADS_3

Dengan sempoyongan Cindekia memblender tomat di dapurnya. Meskipun dirinya telah mandi, tetap saja rasa kantuk masih menyerang.


Ia hanya membuat roti isi untuk sarapannya, sesekali jempol tangannya menekan layar ponselnya sambil tersenyum. Dyan membalas pesannya. Tampaknya pria itu sedang tidak sibuk.


Percakapan mereka hanya seputar kegiatan Dyan. Meskipun Cindekia tidak mengerti, Ia tetap membalasnya dengan penuh semangat.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan lain yang masuk di ponselnya. Sembari menunggu Dyan selesai mengetik pesan balasan untuknya, Cindekia mengganti laman pesan Dyan dengan laman muka aplikasi pesan. Ternyata pesan baru dari bosnya.


"Apa ada tugas penting? pagi-pagi dia kirim pesan," gumannya sembari meneguk jus tomatnya.



"uhuk! uhuk!" Ia terbatuk melihat sticker yang dikirim Gamya, dan menumpahkan jus tomatnya hingga mengotori baju kerjanya.


Apa yang terjadi? apa jarinya terkilir?



Kepala Cindekia berdenyut membaca pesan berikutnya dari Gamya, Apa maksudnya tanya-tanya? Dia ingin memberikan tugas tambahan?


__ADS_1


Gamya yang tengah duduk di mobil tersenyum geli membaca pesan masuk dari Cindekia. "Kita ke Hangbrige," katanya kepada pak Isman yang duduk di bangku kemudi.


"Baik Pak,"


Pak Isman mengerti tujuan mereka adalah rumah kontrakkannya Cindekia. Ia sudah tujuh tahun menjadi supir pribadinya Gamya. Dan selama itu pulalah Ia juga berkerja untuk Ibunya Gamya mengawasi tuannya.


Gamya mengetahuinya, namun Ia membiarkannya saja seolah Ia tidak tahu apa apa.


Gamya membalas pesan Cindekia.


[Gamya: Kalau begitu, Aku harus bertanggungjawab untuk menjemputmu. Kau harus menghemat sisa tenaga yang kau miliki.]


[Cindekia: Iya. ]


Senyum menghilang dari wajah Gamya membaca pesan singkat yang terlalu singkat.


ceklek


Cindekia membuka pintu di sebelah Gamya, "pagi Pak," sapanya cerah, secerah mentari pagi yang sudah membumbung tinggi. Mereka telah terlambat.


Meskipun terlambat bersama bos, tetap saja Cindekia akan mengalami pemotongan gaji karena telat fingerprint. Sesuai aturan.


Cindekia melirik tangan Gamya, "jari Bapak terkilir?" tanyanya bernada khawatir.

__ADS_1


"Terkilir?" Gamya berpikir sejenak melihat Cindekia yang terlihat mengkhawatirkannya, "Iya terkilir." katanya berbohong demi kebaikan.


"Sudah Saya duga," Ujar Cindekia bangga dengan kemahiran menebaknya. Jari Bosnya pasti terkilir hingga terkirim stiker yang seperti itu.


Gadis yang tadi pagi harus mengganti bajunya akibat tumpahan jus tomat mengeluarkan minyak mujarab yang dapat menyembuhkan segala penyakit hingga luka gigitan ular dari dalam tasnya.


"Saya ada minyak ini, jangan khawatir Pak, gak berbau kok," Cindekia membuka tutup botol minyak dan meraih tangan Gamya.


"Kau mau apa?" tanya Gamya bingung.


"Urut jari Bapak, kok bisa terkilir sih Pak?"


Cindekia mulai membalurkan minyak ke tangan Gamya. Sudah menjadi tugasnya untuk memastikan bosnya baik-baik saja. Kalau sempat bosnya sakit, artinya Ia akan semakin repot karena meng-handle pekerjaan bosnya.


Gamya segera menggulung lengan kemejanya hingga di atas sikunya, "tanganku sakit sampai sini, sulit digerakkan," katanya seperti anak kecil yang habis jatuh di jalan, terus pulang mengadu sama mamaknya.


Cindekia yang sedang fokus mengurut melihat lengan kekar Gamya yang atletis, glek.


"Ini, Bapak oles sendiri aja!" Cindekia memberikan botol minyaknya kepada Gamya dan memalingkan wajahnya yang mulai memerah. Ia bergeser menjauh dari Gamya.


"Tanganku sakit kedua-duanya," rengek Gamya.


Khawatir, Cindekia menoleh ke arah Gamya. Kasian juga kalau benaran sakit.

__ADS_1


Tenang Cindekia, tenang. Ia menenangkan jantungnya yang berdebar tidak karuan.


Pak bos memang ganteng, dia adalah pasien, pasien. Entah mengapa Ia merasa beruntung tidak menjadi dokter. Bagaimana kalau dia adalah dokter bedah dan akan membedah pasien yang ganteng. Bisa-bisa salah potong.


__ADS_2