Boss Gila

Boss Gila
BAB 27 Kesucian yang Terenggut


__ADS_3

Gamya berhenti bermain game di ponselnya, Ia melirik jam tangannya. Sudah lebih dari sepuluh menit Cindekia berbicara dengan Ibunya.


Ia memutuskan untuk menjemput Cindekia, tangan kanannya menekan layar ponselnya, menghubungi Cindekia.


"Hallo... " Cindekia menjawab panggilannya, suaranya terdengar seperti tertekan.


"Kau ingin aku menjemputmu?" tanya Gamya.


Ia tetap bertanya meminta persetujuan Cindekia, meskipun Ia sudah hampir sampai di ruangan dimana Cindekia diinterogasi Ibunya.


"Oh Sayang...tidak perlu, tunggu sebentar ya...."


Langkah kaki Gamya terhenti melihat rambut Cindekia yang duduk membelakanginya. Mendengar gadis itu memanggilnya 'Sayang' sukses membuat jantungnya sedikit begetar.


Meskipun hubungan mereka hanyalah sandiwara, tetap saja Ia merasa nyaman dengan Cindekia. Ia sadar gadis itu memiliki pria lain atau mungkin bisa saja memiliki banyak pria lain.


Mungkin tidak apa-apa menikmati perasaan ini untuk sementara waktu.


"Mama tidak membencimu, dear. Mama hanya ingin Kau dan Gamya dapat tinggal lebih lama lagi di sini," kata nyonya Lenart dengan lembut kepada Cindekia, tatapannya sendu. Ia menyadari kehadiran Gamya.


Cindekia yang mendengar Ibunya Gamya tiba-tiba berubah haluan, menghabiskan tehnya hingga kandas, "Benarkah?" tanya Cindekia dengan mata berbinar, "Saya juga mau tinggal di sini lebih lama!" serunya dengan antusias. Ia lupa telah berperang dingin dengan Ibunya Gamya sebelumnya.


"Sayangnya, Kau tidak bisa Sayang...," bisik Gamya tiba-tiba tepat di telinga Cindekia. Ia berdiri di belakang Cindekia dan mencondongkan badannya.


Cup!


Gamya mengecup pipi Cindekia dari arah belakang membuat darah gadis itu berdesir. Ia kembali menodai keperawanan area wajahnya Cindekia.


Senyum terpasang di wajahnya, Ia menatap Ibunya dingin. Ia seperti anak kecil yang ingin menunjukkan kepada Ibunya bahwa Cindekia adalah miliknya.


Sementara Cindekia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan dirinya dari serangan lelaki mesum. Ia adalah aktris berbakat tahun ini.


Aku bukan wanita bayaran yang dibayar dan bisa disentuh sesuka hati, Aku adalah aktris yang dibayar untuk peranku, Cindekia menenangkan dirinya yang dilanda kemarahan karena Gamya menciumnya sembarangan.


"He.. he.. he.. Pak Sayang, sejak kapan ada di belakangku?" Cindekia tertawa canggung berdiri dari duduknya dan melihat Gamya. Sulit untuk berakting bahagia melihat orang yang ingin dimasak hidup-hidup.


"Ayo pergi!" seru Gamya lembut menggenggam tangan Cindekia.

__ADS_1


Mereka pergi meninggalkan nyonya Lenart seorang diri. Wanita itu tidak bisa menyalahkan sikap kurang ajar putranya.


Dirinya yang lebih dahulu meninggalkan putranya, itulah yang diyakini Gamya. Ia hanya bisa berharap putranya kembali kepadanya tanpa harus meluruskan kesalahpahaman Gamya.


***


Sepanjang perjalanan menuju bandara, Cindekia terus membuang muka. Gadis itu tidak ingin melihat Gamya. Saat ini darahnya sedang mendidih.


Sementara Gamya yang sadar dengan kesalahannya, sedang memikirkan cara bagaimana membujuk Cindekia. Mungkin dengan makanan?


Hingga pesawat yang mereka tumpangi mendarat di negeri tercinta, Cindekia tetap membuang muka dan membiarkan Gamya membawa kopernya.


Saat di luar kantor, mereka adalah sepasang kekasih. Dan Cindekia adalah bosnya.


Blam!


Pintu mobil Gamya telah ditutup, saat ini mereka sudah berdua saja di dalam mobil. Tidak perlu khawatir akan ada mata yang mengawasi.


Cindekia akhirnya bernapas lega, Ia memalingkan wajahnya menatap Gamya.


"Lehermu sudah baik-baik saja?" tanya Gamya yang duduk di bangku kemudi dengan wajah tak berdosanya yang sebenarnya sangat menyebalkan untuk dilihat.


"Pak, Bapak tahu? Saya ingin menendang Bapak sekarang juga," ucap Cindekia terdengar tidak main-main.


Mengapa Aku selalu dihadapkan dengan wanita yang menyukai kekerasan? keluh Gamya dalam hati tidak mengerti. Kembarannya juga menyukai kekerasan.


Gamya menghela napas berat, "Aku minta maaf karena sudah menciummu... " ucapnya penuh penyesalan, "Kau boleh memukulku, tapi jangan sampai menyebabkan aku masuk rumah sakit ya." Gamya menyerahkan tubuhnya dengan pasrah.


Hah? semudah ini aku boleh memukulnya? kenapa kalau direncanakan dan pakai minta ijin dulu, jadi tidak ingin memukulnya ya?


"Sudahlah...memukul Bapak hanya akan seperti menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri," kata Cindekia tidak bersemangat.


"Pfftt... Apa kau mengartikan pribahasa itu secara tekstual?" tanya Gamya mencoba memahami Gadis yang duduk di sebelahnya.


Atau dia berpikir dengan memukulku akan mendapat ganjaran? Dia berpikir Aku tidak bersungguh-sungguh meminta maaf?!


"hmm..." Cindekia mencoba menjelaskan kepada bosnya yang sepertinya tidak paham tentang hukum Fisika, "Pak...memukul Bapak hanya akan membuat tangan Saya sakit," ujar Cindekia bernada bijak, yang sebenarnya semakin menambah kebingungan Gamya.

__ADS_1


Gamya hanya terbengong, "Aku benar-benar minta maaf, Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya sebagai permintaan maafku," ujar Gamya pada akhirnya.


Ia memindahkan persneling mobilnya dan memijak pedal gas, memutar setirnya, meninggalkan pakiran bandara.


"Pak, mungkin Bapak sudah biasa seperti itu dengan pacar-pacar bapak sebelum-sebelumnya, tetapi jangan melakukan itu kepada saya," lirih Cindekia. Entah mengapa Ia merasa bersalah membiarkan Gamya menciumnya. Ia berharap kontak fisik seperti itu hanya boleh dilakukan oleh suaminya nanti, yaitu Dyan.


"hmm..." Gamya berpikir sejenak, Ia butuh penterjemah untuk memahami Cindekia. Setelah sering bersama dengan Cindekia membuatnya ingin memahami gadis itu.


Ia berbicara seperti anak perawan di sarang penyamun saja. Benarkah dia adalah seorang player? Gadis maniak yang tidak cukup dengan satu orang pria?


Saat ini, Gamya tidak peduli sekalipun Cindekia adalah gadis seperti itu, karena Ia merasa senang setiap kali melihat wajah lucu Cindekia saat kesal, moodnya mudah berubah saat makan, dan bekerja lebih giat lagi setelah dimarahin.


"Mengapa? karena hubungan kita hanya sandiwara? Kau mau menjadi pacarku sungguhan? Ok, jika itu maumu, tidak masalah bagiku jika kau juga mencintai pria lain," ujar Gamya dengan entengnya.


Bos gila ini, kesal Cindekia.


"Pak, Saya mengatakan itu bukan karena Saya ingin jadi pacar Bapak!" bentak Cindekia, Ia ingin menelan Gamya hidup-hidup.


Gamya yang masih fokus mengemudikan mobilnya melirik Cindekia sekilas, gadis yang masih berstatus sekretarisnya membentaknya, "Kau membentakku?" sindirnya.


"Maaf," ucap Cindekia dengan wajah yang tidak ikhlas meminta maaf, "Saya sudah berjanji akan menjaga diri dengan baik kepada orang tua saya sebelum memutuskan untuk melanjutkan sekolah di kota," kata Cindekia memulai ceritanya.


"Hmm..."


Cindekia menatap jalan yang mereka lalui, tatapannya menerawang melihat senyum bahagia kedua orang tuanya berubah menjadi kecewa, "Saya gagal menepati janji, karena Bapak sudah merenggut kesucian Saya, dan sudah dua kali..." lirihnya kemudian.


"Kesucian?" tanya Gamya bingung hingga membuat mobilnya oleng ke kiri tiba-tiba.


Tin!


Terdengar mobil di belakang mereka membunyikan klakson.


"A-pa kita me-lakukan-nya?" tanya Gamya bernada khawatir, apa Ia telah menodai Cindekia tanpa sadar? bahkan sudah dua kali.


Ia memang pernah meminum yang mengandung alkohol, tetapi bukan minuman yang membuat mabuk.


Gamya menilas balik hari-hari dirinya dan Cindekia lembur di kantor sembari mengemudikan mobilnya dengan lambat di jalur paling kiri. Ia tidak pernah sampai lupa diri.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2