Boss Gila

Boss Gila
turut prihatin


__ADS_3

"Kia, ayo masuk! Bapak ingin bicara dengan Kamu."


Salahuddin menggiring putrinya naik masuk ke dalam rumah.


Nyali Cindekia menciut. Ia sebenarnya juga takut dengan ayahnya. Namun tidak punya pilihan lain.


"Kia, Kamu yakin dengan pilihanmu?" tanya Nuraini, pertanyaan yang terlambat Ia pertanyakan.


Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


Nuraini menggenggam erat tangan putrinya yang Ia letakan di pangkuannya. Mereka duduk bersebelahan dan saling menghadap.


Cindekia menatap ibu dan ayahnya yang masih berdiri bergantian. Guratan kekhawatiran terlukis di wajah keduanya.


"Pak, Bu. Pak Gamya orang yang baik. Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir. Kia akan baik- baik saja." katanya bernada bijak.


Salahuddin ikut duduk di kursi yang membelakangi pintu masuk rumah. Dipegangnya kedua lengan kursi. Mungkin takut lepas.


"Bapak tidak menyukai Bos kamu itu, Bapak juga tidak bisa memintamu untuk bercerai." Kegusarannya tertahan karena pria tak beretika itu telah resmi menjadi menantunya.


"Ce-rai?" tanya Cindekia terbata. Bagaimana bisa kata cerai terucap dari mulut ayahnya, sementara pernikahannya baru sehari.


"Kia," Nuraini mengusap punggung tangan putrinya seakan tidak ingin melepasnya. "Kamu harus ingat, Kamu masih memiliki orang tua. Jika terjadi sesuatu dengan pernikahanmu, Kamu bisa mencari Kami."


Kekhawatiran kedua orangtuanya membuat kepercayaan diri Cindekia sedikit terkikis. Apakah keputusannya untuk menikah adalah benar?


Pikirannya berbisik, Pak Gamya menyukaiku dan Aku pun demikian, menikah adalah keputusan yang benar.


"Ini salah Bapak," Salahuddin mulai menyalahkan dirinya sendiri. "Bapak langsung percaya begitu saja dan menikahkanmu, tanpa menyelidiki latar belakang orang itu," katanya kehilangan semangat.


"Bapak... " ucap Cindekia lirih, Ia memang tidak memperkenalkan Bosnya secara lengkap.


Mengenai pendidikannya, pekerjaannya, orang tuanya, saudaranya, alamat rumahnya.


"Kia, putri Ibu, Kamu harus baik- baik ya sama suamimu. Urus suamimu dengan baik. Hormati mertuamu," Nuraini memberikan tausyiahnya sembari mengusap pundak putrinya.


Dengan patuh, Cindekia mengangguk, "Iya Bu."


Namun Salahuddin terlihat tidak setuju dengan pendapat istrinya, "Kamu jangan terlalu patuh dengan suamimu. Ingat! Kamu masih memiliki orang tua."


"Pak..." Nuraini mengingatkan suaminya tentang penyakit darah tingginya yang bisa kumat kalau lagi banyak pikiran yang membuat kesal.


Cindekia menyalami ibu dan ayahnya, pamit sekali lagi. "Pak, Bu, Kia pergi. Kasian Pak Gamya, nanti terlalu lama nunggu di luar."


"Nah itu! barusan sudah bapak bilangin. Kamu sudah lebih mementingkan suamimu!"


Cindekia yang tidak mengerti bagaimana membujuk ayahnya, melirik ibunya berharap wanita yang tak lagi muda itu membantunya.


"Bapak, bukan begitu. Kalau terlalu lama, nanti mereka bisa kemalaman, belum lagi macet di jalan." kata Nuraini lembut memberi pengertian kepada suaminya.


"Pergilah, besok kami akan mengunjungimu." ucap Salahuddin melepas kepergian putrinya.

__ADS_1


"Baik Pak,"


Cindekia hanya bisa menjawab iya, dirinya sendiri juga tidak tahu akan tinggal di mana setelah menikah dengan Gamya.


Gadis itu sepertinya lupa untuk banyak bertanya kepada Gamya. Cinta memang membuatnya tidak bisa berpikir banyak.


Cindekia berjalan dengan penuh keteguhan hati menuju mobil Gamya yang telah lama terpakir dengan mesin menyala.


"Pak!" seru Cindekia begitu mendudukan bokongnya di kursi sebelah Gamya.


Gamya yang tengah asyik bermain game di ponselnya menoleh dan tersenyum. Ia menutup layar ponselnya. "Sudah selesai?"


Matanya menatap lembut istrinya, sesaat Cindekia terpana, dan terpaku dengan sorot mata Gamya.


Tanpa aba- aba, Isman menjalankan mobil yang mengangkut tuannya.


"Eh lho kok langsung jalan, Pak Isman?" Cindekia kembali ke alam sadarnya.


Ia menoleh kembali ke Gamya, "Bapak tidak pamit salaman lagi sama bapak dan ibu?"


"Sweetheart, mobilnya sudah jalan. Bapak dan ibu juga ingin istirahat, tidak baik mengganggu mereka."


hah bapak ini ngomong apa?


Tak ingin melawan kepada suami, Cindekia hanya manut saja. "Iya."


Mobil SUV berwarna hitam dengan mulus tanpa memberikan guncangan yang berarti kepada penumpangnya, melewati jalan berliku menanjak dan bebatuan. Bukan karena belum ada pengaspalan jalan, hanya saja pengaspalan itu terjadi beberapa tahun lalu tanpa ada perbaikan.


Setelah sampai di jalanan kota yang aspalnya masih terasa mulus, perjalanan mereka sedikit terganggu dengan adanya perbaikan jalan.


Cindekia menumpukan kedua sikunya diatas sandaran tangan.


"Pak!" dipanggilnya Gamya yang tengah serius menggambar di layar iPad berwarna abu-abu.


Seruan Cindekia membuat Gamya menghentikan aktivitasnya sejenak, "Ya, Sweetie?" tanyanya kemudian.


Pandangan mereka beradu.


"Bapak dan Ibu katanya besok mau mengunjungi kita," Cindekia memberikan laporan, mumpung ingat.


"Aku akan mengirim orang untuk menjemput mereka,"


Gamya melempar senyum sekilas kepada Cindekia dan kembali ke layar iPadnya.


"Terus?"


"Te-rus?" Gamya kembali melihat lawan bicaranya.


"Iya terus ini kita mau kemana?"


"Kau mau ke mana?"

__ADS_1


"Lah Bapak kok tanya Saya? yang jadi suaminya kan Bapak."


gimana sih?


Gamya menunjukkan layar iPadnya kepada Cindekia, "Sweetie, Kau suka yang mana?"


Gamya menggeser- geser layar, menunjukkan beberapa gambar sebuah hunian yang artistik.


Cindekia melihat takjub gambar yang ditunjukkan Gamya, seakan baru pertama kali melihat hal yang seperti itu.


"Bagus rumahnya, Pak. Kita mau sewa salah satu rumah ini?"


"Baby, kita tidak perlu menyewa."


"Jadi? Bapak mau beli?"


"Tidak, tidak. Aku ingin Kau memilih rumah yang mana yang Kau suka untuk kita tempati bersama."


Cindekia menutup kaget mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka bosnya, tidak, suaminya memiliki banyak rumah dan tinggal pilih.


"Semua rumah ini Bapak punya? Bapak developer properti?"


Gamya menghela napas sejenak, Ia masih tidak mengerti wanita. Tinggal pilih saja, apa susahnya.


Gamya tertawa kecil, "Aku bukan developer, dan rumahku hanya satu."


Cindekia mengangguk- angguk, dan menggusap layar iPad yang ada di hadapannya. Mencoba memilih salah satu hunian.


"Yang ini." tunjuknya asal.


"Kita memiliki selera yang sama, ternyata kita memang ditakdirkan untuk bersama. Bukan kah begitu?" tanya Gamya sembari mengetuk layar iPadnya.


Terlihat bagian dalam hunian yang ditunjuk Cindekia.


"Ini adalah desain rumah, Aku ingin Kau juga ikut andil dalam mendesain rumah kita, Sweetie."


Cindekia kembali manggut-manggut "Membangun rumah dan tangga bersama," gumamnya melihat interior hunian di layar.


"Benar,"


"Bapak sudah pindah kerja lagi ke sini?" tanya Cindekia dengan semringah.


Gamya membalasnya dengan senyum yang lebih semringah, "Tidak, kita akan tinggal di Ljubljana."


Seketika raut semringah menghilang dari wajah Cindekia, "Tidak, Saya tidak bisa ikut Bapak, Saya memiliki pekerjaan, dan keluarga di sini."


"Sayang, Aku turut prihatin, Kau sudah dipecat." Gamya menujukan air muka bela sungkawa. Untuk mendramatisir keadaan.


"Bapak bercanda? bagaimana bisa?"


"Karena Kau absen seminggu lebih tanpa kabar."

__ADS_1


"Hah? bukannya kemarin Bapak yang akan menyampaikannya kepada pak Damar?"


"Maaf Hun, Aku lupa memberitahunya." ucap Gamya berbohong.


__ADS_2