Boss Gila

Boss Gila
BAB 42 Lagi enak-enak malah diganggu


__ADS_3

Saat Cindekia tengah serius mengetik surat, tiba-tiba bunyi dering ponselnya memecahkan konsentrasinya, terlebih deringnya mengisyaratkan Gamya yang menghubunginya.


"Ya, Pak?" jawab Cindekia bernada operator keluhan pelanggan.


"Ke ruanganku sekarang!"


"Baik, Pak."


Mau tidak mau, gadis itu menuruti perintah bosnya, meskipun hatinya sedikit dongkol. Lagi enak-enak ngetik diganggu.


"Iya Pak?" tanya Cindekia setelah melihat batang hidung Gamya.


"Makan siang nanti, kita akan makan di luar dan Aku sudah menentukan tempatnya," ucap Gamya dengan wajah polos sok tak berdosa dan kembali bekerja dengan laptopnya.


Sikap hening bosnya membuat Cindekia mengeluarkan suaranya, "sudah, Pak? itu saja yang mau Bapak sampaikan?"


Gamya mengangguk tanpa menoleh ke arah Cindekia, "hmm.. "


Cindekia menghela napas menyabarkan emosinya, dia adalah operator keluhan pelanggan. Pagi ini, entah sudah berapa kali Ia masuk ke ruangan bosnya untuk sesuatu hal yang tidak urgent. Kalau tahu bakal sering hilir mudik begini besok-besok pakai sendal jepit saja.


"Pak, Bapak kan bisa menyampaikannya melalui saluran telepon," katanya dengan suara yang dibuat lembut sedemikian rupa hingga orang yang mendengar tahu Ia sangat kesal.


Gamya menoleh kembali ke arah Cindekia dan tersenyum puas, "mengapa? Kau tidak suka kalau Aku ingin melihat pacarku?"


Bukannya baper, Cindekia malah ingin membuka jendela di belakang bosnya dan melempar bosnya itu ke luar.


Namun, Ia hanya menatap kosong bosnya sembari otaknya menerawang.


Aku sempat bertanya pada hatiku, tidak apakah menyetujui hal konyol berpacaran serius saat ada seseorang di sana yang tengah menungguku? Apakah Aku adalah pendosa dan kriminal yang tersangkut kasus perselingkuhan?


Saat itu hatiku menjawab, Kau tidak selingkuh karena belum menerima perasaan Dyan meskipun mencintainya, dan menjalin hubungan serius dengan Pak Gamya adalah hanyalah bagian dari pekerjaan yang akan berakhir selama dua minggu.

__ADS_1


Tetapi... saat ini, entah mengapa Aku merasa mendapatkan karma? orang di depanku semakin berbuat sesuka hatinya saja.


Cindekia kembali ke alam nyata, dan menjawab pertanyaan menyebalkan Gamya.


"Tidak, Sob. Kalau begitu Saya permisi Sob," tegas Cindekia kemudian.


"Baby, bisakah Kau jangan memanggilku Sob?" Gamya tidak suka panggilan yang dialamatkan Cindekia untuknya.


"Mengapa? Bapak tidak suka kalau pacar Bapak memanggil Bapak 'Sob'?"


Bukannya marah, Gamya malah tersenyum senang, "Aku suka, Aku suka Kau mengakuiku sebagai pacarmu."


Lah, malah membuatnya jadi senang, batin Cindekia.


"Hari ini adalah hari pertama kita menjalin hubungan serius, jadi Aku sudah memesan tempat khusus untuk makan siang nanti," kata Gamya memberi keterangan yang terdengar menggoda.


tempat khusus? apa jangan-jangan seperti di film film? membooking seluruh restoran?


Wajah Cindekia bersemu merah, Ia tersenyum senang membayangkan dirinya bisa mengalami hal romantis seperti di film. Akhirnya ada titik dimana Ia akan mengalami yang namanya masa-masa bahagia.


Ekspresi senang Cindekia tetap Ia pertahankan hingga jam makan siang tiba, Pak Isman mengantar mereka ke restoran yang di maksudkan Gamya.


Namun, ekspresi senang Cindekia berubah menjadi bingung saat mereka duduk di salah satu meja di tengah keramaian para pengunjung lain.


"Ini tempat yang sangat direkomendasikan, benar-benar tidak salah kan?" Gamya menjawab kebingungan Cindekia. Ia yakin tidak salah pilih restoran, melihat dari banyaknya pengunjung yang datang.


"Biarkan Aku yang memilihkan menu untuk mu," pinta Gamya kemudian. Ia sangat yakin dengan hasil pencariannya semalam tentang menu andalan restoran itu.


"Iya," jawab Cindekia pasrah.


Gamya pun memesan menu pilihannya seperti pelanggan tetap restoran, padahal ini juga kali pertamanya.

__ADS_1


"Mengapa?" tanya Gamya setelah mengembalikan buku menu kepada pelayan. Ia tidak mengerti mengapa Cindekia tampak tidak sesenang tadi.


"Tidak, Saya kira kita akan makan romantis berdua saja," jawab Cindekia tanpa sadar mengutarakan isi pikirannya.


"Kau ingin kita Berdua saja?" Gamya menyimpulkan keinginan Cindekia.


Cindekia dengan malu mengangguk pelan, Ia sangat malu mengutarakan keinginannya untuk mencoba makan romantis seperti di film.


Jawaban Cindekia kembali membuat Gamya frustrasi. Ia membayangkan hal-hal yang sangat maju ke depan.


"Apa Kau memikirkan hal yang sama dengan yang kupikirkan?" tanya Gamya hati-hati.


yang Pak Gamya pikirkan? Ah benar... tidak ada hal romantis seperti itu di dunia nyata.


Cindekia tertawa kecil, "Saya pikir Bapak seperti di film, memesan khusus satu restoran untuk makan berdua saja."


Film? Aku tidak tahu ada hal seperti itu. Gamya sedikit kecewa dengan Cindekia yang ternyata belum satu frekuensi dengannya.


"Aku tidak akan melakukan hal seperti itu."


"Maaf, " Cindekia menunduk malu, karena berharap Gamya melakukan hal begituan kepadanya yang bukan siapa-siapa.


"Aku suka berada dimana banyak orang bisa melihat Aku adalah milikmu."


Cindekia mengangkat kepalanya begitu mendengar penuturan Gamya, hingga membuat kedua bola mata mereka bertemu.


Kedua bola mata Gamya menatap dalam menembus ke dalam jantung Cindekia.


Apa Pak Gamya serius dengan ucapannya? tidak, dia ini tidak waras, dia gila. Mengapa Aku memasukannya ke dalam hati?


Meskipun pikirannya mengatakan tidak, namun jantungnya berdebar kencang tidak karuan.

__ADS_1


"Jangan berpikir untuk melalaikan perkerjaanmu hanya karena Kau sudah memilikiku, kecuali jika Kau ingin berhenti bekerja," ancam Gamya kemudian mencairkan Cindekia yang sempat membeku.


Benar, dia tidak waras, sebaiknya makan saja dengan tenang, hindari berpikir yang tidak-tidak.


__ADS_2