Boss Gila

Boss Gila
BAB 30 Riset


__ADS_3

Gamya membawa Cindekia ke sebuah supermarket.


"Ayo!"


Gadis yang tadinya ingin tidur awal itu mengikuti Gamya memasuki supermarket. Dalam hatinya ia bertanya-tanya pekerjaan penting apakah yang akan dilakukannya di dalam supermarket.


"Jadi, apa pekerjaan penting saya, Pak?" Cindekia bertanya karena Gamya berhenti di tengah perjalanan menelusuri supermarket.


Gamya menunjuk rak di depannya dengan dagunya, "Kau pilihkan sikit gigi yang bagus untukku," ucapnya kemudian dengan pembawaan tenang.


hah? Cindekia terbengong mendengar tugas pentingnya.


Ya Tuhan berilah hambamu ini kesabaran yang melimpah, doa Cindekia dalam hati.


"Pak, haruskan malam ini juga Bapak mendatangi saya untuk membeli sikat gigi? Bapak kan bisa pergi sendiri?" protes Cindekia.


Gamya tidak bergeming dengan protes yang dilayangkan sekertarisnya, "Nona Kia, sudah menjadi tugasmu memastikan yang terbaik untuk segala kebutuhanku."


Aku adalah sekertaris yang merangkap sebagai asisten, pekerjaan yang penuh dengan perangkap.


Tanpa protes lagi, Cindekia segera mengambil beberapa pack sikat gigi yang terlihat mahal dan memasukkannya ke dalam troli yang di pegang Gamya. Biar cepat.

__ADS_1


"Sudah kan, Pak?"


"hmm... Apa kau yakin mengambil yang terbaik?"


"Yakin Pak, sangat yakin, yakin sekali," Cindekia hampir kehilangan kesabaran.


"Apa kau sudah melakukan riset?"


hah?


"Pak, haruskah saya melakukan riset sekarang? dan memberikan laporannya kepada Bapak?" Cindekia mengambil lagi beberapa pack sikat gigi yang berbeda, ia memenuhi troli. "Bapak bisa mencoba semuanya, beres kan Pak?"


"Hmm.... " Gamya menatap datar Cindekia. Ia tidak sedang menahan amarah melihat ketidak sopanan sekertarisnya. Tetapi Ia sedang menahan tawa.


Seharian Ia tidak melihat gadis itu, seperti ada yang kurang.


"Ok," ucap Gamya enteng sembari mendorong trolinya meninggalkan Cindekia.


hah? Apa dia marah? ah bodo amat lah!


"Loh Pak, kasirnya sebelah sana," Cindekia mencoba menuntun bosnya ke jalan yang benar karena Gamya mendorong trolinya ke arah yang berlawanan.

__ADS_1


"Aku masih ingin melihat-lihat,"


"Baiklah Pak, kalau begitu selamat melihat-lihat, saya ijin pulang ya, tugas saya kan sudah selesai."


"Kau tidak ingin membeli sesuatu?" Gamya menghentikan langkah kaki Cindekia.


Cindekia menggeleng, "Tidak."


"Nona Kia, jika aku membawa bawahanku pergi berbelanja, maka orang itu juga harus mendapatkan apa yang ingin dibelinya. Apa kau mengerti?" Gamya menatap datar Cindekia yang tengah mencerna kalimatnya.


"Ambillah barang yang kau inginkan, dan kau kalau perlu troli ini terisi penuh, aku yang akan membayarnya," kata Gamya memperjelas arahannya.


"Oh...Ok,"


Mematuhi perintah bosnya, Cindekia mengambil beberapa barang kebutuhan sehari-hari yang biasa Ia beli. Tidak butuh waktu lama baginya untuk memenuhi trolinya. Ia seperti sudah hapal tata letak supermarket tersebut.


"Tunggu, kau langsung ambil begitu saja? tanpa melihat-lihat dulu?" Gamya menghentikan Cindekia yang hendak memasukan sebungkus deterjen ke dalam trolinya.


Jika dibiarkan, proses belanjanya akan selesai dalam waktu cepat. Artinya waktu kebersamaannya dengan Cindekia juga akan singkat.


"Ya," Cindekia mengambil kembali deterjennya yang dikembalikan Gamya ke rak. "Ini adalah merk yang biasa saya pakai."

__ADS_1


"Kau tidak melihat-lihat merk lain, yang mungkin lebih bagus? Kau harus cermat dalam berbelanja."


Cindekia hanya terbengong melihat sikap bosnya, ada apa dengan orang ini? harusnya dia senang dong Aku nggak lama lama belanjanya.


__ADS_2