Boss Gila

Boss Gila
Tidak dikasih makan banyak?


__ADS_3

'Masakan yang enak bisa menjadi perekat istri untuk suami' Perkataan Nuraini terngiang di telinga Cindekia.


Ia sedang memasak sesuatu di dapurnya.


Mami menyukai wanita itu karena dia pandai memasak? batin Cindekia, dan beralih menatap tajam Gamya yang tengah duduk di kursi meja makan. Ia sedang bekerja di laptopnya.


Apa dia akan begitu juga? jatuh ke dalam pelukan Norah, tidak bisa! teriak batin Cindekia. Ia kembali bersemangat kembali mengaduk soup sayurannya dengan mengikuti resep secara akurat.


Sepasang tangan merangkulnya dari belakang. Bisa ditebak kalau bukan makhluk halus, tentu saja suaminya.


"Sangat harum," bisik Gamya di telinga Cindekia.


"Saya belum mandi, masih harum?" elak Cindekia tersenyum malu mendengar pujian Gamya.


"Maksudku soup buatanmu, Baby." Gamya mengecup pundak istrinya.


Hah? kirain..


"Jangan ganggu! nanti kalau masakan saya khilaf lagi gimana? hmm...."


"Apapun hasilnya, Aku akan tetap memakannya," Gamya tak mengindahkan larangan Cindekia. Bibir, dan indra pengecapnya tak ingin berhenti mencumbu dan bermain di area sekitar leher dan pundak istrinya.


Cindekia melepaskan cengkraman Gamya, dan berbalik menghadap suaminya itu. "Ini suami saja yang lanjutkan masak!" perintahnya sembari menyerahkan sudip sayurnya kepada Gamya.


Gamya menerima sudip itu dengan raut wajah penuh tanya.


"Gantian! Saya yang peluk." Cindekia menyandarkan dirinya di dada bidang suaminya.


Saat hatinya terluka, Ia lebih suka mendengar bunyi detak jantung mereka yang seirama daripada dicumbu oleh suaminya. Ada perasaan nyaman saat dirinya bersandar pada pria yang Ia yakini akan selalu melindunginya.


Cindekia tidak ingin mengatakan apapun kepada Gamya tentang ibu mertua yang membencinya dan terang- terangan ingin mengganti menantunya. Ia tahu hubungan antara Gamya dan kedua orang tuanya tidak harmonis. Namun tidak tahu penyebabnya.


"Ada apa?" tanya gamya pelan. Ia sedikit heran karena kedua tangan Cindekia tidak nakal seperti biasa saat memeluknya.


"Jangan tanya! suami kan sudah pro, apapun gangguannya tetap bisa memasak dengan baik, kan?"


Gamya terkekeh, "Sayang, Aku bertanya karena Kau tidak menggangguku."


Cindekia mendongak dan bertanya heran, "apa?"


"Tidak," Gamya kembali menenggelamkan kepala Cindekia dan mengecup puncak kepalanya. Kia, Kau membuatku bingung apakah Kau wanita nakal atau masih saja polos.


Beruntung Ia memiliki lengan yang panjang, tubuh kecil Cindekia yang memeluknya tidak menjadi penghalang. Gamya yang hobi memasak memang pro.


"Baby, apakah Kau tidur?" Gamya mengusap kepala Cindekia yang diam saja sedari tadi, sementara Ia telah selesai memasak.

__ADS_1


Cindekia mengerjap, dan segera melepaskan dirinya dari Gamya.


"Sudah selesai?" tanyanya semringah melihat tumis udang brokoli yang asapnya masih mengepul di atas wajan.


"Sepertinya suasana hatimu sudah membaik setelah tertidur dan menumpahkan air liurmu di bajuku."


"Apa?!" Cindekia melirik baju Gamya yang sedikit basah karena air matanya. "Ah maaf! tinggal diganti saja," pekik Cindekia panik, dan hendak membuka kaos yang dikenakan Gamya.


Gamya menahan tangan Cindekia yang hendak menarik ke atas kaosnya, "Aku tahu Kau lebih suka melihat tubuh polosku, tapi tidak sekarang Kia," bisik Gamya dengan mesra.


"Ah!! ya terserah Bapak deh, mau pakai kaos yang kena iler saya!" teriak Cindekia kesal. Ia panik karena takut ketahuan nangis, tetapi malah dikira sedang menggoda.


Cindekia segera mengambil peralatan makan dan nasi untuk diletakkan di atas meja makan. Sementara Gamya terkekeh pelan melihat istrinya yang terlihat sangat kesal. Ia lebih suka melihat wajah kesal Cindekia daripada wajah sedihnya.


Tidak ada suara selama makan. Peraturan tidak boleh bicara saat makan belum dicabut. Tanpa bicara pula, Cindekia membasuh peralatan bekas makan mereka.


"Bapak tidak kerja sana?" tanya Cindekia karena Gamya masih berdiri di dapur mengawasinya seperti mandor.


"Tidak, Aku belum mendapatkan ciumanku."


Cindekia tersenyum dan melepaskan sarung tangan karetnya. Ia menghampiri Gamya dan mengecup bibir pria itu.


Gamya menyeringai dan lanjut mendaratkan ciuman ekstrakurikulernya. Diakhiri kegiatan saling makan memakan di atas meja dapur.


Gamya mengusap lembut bibir merah merekah Cindekia, dan mengecupnya singkat. Tangannya masih tidak lepas mengelus pipi bakpao Cindekia.


Cindekia tertawa heran, Hah? maksudnya apa? dia menyesal menikah denganku? istri yang nggak berguna ini?


"Apa yang sedang Kau rencanakan, Hun?" tanya Gamya bernada serius.


Cindekia spontan memegang perutnya, dan membulatkan matanya, ketahuan?


Ia mengira Gamya mengetahui rencananya tentang menyembunyikan kehamilah jika dia hamil.


"Baiklah, Aku tidak akan memaksamu, jika Kau tidak ingin mengatakannya." Gamya melepaskan tangannya dari pipi Cindekia. Ia mengurung Cindekia yang duduk di atas meja dapur dengan kedua tangannya.


Cindekia kembali terbuai dengan tatapan Gamya kepadanya. Apa hanya Aku saja yang berdebar setiap kali berdekatan seperti ini?


"Selama Aku tidak ada, Aku tidak mengijinkanmu menemui keluargaku!" Gamya memberi perintah.


"Hah?!" Cindekia tersentak dari buaian.


"Istirahatlah!" Gamya mengacak rambut Cindekia dan beranjak pergi. "Aku kerja dulu, love you."


Cindekia hanya terbengong menatap Gamya yang menghilang di balik pintu ruang kerjanya.

__ADS_1


Tiga jam kemudian, Cindekia masih terbengong memikirkan perintah Gamya. Ia seperti berada di atas papan yang terombang-ambing di tengah lautan.


Setelah berpikir keras, Cindekia memutuskan untuk memberitahukan Gamya jika ibunya tidak menyukainya. Dan tidak ingin Ia semakin dibenci ibu mertua, karena dikira memanfaatkan putranya.


"Apakah dia kan percaya?" gumam Cindekia. Mengingat sikap lembut ibu mertuanya yang angin- anginan menurutnya.


Dicoba saja,


Dengan segelas jus mangga di tangannya, Cindekia membuka pintu ruangan kerja Gamya , dan melihat situasi.


"Masuklah Hun, jangan mengintipku seperti maling begitu. Padahal Kau sudah jadi maling."


"Iya,"


Eh apa? Aku maling? ah sudahlah abaikan saja.


Cindekia masuk dan memberikan jus mangga yang dibawanya kepada Gamya, dengan tersenyum manis.


"Terima kasih, Honey."


"Ya sama sama."


Gamya meminum jus mangga yang dibuat Cindekia untuknya, "Katakan apa yang Kau inginkan?" tebaknya kemudian. Sikap manis istrinya mudah ditebak.


"Apakah bisa, lockdown nya dicabut?" tanya Cindekia bersemangat.


"Tidak," tegas Gamya memberikan gelas kosong bekas jus mangganya kepada Cindekia. "Terima kasih atas sogokannya," ucapnya setelah Cindekia menerima gelas kosong itu.


Gamya kembali menatap layar laptopnya. "Apapun rencanamu, Aku tidak mengijinkanmu tetap berada di rumah orang tuaku. Melihat wajahmu hari ini, sepertinya ada sesuatu yang terjadi."


Pernyataan Gamya sontak membuat Cindekia terkejut. "Ada apa dengan wajah saya?" tanyanya bingung.


Gamya menghela napas, dan beranjak berdiri dari duduknya. Ia kemudian menarik Cindekia untuk duduk di kursinya.


Cindekia yang bingung, semakin bingung melihat Gamya yang menumpu lututnya di lantai dan menggenggam kedua tangannya.


Gamya terkekeh, "Aku sedang mencoba membujukmu, Sweetie," ucapnya menjawab kebingungan Cindekia.


"Oh,"


"Semalam Aku terus memikirkan apa yang membuatmu marah. Hingga akhirnya Aku memutuskan untuk menemuimu hari ini."


"Ah itu...,"


Apa dia menyadarinya? dia tidak boleh tahu jika Aku tahu rencananya untuk mengecek kehamilan tanpa sepengetahuanku. Harusnya Aku lebih bisa mengontrol emosiku dengan baik.

__ADS_1


Gamya mengelus kepala Cindekia seperti anak kucing, "Kau pasti marah karena ibuku tidak memberimu makan yang banyak selama tinggal di sana? Kau pasti sangat menderita karena tidak bisa makan seperti biasanya."


hah?


__ADS_2