Boss Gila

Boss Gila
Endless Love


__ADS_3

🐼 Hello.. terima kasih telah mengikuti ceritanya hingga akhir.


Mohon dukungannya dengan memberi komentar setelah selesai membaca cerita ini, jangan pergi begitu saja 😢😶.


Kritik, saran, dan kesan dari readers setelah membaca cerita ini sangat diharapkan untuk perbaikan author dalam membuat karya baru selanjutnya.


Terima Kasih


*****Selamat Membaca*****


...****************...


Sepasang manusia tengah tertawa bercanda dengan eksperimen meracik kopi yang mereka lakukan.


"Bagaimana? sudah bisa menjadi barista?" tanya Cindekia kepada Endra.


"Hmm, Kau bahkan bisa ikut kompetisi barista," balas Endra. Ia melanjutkan pekerjaannya, sebentar lagi coffee shop tempatnya bekerja akan segera dibuka.


Cindekia tidak lagi mengganggu pekerjaan Endra. Ia memilih duduk di salah satu meja dan membuat flayer iklan menu baru dari coffee shop miliknya.


Sudah tiga tahun berlalu sejak malam itu. Malam dimana Gamya menemuinya dan menghabiskan malam bersama dengannya.


Saat itu ia langsung yakin itu bukan delusinya karena menemukan semua makanan instannya hilang dari lemari dapur dan kulkas. Gamya paling membenci makanan instan dan membuangnya.


dirinya semakin frutrasi karena Gamya hanya membaca pesannya, dan tidak menjawab panggilan darinya kala itu.


Endra pria ramah, dan entah mengapa tiba-tiba menjadi tetangganya selalu membuatnya tertawa dan selalu siap siaga membantunya.


dua tahun lalu pria itu datang dengan membawa sertifikat barista nya. Meskipun Endra adalah pria baik dan sopan yang kini bekerja di coffee shop miliknya, tetap saja kenangan tentang Gamya selalu saja menggantikan sosok Endra di matanya.


"Maaf Pak, belum buka, jika ingin menunggu_" kata Endra terpotong karena pria yang baru saja masuk ke kedai kopi mereka menatap lurus ke arah Cindekia.


Begitupun dengan Cindekia. Ia mengusap mainan kalungnya, hadiah pemberian Gamya yang jarang ia pakai karena takut hilang. Bendanya kecil, tetapi harganya sangat mahal.


Endra mempersilahkan tamu mereka masuk untuk menemui Cindekia.


"Silahkan duduk," kata Cindekia dengan sopan.


Jasson Hakim, pengacara Gamya melirik ke arah Endra yang berdiri tak jauh dari mereka. "Saya ingin berbicara berdua saja dengan Anda," katanya kepada Cindekia.


Karena sepertinya penting dan rahasia, Cindekia menoleh ke arah Endra, "Kedai kita akan buka lebih lama. Pergilah bermain di luar," ucapnya kepada Endra.


Endra menjawab perintah Cindekia dengan senyum, dan meninggalkan keduanya.


"Kedatangan saya kesini untuk menyerahkan dokumen kepemilikan saham, serta beberapa aset lain yang dimiliki saudara Gamya," ucap Jasson singkat, dan jelas.


Seketika darah Cindekia berdesir mendengar Jasson menyebut nama pria yang selalu ada di otaknya. Meskipun melihat kemunculan Jasson juga sudah membuatnya berdebar.


"Apa maksudnya? mengapa dia memberikannya kepadaku? bukankah waktu itu Aku sudah katakan tidak akan menuntut apa- apa?" tanya Cindekia bingung, yang diinginkannya adalah orang itu, bukan hartanya.


Jasson menarik napas dalam, mengumpulkan segenap energi positif sebelum menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar oleh kliennya. "Ini adalah hak yang harus Anda terima sebagai ahli waris saudara Gamya," ucap Jasson datar sedatar wajahnya.

__ADS_1


Jantung Cindekia serasa terhenti sesaat setelah mendengar penuturan Jasson. "Wa.. ris?" tanyanya sedikit tersendat. "Waris untuk orang yang_" perkataan Cindekia terhenti, ia tidak ingin mengatakannya dan juga tidak ingin mendengarnya.


Namun, Jasson dengan percaya diri berkata, "saudara Gamya telah meninggal dunia dua tahun yang lalu," ucapnya datar. Ia telah melakukannya sesuai yang telah diamanatkan kepadanya.


Kliennya ingin kematiannya diberitahukan kepada istrinya setelah wanita itu terlihat bahagia dan menemukan penggantinya.


Cindekia terlihat tenang mencerna penyataan dari Jasson.


"Di dalamnya juga ada surat dari saudara Gamya untuk Anda. Kalau begitu, saya permisi. Jika ada hal lain yang ingin ditanyakan, Anda bisa menghubungi saya," ucap Jasson undur diri, dan pergi meninggalkan Cindekia.


Endra yang sedari tadi menunggu di emperan kedai kopi mereka, segera masuk menggantikan Jasson yang keluar.


"Kia, Kau tidak apa- apa?" tanya Endra sembari menegakkan tubuh Cindekia. Ia merasa ada yang tidak beres dengan teman merangkap bosnya itu.


Benar saja, Cindekia lupa untuk bernapas.


"Tarik napas, Kia!" Endra mengingatkan Cindekia yang tak kunjung menghirup oksigen.


Akhirnya Cindekia kembali menghirup oksigen setelah diingatkan, "Surat.. " katanya dengan napas masih tersengal- sengal.


"Surat?" tanya Endra bingung.


Cindekia mengambil tas dokumen yang diberikan Jasson, "Aku pergi dulu," ucapnya kepada Endra.


Cindekia pergi menuju mobilnya yang terpakir di depan kedai, namun Endra menahan tangan gemetar Cindekia saat hendak membuka pintu. "Aku akan mengantarmu!" tegasnya.


Dengan patuh Cindekia pergi ke pintu penumpang mobilnya, ia membiarkan Endra karena ingin lekas sampai di apartemennya dan membaca surat dari Gamya untuknya.


Air matanya sudah tak terbendung lagi, ia terus mengingatkan dirinya untuk menarik napas. Takut kalau ia lupa bernapas.


[Terima kasih karena kau telah datang kepadaku dan membuatku bahagia di sisa hidupku.


Maaf karena menyukaimu,


Maaf karena pernah membawamu ke dalam hubungan yang tidak ada harapan di depannya.


Maaf, karena pernah selalu mengikatmu dengan kontrak. Aku ingin Kau tetap bersamaku.


Aku menjadi sedikit serakah saat mengetahui Kau juga menyukaiku, hingga tidak rela Kau membagi perhatianmu dengan siapapun. Termasuk dengan anak yang Kau inginkan.


Permintaanku yang terakhir berbahagialah.]


"Mengapa?" isak Cindekia. Ia masih tidak mengerti dengan apa yang dibacanya. Yang bisa dilakukannya adalah menangisi kepergian separuh hatinya.


Ia menangis pilu. Karena harapannya telah pupus, harapannya menunggu pria itu datang kepadanya suatu saat entah kapan. Harapannya melihat kekasih yang namanya tidak pernah hilang dari hatinya.


Pagi itu adalah hari dimana Ia menangis dari lubuk hati yang terdalam. Pagi dimana pondasi harapan yang ia bangun dengan kuat runtuh seketika.


***


.

__ADS_1


.


Satu tahun kemudian...


langit di atas area pemakaman sore itu terlihat masih cerah. Gamya dimakamkan di tanah kelahirannya.


Setelah Jasson menemui Cindekia tahun lalu, Adi menceritakan kepadanya tentang semua yang ia ketahui karena paksaan yang sangat memaksa.


Cindekia memaksanya.


'Gamya pernah divonis mengidap kanker hati sebelum mengenalmu. Setelah perjuangan panjang ia berhasil sembuh. Meskipun telah menjalani pola hidup sehat, kematian terus menghantuinya karena ia memiliki harapan untuk hidup tidak lama. Sel kanker itu masih tetap ada dan akan kembali menyerangnya suatu saat,' penjelasan Adi masih tetap diingat oleh Cindekia.


'Ia berkerja dengan keras untuk melupakan sakitnya, dan menyukaimu adalah bonus. Ia tidak ingin melihatmu sakit untuk yang kedua kalinya karena kehilangan, jadi ia memutuskan untuk melepaskanmu. Padahal setelah dia pergi, dia tidak bisa melihatmu,' kata Adi.


"Kamu tahu apa yang lebih buruk dari kepergian tiba-tiba?" gumam Cindekia sembari menatap batu nisan yang bertuliskan nama yang tidak ingin ia sebut. "Tidak memberikanku kesempatan untuk menjagamu dan menemani saat terakhirmu adalah yang terburuk," ia menghela napas dan mencoba berdiri, karena kakinya mulai kesemutan.


Cindekia berjalan menuju pintu keluar area pemakaman, di depan gerbang telah ada sebuah taxi online yang telah menunggunya.


Taxi online itu mengantarnya menuju bandara. Ia selalu datang ke kota itu setiap hari kamis hanya untuk menemui jasad suaminya, yang mungkin sudah menjadi tulang belulang yang terkubur sekitar dua meter di dalam tanah.


Begitu pesawat yang ditumpanginya mendarat, Cindekia langsung meluncur ke Coffee shop miliknya.


Ada Endra yang sedang menunggunya. "Kau sudah datang?" ia segera melepas celemeknya.


"Maaf, apakah Aku terlalu lama kembali?" tanya Cindekia.


Coffee shop nya terlihat telah bersih dan kinclong, tiga orang pegawainya yg lain telah pulang.


cling! gemerincing pintu terdengar pertanda ada yang masuk ke kedai kopi.


"Mommy!" teriak anak kecil berusia sekitar 3 tahun dan berlari ke arah Cindekia dan memeluk kedua kakinya.


wajah anak kecil itu dipenuhi lumuran coklat. Cindekia melihat dengan pandangan bertanya pada wanita berambut lurus sebahu yang dapat datang bersama dengan anak kecil itu,


"Ia bosan menunggu, jadi Aku membawanya membeli es krim," jawab wanita itu.


Cindekia berjongkok mensejajarkan dirinya kepada anak kecil itu, dan mengeluarkan tissue basah dari dalam tasnya, "Apakah es krimnya enak?" tanyanya lembut sembari membersihkan wajah anak kecil itu.


Anak kecil yang wajahnya sedikit mirip dengan Gamya itu mengangguk yakin, "Mommy mau?"


Cindekia menggigit es krim itu hingga separuhnya, "Enak, ayo kita pulang."


Cindekia membawa putranya keluar, menuju mobilnya. Meninggalkan pasangan yang baru saja menikah itu di kedai kopi.


"Sayang, ayo kita juga pulang," ucap wanita berambut lurus sebahu kepada Endra, sembari merangkul lengan suaminya itu.


~Tamat


The End


mampir juga di karya baru selanjutnya

__ADS_1



__ADS_2