
"Bapak tunggu di dalam mobil saja, biar saya yang turun," ucap Cindekia begitu mereka tiba di depan sebuah warung kecil yang menjual lantong sayur di pinggir jalan.
"Hari ini, biar saya saja yang bayar, Pak." kata Cindekia menghentikan Gamya yang hendak mengeluarkan dompetnya.
"Mengapa begitu?" tanya Gamya bingung.
"Rugi dong kalau cuman ditraktir makan lontong. Bapak traktir makanan mahal saja lain kali," ucap Cindekia sembari memegang handle pintu.
Gamya segera mengunci pintu mobilnya. "Kalau begitu kita pergi ke tempat makanan mahal yang Kau inginkan."
"Tidak, sekarang saya ingin makan lontong," tegas Cindekia.
"Baiklah...."
Gamya akhirnya mengalah dengan bawahannya yang sudah menunjukkan keteguhan hati itu.
Cindekia membeli lima bungkus lontong sayur, dua Ia berikan untuk Gamya dan tiga bungkus untuk dirinya sendiri.
"Apa kau membeli sebanyak itu disimpan untuk besok?" tanya Gamya heran. Sejauh yang dia tahu, Cindekia tinggal sendiri di kontrakannya.
"Bapak bercanda, basi dong untuk besok. Saya akan memakan semuanya malam ini."
Gamya tersenyum simpul. "Ya makanlah yang banyak agar kau memiliki banyak tenaga untuk bekerja," ucapnya sembari memijak pedal gas.
Tidak lama kemudian, setelah sekitar 100 meter berjalan.b"Stop, Pak! stop!" seru Cindekia tiba-tiba.
Gamya menepi mengurangi laju mobilnya dan berhenti. "Ada apa?"
Cindekia segera membuka pintu mobil dan turun. "Terima kasih, atas tumpangannya Pak. Saya turun di sini saja. Sampai ketemu lagi besok pagi," ucap Cindekia dan kemudian menutup kembali pintu mobil Gamya.
Ia segera berjalan kabur masuk ke dalam sebuah gang yang akan menembus menuju jalan depan rumah kontrakannya.
Sementara Gamya hanya bisa melongo menatap kepergian Cindekia. Ia tidak sadar melewati daerah rumah kontrakan Cindekia.
"Ternyata ini tujuannya ingin makan lontong sekarang?" gumam Gamya.
Dia sudah berpikir Cindekia ingin mencari-cari alasan agar bisa sering-sering bersama dengannya.
***
Cindekia meletakkan tiga bungkus lontongnya di atas meja makan, dia akan memakannya setelah mandi.
Baginya memakan tiga porsi lontong sayur pakai telur tidak banyak mengandung karbohidrat.
Hanya tiga sendok beras yang dibutuhkan untuk membuat satu buah lontong. Dan satu buah lontong jika dipotong-potong bisa untuk empat porsi. Artinya dia hanya mengkonsumsi kurang dari tiga sendok beras.
drrt.. drrt..
Ponsel Cindekia berdering saat Ia tengah memakan lontong sayurnya yang ketiga. Ia lekas meneguk air minum sebelum menjawab panggilan teleponnya, demi melancarkan lidahnya untuk berbicara.
__ADS_1
"Hallo..." ucapnya dengan lembut.
"Hai... sedang apa?" terdengar suara Dyan dari speaker ponselnya Cindekia.
"... tidak ada, hanya sedang duduk membaca buku, Kau sendiri? ada apa? tumben menelepon."
"Aku ingin menghubungimu dari semalam, tetapi baru sempat sekarang,"
"Oh..."
"Apa hari ini bosmu menyuruhmu lembur lagi?"
"Oh ya... " Cindekia tertawa pelan, "tetapi aku berhasil kabur,"
Terdengar suara tawa Dyan dari speaker ponselnya Cindekia. "Begitu ya, dia pasti sangat kesal."
"Mungkin, tetapi dia tidak bisa memecatku," ucap Cindekia dengan percaya diri.
"Oh ya? mengapa?"
"... itu karena kontrak--" Cindekia tidak melanjutkan kalimatnya karena mendadak teringat bahwa kontrak kerjasama mereka bersifat rahasia.
"...begitu ya, " ucap Dyan yang berpikir Cindekia adalah pegawai kontrak karena mengartikan kalimat gantung Cindekia. "Jadi Kau ada di rumah?" tanyanya kemudian.
"hmm..."
"Bisakah kau membuka pintu rumahmu? Aku ada di depan,"
Teriakan Cindekia membuat Dyan tersenyum simpul. Ia tengah berdiri di depan pintu rumah Cindekia.
"Oh.. tunggu sebentar ya." Cindekia segera menutup teleponnya dan segera membersihkan meja makannya.
Tidak cukup sampai di situ, Ia juga harus membersihkan beberapa barangnya yang berserakan. Rumah kontrakannya adalah rumah berukuran kecil yang hanya terdiri satu kamar, ruang makan dan ruang tamu berada dalam ruangan yang sama.
Cindekia membuka pintu rumahnya setelah memastikan isi rumahnya lumayan rapi dan bersih.
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
cekle..
"Mengapa Kau tiba-tiba datang?" ucap Cindekia menyambut Dyan dan mempersilahkannya masuk.
Dyan tidak menjawab pertanyaan Cindekia, Ia memberikan sekotak macaron, "kebetulan Aku melewati tokonya dalam perjalanan ke sini," ucapnya.
"Terima kasih," ucap Cindekia dengan mata berbinar.
Cindekia adalah seorang gadis pecinta makan, tetapi tidak gemuk. Aturan nomor satu, tidak mengemil di atas pukul 7 malam.
Mengapa dia membawa godaan yang besar ke sini? Cindekia langsung menyimpan macaronnya ke dalam kulkas.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" tanya Dyan.
"Mereka baik, Kau ingin minum apa? jus? kopi? sirup? teh?"
"Terserah,"
"Ok." Cindekia meletakkan segelas air putih di atas meja tamu.
"Kau mengenal keluargaku dengan baik, tetapi Aku tidak mengenal keluargamu," ucap Cindekia sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Dyan.
Dyan menatap Cindekia dengan serius, "Kia... menikahlah denganku," ucapnya dengan serius pula.
Ajakan Dyan yang mendadak membuat Cindekia mendapat serangan jantung, eh maksudnya sengatan listrik sesaat di tubuhnya.
"Kau mengajakku menikah?" tanya Cindekia yang masih dalam kondisi terkejut.
"Kau pasti sudah tahu alasanku mengajakmu menikah, aku menyukaimu," ucap Dyan lembut.
Ingin rasanya Cindekia melompat kegirangan, tetapi dia masih dalam kondisi sadar yang dapat mengendalikan dirinya.
Jika bukan karena kontrak kerjasamanya dengan Gamya, dia pasti akan langsung bersedia menikah dengan Dyan.
"Bagaimana kalau hari minggu besok kita menemui keluargaku, kau mau?" tanya Dyan tanpa menunggu jawaban Cindekia.
"A-ku tidak bisa menikah sekarang," jawab Cindekia dengan penuh menyesal.
"Mengapa? Kau menyukaiku kan." Dyan yang tadinya penuh percaya diri, jadi harap harap cemas apakah lamarannya tolak.
"A--" Cindekia menggantung kalimatnya karena ada sesuatu yang menghentikannya.
Tunggu sebentar...jika dua orang saling menyatakan perasaan, maka secara tidak langsung mereka resmi berpacaran.
Cindekia tidak ingin melanggar kontrakannya, Ia tidak memiliki uang untuk membayar denda kontrak itu.
"Tiga minggu, tiga minggu lagi aku akan menjawabnya," kata Cindekia pada akhirnya.
"Apa Kau menyukai pria itu?" selidik Dyan, "kalian terlihat sangat akrab, kau tahu Kia, sepertinya Aku mulai tidak percaya dengan ceritamu tentang bosmu yang selalu semena-mena kepadamu."
"Dia? ha.. ha.., jangan bercanda Dyan, aku tidak menyukainya, dia benar bos kejam yang menguras tenaga karyawan."
"Lalu mengapa kau meminta waktu tiga minggu?"
"I-tu karena aku terikat kontrak kerja, karyawan tidak boleh menikah selama tiga tahun dua bulan bekerja. Tiga minggu lagi, dua tahun itu akan berakhir."
"...baiklah, aku mengerti," ujar Dyan. Ia bangkit dari duduknya, "kau istirahatlah, aku pulang ya," ucapnya dengan senyum lembut.
Cindekia mengantar Dyan hingga di depan motornya.
Cindekia langsung berlari masuk ke rumahnya dan mengambil ponselnya, Ia menghubungi Lindri.
__ADS_1
"Lin liinnn,, bagaimana ini?" teriak Cindekia begitu Lindri menjawab panggilannya.
"Hey.. hey.. apaan? kenapa? cerita satu satu dong...."