
Selesai mandi, Gamya yang masih mengenakan jubah mandi mendapati istrinya tidur berbungkus selimut di sofa kamar mereka.
Dia mengangkat istrinya untuk dipindahkan ke atas tempat tidur. Setelahnya, ia membetulkan selimut yang dikenakannya.
"Aku tahu Kau pura- pura tidur," katanya, kemudian ia duduk di atas tempat tidur. Menatap lekat wanita yang dicintainya.
Cindekia yang mendengar perkataan Gamya, tidak berani membuka matanya. Ia spontan gemetar saat tangan Gamya menyentuh dahinya.
Gamya menarik kembali tangannya, dan mengurungkan niatnya untuk mengelus rambut istrinya itu. "Kia, Kau memeriksakan kandunganmu. Kau tahu bagaimana kondisimu. Tidak apa- apa Kau menganggap Aku yang menggugurkan kandunganmu, karena Aku juga akan melakukannya," kata Gamya memberi penjelasan.
Saat itu Gamya yang baru saja menerima informasi mengenai tujuan Cindekia ke rumah sakit, tiba- tiba mendapatkan telepon dari orang suruhannya yang mengawasi istrinya itu. Ia belum sempat memikirkan rencana, istrinya sudah keburu dilarikan ke rumah sakit.
"Jangan memaksaku untuk mengerti dirimu, karena Aku tidak tahu. Aku tidak ingin Kau menyiksa tubuhmu, karena Aku menyukainya. Kau milikku, tak ada seseorang pun yang boleh melukaimu, termasuk dirimu sendiri."
Cindekia membuka lebar matanya mendengar perkataan suaminya yang terdengar agak sedikit menyeramkan. Apa maksudnya? dia menyukai tubuhku? kanibal?
"Lalu, hanya Kamu yang boleh menyiksaku, begitu?" sindir Cindekia.
Gamya melirik lengan Cindekia yang masih menyisakan bekas cengkraman tangannya, "Maaf, Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu."
__ADS_1
"Saat tahu akan menjadi seorang ibu, Aku membayangkan banyak harapan," kata Cindekia dengan tatapan kosong.
harapan Aku akan memiliki keluarga yang sempurna bersamamu.
"Sayang, itu belum benar-benar bayi. dia belum bernyawa," kilah Gamya.
"Ini adalah salahku, karena telah membuatnya memiliki waktu yang singkat."
Dan salahku karena menyukaimu.
"Sweetheart, itu tidak ada hubungannya dengan yang kau lakukan ataupun yang tidak kau lakukan. Jadi itu bukan salahmu. Itu salah janinmu yang mengalami kelainan," kata Gamya yang berpikir realistis tanpa menggunakan perasaan.
Cindekia menatap serius suaminya, "Gamya apakah Kamu benar-benar tidak ingin menjadi seorang ayah?"
"Kau memanggilku dengan nama?"
"Ya, Karena Aku membencimu. Kenapa? Kamu akan kdrt lagi?"
Gamya tertawa mendengar perkataan Cindekia yang terdengar manis di telinganya.
__ADS_1
Tawa Gamya semakin membuat Cindekia mengerutkan dahinya dengan kesal. Dia tertawa?
"Sudah kukatakan Aku tidak ingin menyakitimu, jika Kau ingin memotong tanganku, Aku akan membiarkanmu melakukannya," katanya dengan mimik serius.
"Hah? Aku tidak akan melakukannya!" ucap Cindekia ngeri. Mengapa jadi merambat ke pembantaian?
Gamya mengulurkan tangannya, ia ingin mengelus pipi lembut istrinya. Tetap yang punya pipi malah bangkit dan menjauh duduk di pojokan tempat tidur.
Gamya berdecak, "Kau benar-benar membenciku sekarang?" gumamnya menatap dalam Cindekia.
"Aku akan menunggu Kau menyukaiku kembali," katanya lagi sembari beranjak pergi menuju pintu keluar kamar, meninggalkan istrinya.
Dulu ia tidak begitu peduli dengan perasaan wanita yang selalu mengganggu pikirannya. Yang penting baginya wanita itu selalu ada dalam pandangannya.
Tetapi sejak Cindekia memiliki perasaan yang sama dengannya, ia jadi lebih suka dengan sikap manis wanita yang menyukainya itu.
Ceklak! suara pintu ditutup menandakan Cindekia kini seorang diri dalam kamar yang luas, hampa, sehampa hatinya.
"Aku tidak membencimu, Aku membenci diriku karena masih sangat mencintaimu dengan gila," gumam Cindekia menatap pintu kamarnya.
__ADS_1