Boss Gila

Boss Gila
BAB 37 Cium dulu


__ADS_3

Sejak bangun tidur sampai selesai sarapan, Cindekia terus melirik ponselnya menunggu seseorang mengirimkan pesan kepadanya.


"Sepertinya Aku mulai tidak waras karena menunggu pesan masuk seperti semalam dari bos gila itu," gumam Cindekia sembari mengunci pintu rumahnya.


Tring!


Akhirnya ponselnya berbunyi, memberitahukan ada pesan masuk. Dengan cepat Cindekia membukanya.


[Gamya: Hari ini Aku tidak masuk.]


Pemberitahuan dari bosnya membuat Cindekia sedikit heran dan khawatir. Mengapa?


[Cindekia: Baik Pak, apa Bapak sakit?]


[Gamya: Iya.]


Dia sakit? Apa jangan-jangan karena makan terlalu banyak daging?! pikir Cindekia panik karena telah memaksa bosnya menghabiskan dagingnya.


[Cindekia: Apa karena terlalu banyak makan daging? maafkan Saya Pak, saya benar-benar minta maaf.]


Setelah mengirim pesan, sebuah bus yang akan menuju kantornya berhenti di depan Cindekia. Tanpa ragu Ia naik ke dalamnya. Jika masih terlalu pagi, Ia masih mendapatkan bangku kosong.


[Gamya: Apa Kau pikir permintaan maaf bisa menyelesaikan masalah?"]


Cindekia semakin panik membaca pesan baru dari bosnya, Apa dia marah? apa dia akan memberikan hukuman?

__ADS_1


[Cindekia: Tidak Pak, lalu apa yang harus Saya lakukan, Pak?]


Semoga jangan diberi hukuman yang berat-berat, doanya dalam hati.



"Ppfft ha.. ha.. ha.." tanpa sadar Cindekia tertawa lepas melihat stiker yang dikirim oleh bosnya, membuat penumpang bus lain menatapnya heran.


Bertambah lagi satu orang yang stress karena kerasnya kehidupan di negeri ini. Mungkin begitu mereka pikir.


Sakitnya sangat parah ternyata, pikirnya.


Ia terus menatap layar ponselnya dengan tersenyum malu. Dan segera mematikan layar ponselnya setelah merasa jantungnya sedikit berdebar. Apa yang aku harapkan?


"Jarimu hanya teriris sedikit saja, diplester juga sudah sembuh. Mangapa menyuruhku melanjutkan masakanmu?" gerutu Ganeeta kepada Gamya yang tengah bermain game di ponselnya.


"Berisik, Ini sangat sakit tahu."


"Sudah masak ini? sampai kapan Aku harus terus mengaduknya? padahal Kau bisa masak bubur dengan rice cooker." tanya Ganeeta kepada Gamya yang duduk di meja dapur.


"Bentar lagi," jawabnya acuh, Ia tidak perlu mengecek buburnya. Ia hanya perlu menunggu sambil bermain game.


Ia berhenti bermain dengan ponselnya setelah Ganeeta meletakkan semangkuk bubur hangat di depannya.


"Hmm... ini benar-benar enak, Aku memasaknya dengan baik,"

__ADS_1


Gamya hanya tersenyum menanggapi pujian Ganeeta untuk diri sendiri itu.


"Mengapa tiba-tiba Kau tidak pergi berkerja? Apa Kau sudah dipecat? tenang saja, kakakmu ini akan menghidupimu," kata Ganeeta sumringah setelah menelan sesendok bubur di mulutnya.


"Aku hanya bosan," jawab Gamya enteng. Suasana hatinya sedang tidak baik, karena masih tetap kalah dari Dyan.


"Ha.. ha.. Apa Kau berpikir akan memenangkan taruhanmu? dengar, Kau bisa mendapatkan lebih banyak warisan jika menjadi bagian dari Lenart," ceracau Geneeta.


Gamya meletakkan sendoknya, perkataan Ganeeta membuatnya kehilangan selera makan. "Aku membiarkanmu tinggal di rumahku bukan untuk membicarakan keluargamu," katanya kemudian, Ia serius dengan perkataannya.


Ting.. tong...


"Ada tamu yang datang?" tanya Ganeeta heran. Sudah sebulan lebih Ia tinggal di rumah Gamya. Tidak pernah ada tamu yang datang.


"Entahlah,"


"Kau tidak pergi membuka pintu?"


"Kau saja yang pergi sana, penumpang harus tahu diri," sindir Gamya.


"Cih.. " dengan malas Ganeeta pergi membukakan pagar. Ia tidak habis pikir mengapa saudaranya tidak mempekerjakan pengurus rumah, mengingat dia memiliki halaman yang lumayan luas.


Tidak lama kemudian Ganeeta kembali dan berteriak, "hoy Gamya, Kau sakit apa?!"


Langkah Gamya yang hendak masuk ke kamarnya terhanti. Ia menoleh ke arah Ganeeta yang masih berdiri di depan pintu masuk, dan terlihat Cindekia berdiri di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2