
Sebelas panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari Ganeeta begitu Cindekia mengambil ponselnya yang berada di kamar sejak tadi malam.
[Ganeeta: Apa yang Kau lakukan pada Lily?]
Membaca pesan dari Ganeeta membuat sakit kepala. Apa yang dilakukan Adi kepada Lily?
Cindekia menghubungi Adi sebelum membalas pesan Ganeeta.
Adi sebagai tersangka utama tengah berada di hadapan Gamya. Ponselnya berbunyi saat tengah menyampaikan laporan penyelidikannya.
"Jawab teleponmu!" perintah Gamya karena suara dering yang sengat berisik menganggunya membaca laporan.
Adi mengangguk dan pergi keluar dari ruangan Gamya
"Hallo,"
"Apa yang terjadi kepada Lily?" suara Cindekia terdengar bersemangat.
"Itu Saya mencukurnya karena bulunya menjadi gimbal," jawab Adi enteng.
"Begitu,"
"Nyonya tidak perlu khawatir, dia tidak apa- apa."
"Baiklah kalau begitu." Sambungan telepon Adi diputuskan oleh Cindekia.
"Apa Kau baru saja berbicara dengan istriku?" suara tanya Gamya mengagetkan Adi.
Adi segera membalikkan badannya, "Istri Anda bertanya mengenai Lily,"
"Itu saja? dia tidak bertanya tentangku?"
Adi menggeleng cepat, "Tidak."
Mengapa Kau yang mendapat telepon darinya? sementara dia tidak pernah menghubungiku saat kerja. Gerutu batin Gamya.
"Hmm...jika dia menghubungimu lagi, Kau harus segera memberikan teleponmu kepadaku," ucap Gamya tenang sembari kembali masuk ke ruangannya.
"Baik,"
Apa harus memberikan kepadanya meskipun tidak ada hubungan dengannya? batin Adi.
****
Setelah menghubungi Ganeeta untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada Lily, kepala Cindekia bertambah pusing. Terlebih bola matanya melihat garis dua di test pack yang ada di tangannya.
__ADS_1
Ia tidak tahu harus senang atau bingung. Senang karena dirinya akan mengandung bayi dalam perutnya, bingung bagaimana menyembunyikannya dari Gamya.
"Pertama harus menghindari pemeriksaan," gumam Cindekia sedikit panik sembari mengetik pesan untuk suaminya.
[Sayang, bolehkah Saya mengunjungi papa dan mami? mungkin menginap di sana selama beberapa hari.]
Tidak butuh menunggu beberapa lama, ponsel Cindekia langsung berbunyi. Gamya menghubunginya.
"Hallo,"
"Mengapa Kau tidak meneleponku, jika ada hal penting yang ingin Kau bicarakan?"
"Ah...,itu tidak begitu penting. Kamu bisa membalasnya saat sedang tidak sibuk."
"Penting tidaknya Aku yang akan memutuskannya. Mengerti?"
"Baiklah Sayang, silahkan memutuskanya," Cindekia berusaha sabar menghadapi suaminya yang sepertinya sedang pms.
"Segera menghubungiku!" perintah Gamya sebelum memutuskan sambung telepon.
Dia mematikan teleponnya?
Mengikuti perintah, Cindekia menghubungi nomor Gamya. Meskipun Ia tidak mengerti mengapa suaminya mematikan teleponnya jika masih ingat melanjutkan pembicaraan mereka.
"Hai Sayang," suara Gamya terdengar lembut di telinga Cindekia begitu panggilannya terhubung.
"Itu melanjutkan hal penting isi pesan saya yang sudah Kamu baca..."
"Kau harus mengatakannya kembali."
Cindekia menghela napas, Bukannya tadi pagi dia bilang sangat sibuk?
"Saya ingin menginap beberapa hari di rumah papa."
"Mengapa tiba- tiba?"
"Sayang, kita harus sering- sering mengunjungi orang tua," bujuk Cindekia.
"Baiklah, terserah Kau saja."
"Mark akan menjemputku." Cindekia memutuskan.
"Mengapa Mark?"
"Karena dia kan supirnya,"
__ADS_1
"Kau akan pergi denganku."
"Kamu kan pulang malam, Aku akan memasak di makan malam di sana," kilah Cindekia. Ia bermaksud ingin berbicara dengan Erlin ketika tidak ada Gamya.
"Hmm...Baiklah,"
"Ok Sayang, selamat bekerja. bye bye."
"Itu saja?"
"Kamu pasti sedang sibuk. Bye bye,"
"Tidak ada terimakasih?"
Cindekia menggaruk kepalanya yang masih pusing, "Terima Kasih suamiku, muach!"
"Ok," Gamya mematikan sambungan teleponnya dan kembali fokus dengan rapat yang tengah berlangsung.
Sementara Adi yang juga berada di dalam ruangan yang sama harus menahan tawanya. Berbeda dengan beberapa orang yang lainnya. Mereka yang tidak mengerti apa yang dikatakan Gamya hanya bisa mengambil kesimpulan bos mereka sedang mendiskusikan hal penting mengenai perusahaan mereka, karena Gamya berbicara dengan raut wajah yang sangat serius. Terlebih sampai harus menjeda rapat yang tengah berlangsung.
####
"Tante pasti akan datang saat... ha.. ha.. ha.." kata Wening tertawa bahagia kepada Norah sembari menatap kedatangan Cindekia.
"Apa kabar Mami?" Cindekia mencium tangan Wening dengan hormat.
"Sangat baik, duduklah." Wening tersenyum lembut kepada Cindekia. Ia memilih menggunakan cara halus untuk menyingkirkan Cindekia.
Norah tersenyum bersahabat menyambut kedatangan Cindekia. "Hai kita bertemu lagi."
"Hai senang bertemu denganmu lagi," Cindekia tersenyum lebih bersahabat lagi.
"Kia, Mami harap Kau jangan salah paham kepada Norah. Mami yang memintanya untuk tinggal di sana. Karena kebetulan Norah membuka klinik di sana," ungkap Wening kepada Cindekia.
"Klinik?"
"Benar, datanglah ke klinikku," sahut Norah antusias.
"Norah adalah seorang dokter spesialis bedah plastik." Wening menambahkan.
Informasi dari Wening membuat Cindekia sedikit merasa insecure. Wanita di hadapannya ternyata adalah sosok yang sempurna dibandingkan dengannya. Baik dari bentuk dan latar belakang. Sementara Ia hanyalah anak petani, dan lulusan sarjana dari perguruan tinggi tidak ternama.
Cindekia tersenyum menatap Norah, "Apakah tidak apa- apa bagimu merubah bentuk wajah orang lain? maksudku ya Kamu tahu.."
Norah juga tersenyum menatap Cindekia, "Aku tahu maksudmu. Nona Kia, Aku adalah seorang dokter, kewajibanku adalah menyembuhkan orang yang sakit. Bagiku, mereka yang tidak puas dengan dirinya adalah orang yang sakit, jadi Aku hanya ingin menyembuhkan jiwa mereka yang sakit," jawabnya dengan tenang.
__ADS_1
"Dengan cara membawa mereka ke ruang operasi?"
"Iya," jawab Norah tersenyum dengan percaya diri.