
Antara Ikhlas dan tidak Ikhlas akhirnya Cindekia terjebak hingga memasak makan malam di rumah Gamya.
"Aku akan mengantarmu," ucap Gamya kepada Cindekia yang dalam proses melakukan pemesanan taxi online di ponselnya.
Gamya yang tiba-tiba sudah sehat bugar mengambil kunci mobilnya dan menuju pintu keluar.
"Tidak usah Pak, Saya bisa naik taxi," tolak Cindekia. Ia berjalan menyusul Gamya.
Eh nggak apa apa juga sih diantar, penghematan.
Sementara Gamya mengambil mobilnya di garasi, Cindekia tersenyum senang memandang ke langit malam, penampakan yang sudah lama tidak Ia lihat. Tiba-tiba Ia merindukan kampungnya. Rumah Gamya terletak agak sedikit jauh dari perkotaan.
"Masuklah!" gamya yang sudah berdiri di sebelah mobilnya memerintah Cindekia untuk segera masuk ke dalam mobilnya.
"Wah di sini bintangnya terlihat jelas," ungkap Cindekia kagum, Ia masih ingin berlama-lama sebentar lagi. "Bapak tidak ingin melihat bintang dulu?"
"Tidak, mengapa Aku harus melihatnya kalau Aku bisa melihat matamu?"
"Mata Saya kenapa, Pak?"
__ADS_1
"Artinya, cepat masuk!"
"Ok." Cindekia bergegas berjalan menuju mobil sembari mengusap ujung matanya, mungkin saja ada belekannya.
Sepenjang perjalanan Cindekia terus menatap Gamya, otaknya sedang dalam proses berpikir. Padahal dia sedang sakit, dia begitu memaksakan dirinya di depan Ganeeta.
Cindekia tersenyum geli, Dia benar-benar lebih bagus jadi patung, kalau tidak marah-marah begini kan bagus.
Kalau sudah bagus begitu, terus benaran menjadi kekasihnya Pak Gamya, kan mantap, tiba-tiba terdengar ucapan tidak berakhlak di kepalanya Cindekia
Astaga, pikiran apa itu? Cindekia menggeleng kepalanya dan memutuskan berhenti menatap Gamya yang tengah serius mengendarai mobilnya.
"Apa yang Kau pikirkan saat menatapku begitu lama?" tanya Gamya yang sudah menyadari Cindekia terus menatap ke arahnya sejak tadi.
Gamya tersenyum menyeringai, "Apa Kau baru saja berpikiran kotor?"
"Eh, Saya tidak berpikir aneh aneh loh Pak!" elak Cindekia panik.
stay cool Cindekia, stay cool. Ia menenangkan dirinya yang ketahuan menatap bosnya.
__ADS_1
Gamya hanya menanggapinya dengan senyuman cemooh, tidak percaya. Dan tertawa kecil.
"Benaran loh Pak, sumpah." Cindekia kembali meyakinkan Gamya bahwa dirinya masih anak di bawah umur. "Saya cuman berpikir, bagaimana kalau kita berpacaran benaran... eh ups," katanya kemudian tanpa sadar, dan segera menutup mulutnya ketika sadar.
"Ok! deal," ucap Gamya singkat.
"Deal? apanya yang deal? saya hanya asal berpikir loh, anggap saja Bapak nggak dengar, saya juga berpikir itu hal yang aneh. Untuk memenangkan taruhan, tidak perlu memaksakan diri untuk berpacaran benaran kan? Saya orang yang cukup bisa diajak kerjasama, Pak," cerocos Cindekia
Gamya menghembuskan napas panjang mendengar omelan Cindekia, "Hanya dua minggu, Aku tidak melarangmu untuk tetap terus mencintai orang itu," tegasnya kemudian.
Cindekia kembali menatap Gamya dengan otaknya yang dalam proses berpikir, sementara Gamya sudah memberhentikan mobilnya di tepi jalan.
Jika tidak saling mencintai, bukan kah sama saja tetap menjadi hubungan palsu? memangnya apa yang akan berbeda?
"Kau tidak turun?" tanya Gamya menghentikan pemikiran Cindekia.
"Bapak nyuruh saya turun?" Cindekia balik bertanya, Ia tidak bisa menerima kenyataan diturunkan di tengah jalan.
"Kau tidak mau turun?" tanya Gamya bingung dan tersenyum senang, "lihatlah, Kau begitu senangnya menjadi pacarku sampai tidak ingin berpisah denganku."
__ADS_1
"Apa? siapa juga!" Cindekia panik dan malu karena lagi-lagi dituduh yang tidak-tidak. Ia bergegas turun dari mobil.
eh, sudah sampai toh? Cindekia menepuk keningnya.