Boss Gila

Boss Gila
BAB 44 Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi


__ADS_3

Saat bos tidak ada di tempat adalah waktu yang pas untuk menggosip untuk karyawan yang nggak ada kerjaan seperti Cindekia. Ia memanfaatkan momen bosnya tidak ada di tempat untuk berkumpul bersama temannya di departemen IT yang juga lagi nggak ada kerjaan. Sudah lama Ia tidak kumpul bersama dengan teman-temannya.


Ruangan IT hanya satu lantai berada di bawah ruangannya. Dua jam sebelum istirahat, Cindekia memutuskan untuk menggunakan tangga daurat daripada harus menunggu lift.


Karena terburu-buru tanpa sengaja kakinya melakukan kesalahan hingga membuatnya terjatuh.


Bruk!


Ia terperosok hingga lantai bawah tangga.


"Aduh," satu kata yang keluar dari mulut Cindekia.


Jadi lebih cepat sampai ke bawah ini, batinnya mentertawakan kesialannya.


Cindekia yang tidak sadar mengalami cidera mencoba berdiri sebelum ada yang datang melihatnya. Baginya sangat memalukan jika sampai ada yang tahu. Nasib malang bisa saja menjadi bahan pembicaraan saat waktu senggang.


Rasa sakit pada pergelangan kaki kirinya saat hendak mencoba berdiri membuatnya kembali duduk. Menyerah, Ia memutuskan menghubungi Gina untuk membantunya berjalan. Namun Ia tidak menyangka keputusan itu membawanya menjadi pasien di rumah sakit dan menjalani segala macam pemeriksaan.


Kini bukan hanya Gina yang mengetahui dirinya terjatuh dari tangga, tetapi seluruh rekannya terdahulu di departemen IT. Termasuk Pak Damar, mantan atasannya yang menjadi tersangka utama dalam kasus rawat inap Cindekia.

__ADS_1


Padahal dirinya hanya keseleo, baginya tidak perlu ditanganin oleh dokter ortopedi karena diurut sebentar dengan minyak urut juga sembuh sendiri. Ia tidak mengalami patah tulang atau retak, apalagi saraf terjepit.


Cindekia menatap sendu pergelangan kakinya yang tengah terbalut, "tunggu, Aku ikut," rengek Cindekia saat teman-temannya pamit pulang, sementara Ia terjebak di rumah sakit.


"Tidak bisa, Cindekia Kau harus istirahat!" tegas Pak Damar.


"Ya kan bisa di rumah Pak,"


"Kak, kakinya jangan digerakin dulu ya." Tiba-tiba datang perawat masuk ke kamar rawar Cindekia memberi interupsi.


Dengan hati-hati perawat itu menaikan kembali kaki Cindekia ke atas tempat tidur, dan meninggikan kakinya yang tengah diperban itu.


"Nanti kalau perlu sesuatu tekan tombol ini ya kk." Perawat itu menunjukkan tombol yang iya sematkan di semping tempat tidur Cindekia.


"Iya," Cindekia menjawab dengan kepatuhan.


Perawat itu pun ikutan menghilang di balik pintu kamar rawat Cindekia.


"Ada apa dengan mereka, mengapa jadi berlebihan.. hmm." Cindekia mengalami dejavu.

__ADS_1


Pak Gamya juga pernah langsung melarikanku ke rumah sakit hanya karena kekurangan nutrisi. Cindekia hanya bisa terbengong duduk di tempat tidur.


Ia menatap plastik berisi kotak makan siang yang dibelikan pak Damar, di atas meja overbed. Mengingatkannya akan rasa lapar. Ia melewatkan makan siang.


Sudahlah, sebaiknya makan saja. Cindekia menggeser kedepan meja overbed yang berada di samping tempat tidurnya.


Ia sudah tidak sabar untuk membedah daging ayam yang sedari tadi wanginya menggoda sanubari. Namun suara pintu kamarnya yang terbuka mengusiknya.


"Ah sepertinya Aku benar-benar lapar sampai berhalusinasi Pak Gamya ada disini," gumamnya.


"Kau tidak apa-apa?" sosok yang mirip Gamya mengeluarkan suaranya dan berjalan masuk mendekati Cindekia.


"Eh? benaran Bapak? mengapa Bapak bisa ada di sini?" Cindekia memutuskan menghentikan niat pembedahannya.


"Lihatlah, baru ditinggal sebentar Kau sudah jatuh dari tangga. Mengapa Kau tidak bisa menggunakan kakimu dengan banar?"


"Bukan kah seharusnya visitasi Bapak belum selesai?"


Gamya berhenti melakukan percakapan yang hanya saling melempar pertanyaan itu.

__ADS_1


__ADS_2