
Kesal, mulutnya mengatup rapat. Cindekia mengerutkan wajahnya, menatap tajam setajam jarum pentul ke arah Gamya.
"Bapak sengaja ya?" tuduh Cindekia.
Bukannya menjawab, Gamya malah menekan tombol pada panel sandaran tangan yang menghalangi mereka. Sesuai intruksi, perlahan sandaran tangan itu bergerak ke atas hingga sejajar dengan sandaran kursi.
Gamya bergeser mendekati Cindekia dengan bebas karena sudah tidak ada lagi penghalang di antara mereka.
"Bapak mau apa?" tanya Cindekia menciut. Ia pun mundur hingga mentok dengan pintu mobil. Kedua tangannya menahan tubuh Gamya agar jangan terlalu mendekat.
Gamya bergeming, seperti menunggu sesuatu.
Setelah mobil yang mengangkut mereka berhenti, Gamya membuka pintu di belakang Cindekia. Seketika gadis itu terjungkal ke belakang. Namun tenang, Gamya menahannya dan Cindekia segera memeluk Gamya karena takut jatuh.
"Hati- hati." bisik Gamya lembut.
"Hah?! hati- hati apanya, Bapak yang sembarangan membuka pintu!" tampik Cindekia tanpa sadar dirinya masih memeluk Gamya.
"Baby, Kau ingin kita di sini saja dengan terus seperti ini?" Gamya mempererat pelukannya dengan semangat.
Sementara Isman, supir yang tidak boleh menjadi saksi bisu kejahilan tuannya, segera keluar dari mobil karena mereka telah sampai di tujuan.
"Apanya?" Cindekia mengamankan dirinya di posisi yang pas untuk segera turun dari mobil.
Tangannya yang memeluk menjadi mendorong Gamya, dan menurunkan kakinya keluar dari mobil.
"Ini kita di rumah bapak?" tanya Cindekia yang telah berdiri melihat sekelilingnya yang tampak familiar.
Gamya tersenyum menutup pintu mobil dari luar, "Memangnya Kau mau kita ke mana? maaf Sweetie, Aku hanya memiliki satu buah rumah."
"Ya tidak kemana-mana, Yok masuk Pak!" ajak Cindekia. Mau menjawab ke rumahnya, tidak mungkin. Seingatnya rumahnya sangat berantakan.
Cindekia hanya bisa menebak-nebak tentang rumah Gamya yang hanya memiliki dua buah kamar. Halamannya saja yang luas, tetapi bangunannya kecil. Entah siapa yang merancangnya. Mungkin saat pembangunan kekurangan dana.
Apa akan tidur bentang tikar di ruang tamu? seperti dikampung saat hari raya.
Gamya mengambil alih koper Cindekia dari tangan Isman. Ia kemudian menyusul Cindekia yang telah berdiri di depan pintu masuk.
"4135667696,"
"Apa?" tanya Cindekia bingung, Gamya sedang ngoceh atau kumur-kumur.
"Passcode pintunya,"
Gamya membuka pintu rumahnya, "Kau harus mengingatnya, Hun." sarannya kemudian.
Ia mempersilahkan Cindekia masuk.
"Kodenya nggak bisa dibikin mudah Pak? acak gitu."
Gamya menanggapi celetukan Cindekia dengan senyum, "Ayo masuk, Sweetheart."
Cindekia diseret masuk oleh Gamya, karena nunggu kesadaran sendiri keburu kelamaan.
"Sepi, kedua orang tua bapak dan adik bapak di mana?"
"Di rumahnya,"
__ADS_1
"Lho langsung kembali pulang ke Negaranya?" tanya Cindekia kaget.
"Sayang, mereka memiliki rumah sendiri di sini."
"Loh jadi, kita ini berdua saja ini di sini Pak?" Cindekia kaget seperti anak perawan di sarang penyamun. Disilangkannya kedua tangannya di dada, khawatir Gamya akan bersikap macam- macam dengannya.
Melihat reaksi Cindekia yang kelihatannya masih belum sadar tentang status dirinya, membuat Gamya berpikir bagusnya anak ini diapakan.
Gamya kembali menyeret Cindekia masuk ke kamarnya, "Malam ini Kau tidur di sini, tidak ada protes. Mengerti?"
"Ok,"
Begitu Cindekia masuk ke kamar, Gamya menekan saklar lampu. Seketika cahaya lampu muncul tersebar menerangi setiap sudut kamar yang hanya terdiri dari enam sudut. Sebuah jendela besar hampir setinggi langit-langit di salah satu sisi.
Hanya ada sebuah tempat tidur ukuran super king di tengah-tengah salah satu sisi kamar. Kamar yang berbentuk segi empat berukuran 5 x 5 meter terlihat polos. Tidak ada kursi dan meja, apalagi hiasan dinding. Hanya ada air conditioner.
"Pak, ini serius isinya hanya tempat tidur doang?"
"Kamar tidur adalah tempat untuk tidur."
"Terus itu lemari buat letakin baju di mana? ganti bajunya di mana?"
Gamya menaikan sebelah alisnya, dan menyeringai, "Kau tidak sabar ingin melihatku buka baju, hmm...."
Tudingan Gamya yang lari dari jalur pemikiran Cindekia, membuat gadis itu jadi salah tingkah. Kalau diingatkan jadi mau tapi malu.
"Ah tidak ya Pak," Cindekia mengambil kopernya yang masih berada di dekat Gamya.
"Jadi koper saya letak di mana? di situ saja nih?" Cindekia menunjuk salah satu sudut ruang.
Gamya dengan senyum congkak menekan salah satu ruas dinding sebelah sisi samping tempat tidur. Ruas yang ternyata adalah sebuah pintu terdorong maju ke depan, dan siap untuk digeser ke samping.
Lampu otamatis hidup ketika pintu dibuka.
"Meskipun kita hanya beberapa hari tinggal di sini, Kau bisa menyusun pakaianmu di dalam, Hun."
"Kamar bapak keren! ada walk in closet-nya," Cindekia dengan antusias langsung membawa kopernya memasuki ruangan rahasia itu tanpa perlu diseret oleh Gamya.
"Pak, rumah yang akan dibangun nanti ada walk in closetnya juga nggak?" tanya Cindekia setelah meletakkan kopernya di sembarangan sudut begitu saja.
"Apa pun yang Kau suka," Gamya berdiri bersandar di ambang pintu.
"Bagaimana dengan basement?"
"Hmm..., boleh."
"Itu pasti keren," Cindekia melihat sekeliling, ada satu sisi lemari yang masih kosong, tetapi Ia terlalu malas untuk menyusun barang-barangnya.
"Jika Kau malas menyusun pakaianmu, akan ada orang lain yang melakukannya. Keluarlah Sweetie, Aku akan menunjukkan kamar mandi."
"Pak, tunggu dulu!" Cindekia yang masih berada di dalam ruangan, menghentikan langkah Gamya.
"Ada apa?"
"Masalah yang tadi belum selesai! Bapak sengaja ya, ingin Saya dipecat?!"
Gamya mengusap pelipisnya, dia ingat lagi.
__ADS_1
"Kita akan membicarakannya nanti setelah makan malam, apa yang ingin Kau makan?"
"Apa yang bisa dimasak?"
"Tidak ada, sepertinya kita harus pergi berbelanja dulu ke supermarket."
"Tidak mau, Bapak sengaja kan mengulur waktu, saya tahu akal bulus bapak!"
Gamya mengkerutkan dahinya, akal bulus dia bilang?
"Apa Kau suka pizza?" Gamya mengusap layar ponselnya, membuka aplikasi ojek yang merangkap antar makanan.
"Topping daging Pak, tambah pinggiran keju." Cindekia kembali dibuat lupa dengan kemarahannya.
"Oke! ada lagi?"
"Jus orange peach!"
"Oke!"
"Boleh tambah pesan sate juga, Pak?" tanya Cindekia dengan senyum malu- malu.
"Oke, Kau ingin sate apa?"
"Sate kambing,"
"Oke, ada lagi?"
"Nggak, itu aja Pak."
"Baiklah, menunggu makanannya datang, Kau ingin mandi lebih dulu?" Gamya menyimpan kembali ponselnya.
"Tidak, nanti saja, yok nonton tv, Pak di luar, kamar bapak gak ada yang bisa dilihat." Cindekia melenggang pergi melewati Gamya hendak keluar kamar.
Namun langkah Cindekia terhenti karena Gamya menarik ujung bajunya.
"Kau harus mandi dulu, Sayang."
Gamya menarik lengan Cindekia kembali ke arah walk in closet. Ia membuka ruas dinding di sebelahnya, pintu menuju kamar mandi yang didominasi warna putih.
Gamya membawa Cindekia masuk ke dalamnya. terdapat sebuah Bathtub whirlpool di salah satu sudut yang bersebelahan dengan dinding kaca satu arah. Di sudut lain terdapat bilik shower.
Gamya mengeluarkan bathrobe dari salah satu laci kabinet yang berada di sisi yang sejajar dengan pintu masuk. Ia menggantungkannya di kepala Cindekia sambil tertawa kecil.
"Mengapa itu jendelanya segede itu? ini lebih terbuka lagi daripada kamar mandi di kampung saya, Pak!"
"Baby, itu jendela satu arah."
"Ya kan tetap saja, malu langsung bisa lihat pemandangan di luar!"
Gamya menekan salah satu tombol pada panel berdiameter 5 inci yang menempel di dinding sebelah pintu masuk. Tombol pada panel itu juga terhubung secara paralel dengan panel yang berada dekat bathtub.
Seketika jendela besar yang mengganggu Cindekia berubah menjadi buram.
"Sudah? Atau Kau ingin Aku memandikanmu?"
" Hah? bapak sudah gila,"
__ADS_1
Gamya mengerutkan dahinya, mengapa mantan karyawannya sudah berani mengumpatnya. Dia bilang sudah gila?
Tanpa Gamya tahu, jauh sebelumnya Cindekia sudah sering mengumpatnya dalam hati.