
Syukurlah dia salah mengira, Cindekia lega dalam hati.
Eh tapi tunggu, dia benar-benar ingin membuatku semakin gemuk?? Harusnya dia memotivasiku untuk diet!
"Iya benar, Saya tidak bisa makan dengan banyak. Bukankah memang seharusnya Saya ini diet? Bapak tahu berat Saya sudah 57Kg lho."
"Tidak tahu, di mataku Kau semakin cantik setiap detiknya."
Ah benar, dia berniat membuatku semakin gemuk. Terus biar bisa ada alasan buat selingkuh! bisik pikiran lain di kepala Cindekia.
"Sayang, dengar!" pinta Gamya lembut namun tegas. "Apakah Kau masih belum percaya kepadaku? Mengapa Kau tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara Kau dan ibuku?" tanyanya bernada serius.
Cindekia tidak menjawab, Ia malah menyentuh rambut suaminya dan mengelus kepala yang isinya berisi akal bulus.
Ya, Aku tidak mempercayaimu. Tetapi Aku sangat mencintaimu, dan takut kehilanganmu. Kau membuatku lupa bagaimana caranya hidup sendiri.
Gamya menangkap tangan Cindekia yang menyentuh kepalanya. "Jangan mengalihkan perhatianku, Kia! Aku menunggumu bicara."
"Ah...," Cindekia terdiam tidak tahu harus berkata jujur atau berbohong.
"Ternyata Kau tidak mempercayaiku," gumam Gamya berkecil hati. "Baiklah, Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita kepadaku," katanya kemudian dan beranjak pergi.
Langkah kaki Gamya terhenti karena Cindekia menahan tubuhnya. Ia merasakan tubuh Cindekia yang bergetar memeluk punggungnya.
"Tolong biarkan Saya tetap memeluk Bapak seperti ini!" isak Cindekia saat Gamya mencoba melepaskan tangannya.
"Baby...."
"Apakah Bapak akan mempercayai semua yang Saya katakan?"
"Aku mempercaimu, karena Kau adalah istriku."
"Kalau begitu, tolong jangan ikut campur. Jika Bapak ikut campur dengan melarang Saya untuk menemui Mami, maka Mami akan semakin membenci Saya."
"Mengapa Kau peduli dengan perasaan ibuku kepadamu? Kia, Kau begitu keras kepala!" geram Gamya kesal karena Cindekia tidak mengindahkan sarannya untuk tidak menganggap serius keluarganya.
"Karena dia adalah ibu Anda!"
Anda? sekarang Kau memanggilku orang asing? batin Gamya sedikit kesal.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Babe."
"Saya juga tidak ingin bertengkar dengan Bapak."
Gamya melepaskan dengan paksa tangan Cindekia yang melingkar di pinggangnya, dan mengambil ponselnya. Ia mencoba menghubungi ibunya.
"Siapa yang Bapak coba telepon?"
Gamya menjawab Cindekia dengan kecupan dikening, dan pergi menuju pintu keluar ruang kerjanya.
"Jika itu Mami yang Bapak coba telepon, maka selamanya Saya tidak akan mau lagi berbicara dengan Bapak!" ancam Cindekia.
__ADS_1
Ancaman Cindekia membuat Gamya tidak jadi membuka pintu ruang kerjanya, namun tak membuatnya memutuskan panggilan telepon.
"Gamya?" terdengar suara Wening di ponselnya.
Gamya berbalik melihat Cindekia, dan menghela napas sebelum mulai bicara. "Hallo Mami, maaf membuatmu terkejut." katanya kemudian. Ia tidak pernah menghubungi ibunya.
".... "
"Mulai sekarang Aku akan sering berbicara dengan Mami, Aku harap Mami tidak keberatan." kata Gamya. Ia tidak tahu sedang berbicara apa, dan mau membicarakan apa.
"Ya.. Kau membuat Mami terkejut, apa ada sesuatu yang ingin Kau tanyakan?"
"Tidak ada. Aku tutup teleponnya." Gamya memutuskan panggilannya.
"Apakah Kau senang, Sweetie?" kesalnya kepada istrinya.
Cindekia mengangguk. Ia lega sekaligus senang karena suaminya mendengarkannya.
"Kemarilah!" perintah Gamya.
Dengan senang hati Cindekia mendekat kepada Gamya. Kali ini Ia ingin berinisiatif mencium suaminya terlebih dahulu sebagai ucapan terima kasih karena mendengarkannya.
Namun belum sempat Ia mendaratkan bibirnya, keningnya sudah disentil dengan keras oleh Gamya. "Aduh!" Ia meringis memegang keningnya.
"Itu sebagai hukumanmu karena telah berani mengancamku!" tegas Gamya.
Sementara itu, di kediaman Lenart, Wening tampak masih shock karena Gamya menghubunginya. Ia berpikir Cindekia pasti telah mengatakan sesuatu kepada putranya. Sesuatu yang buruk tentangnya.
****
Tawa Gamya menggema di ruang tv. Sementara Cindekia tampak cemberut melihat suaminya mentertawakannya.
"Mengapa Bapak tertawa?! menyesal Saya cerita!"
Setelah Cindekia menceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal hingga akhir, Gamya tertawa diakhir ceritanya. Cindekia tidak menceritakan tentang Norah kepada Gamya.
"Maaf, maaf...," kata Gamya mencoba untuk berhenti tertawa. "Aku jadi penasaran seperti apa kaktus yang Kau rangkai."
"Kalau Bapak penasaran, tanya saja Lara!"
"Baiklah, Aku akan bertanya kepadanya."
"Bapak serius?!"
"Aku serius menanggapi saranmu."
"Lara kan seorang wanita!"
"Aku tahu, Lalu?"
"Bapak tidak bisa berbicara dengannya!"
__ADS_1
"Aku memiliki sekretaris wanita. Aku tidak bisa tidak berbicara dengannya, bukan?" jawab Gamya enteng.
Jawaban enteng Gamya tidak ditanggapi enteng oleh Cindekia. Ia segara bangkit dari kursinya, dan pergi masuk ke kamarnya.
"Terserah! Saya tidur saja!" teriak Cindekia, tidak lupa membanting pintu kamar.
"Jika Kau manis begini, Aku jadi semakin tidak ingin pergi besok pagi," gumam Gamya menatap pintu yang dianiaya oleh Cindekia.
Ia kemudian menyusul ke kamar, dan mendapati istrinya telah dibalut selimut terbaring di atas tempat tidur.
Gamya ikut berbaring, dan memeluk Cindekia yang membelakanginya. "Mengapa selama ini, Kau mengatakan kepadaku kalau ibuku memperlakukanmu dengan baik, dan sangat memperhatikanmu?" tanyanya lembut.
"Saya tahu Bapak memiliki hubungan yang rumit dengan kedua orang tua bapak. Saya tidak ingin kehadiran Saya jadi semakin membuatnya menjadi rumit," jawab Cindekia yang masih membuka lebar matanya.
"Berbaliklah menghadap ke arahku saat berbicara!" perintah Gamya sembari melepaskan pelukannya.
Mendengar perintah suaminya, Cindekia dengan patuh membalikkan badannya.
Gamya tersenyum melihat kepatuhan istrinya. "Lalu, apakah Kau berpikir ibuku akan menyukaimu jika Kau menurut kepadanya?"
Cindekia mengangguk, "Eh tapi..tidak juga... eh Saya akhirnya memutuskan untuk membantah Mami tadi. Dan sepertinya Saya melakukan sesuatu kesalahan hingga membuat Mami mengatakan kalau... " kalimat Cindekia terhenti. Ia bingung, haruskan mengatakan kepada Gamya tentang ibu mertua yang ingin menggantinya dengan Norah?
"Lanjutkan! Aku mendengarkan."
"Berjanjilah, Bapak tidak akan melakukan apapun! Saya tahu Bapak tidak peduli dengan keluarga, karena Bapak telah terbiasa hidup tanpa keluarga dan tak ingin berkeluarga. Tapi Saya peduli! Saya ingin dianggap sebagai keluarga oleh Mami karena Saya adalah istri Bapak!"
Cindekia yang berpidato dengan menggebu-gebu menjadi terdiam membisu melihat Gamya yang bergeming menatapnya.
Mengapa dia diam saja? apa dia marah? Apakah perkataanku menyinggungnya?
"Ma.. af...." cicit Cindekia kemudian.
"Jadi itu rencanamu, sehingga Kau ingin tetap berada di sana?"
"hah?"
"Baiklah Aku tidak akan ikut campur, Aku yakin Kau bisa menanganinya dengan baik. Lanjutkan ceritamu."
"Mami mengatakan kepada Norah, kalau pernikahan kita adalah pernikahan kontrak, bukan serius. Menurut Bapak, mengapa mami berpikir begitu?"
"Siapa Norah?"
"Wanita cantik yang Bapak lihat saat menjemput saya, mami ingin Bapak menikah dengannya."
Gamya berpikir sejenak dan mencoba mengingat sesuatu, "Aku tidak lihat."
"Tidak lihat?"
Gamya menggeleng, Ia sama sekali tidak tahu dan tidak ingat tentang keberadaan wanita lain di sana.
"Ya sudah, itu bagus, sebaiknya Bapak jangan bertemu dengannya! Kalau bertemu jangan menyapanya!" tegas Cindekia.
__ADS_1