Boss Gila

Boss Gila
BAB Kemarahan yang meredup


__ADS_3

Sekitar 20 orang karyawan mengucapkan terima kasih kepada Cindekia yang telah mentraktir mereka makan premium buffet, dan pulang ke tempat peristirahatan masing-masing, hingga menyisakan 4 orang tim ALM.


"Apakah pakdir sedang ulang tahun?" tanya Heri yang saat ini perutnya sangat kenyang.


Cindekia tersenyum senang karena sudah berbagi kebaikan, ya walaupun dengan cara yang salah dan Ia tahu akan hal itu, "Tidak."


"Sampaikan ucapan terima kasih kami ke Pakdir, Kia kalau begitu sampai ketemu besok di kantor."


"Guys, apakah kalian cukup hanya dengan makan? tidak ingin bersenang-senang lagi?" tanya Cindekia kepada ke empat temannya yang merupakan tim ALM.


Tawaran Cindekia sungguh menggoda. Ke-empatnya dengan semangat menjawab, "ada lagi?"


Cindekia menggangguk mantap.


Tempat kedua untuk bersenang-senang adalah toko komputer.


"Kia, mengapa Kau tidak membeli apapun?" tanya Gina yang mulai mencurigai Cindekia, "Apa benar pakdir juga membelikan kita semua? kok aneh ya."


"Ha.. ha.. ha, tenang saja, pakdir suruh kita bersenang-senang. Bukankah shopping juga bersenang-senang?"


Lawan bicara Cindekia mengangguk membenarkan, kalimat Cindekia tidak salah.


$$$


Di kediamannya, Gamya kembali lagi mendapat notifikasi pesan di ponselnya.

__ADS_1


"169juta?" matanya membulat sempurna membaca tambahan pengeluarannya hari ini.


Sayang, Kau benar-benar melakukan kerja bagus hari ini. Gamya tersenyum simpul melanjutkan meminum air putihnya.


Begitu juga dengan Cindekia yang sudah duduk manis di bangku penumpang.


"Kelihatannya Bu Cindekia sangat senang," kata Pak Isman yang duduk mengemudi di depan Cindekia.


"Ya, sangat senang," jawab Cindekia, senyuman mengembang di wajahnya.


Namun, senyumnya menghilang ketika sudah sampai di rumahnya. Ia tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi di kemudian akibat dirinya yang melampiaskan emosi sesaatnya.


Bagaimana kalau pak bos menuntutku dengan tuduhan penggelapan dana? tiba-tiba Ia menjadi panik sendiri. Mengingat bosnya yang suka berlebihan dalam segala hal.


drrrrt...


"Ya, Pak?" Cindekia menjawab panggilan teleponnya dengan hati-hati, tiba-tiba api kemarahannya meredup. Nyalinya menciut.


"Pak Isman mengantarmu dengan selamat?" terdengan suara Gamya bernada santai.


"Ya, "


"Apakah Kau senang?"


duh, pertanyaan apa ini? Apa dia ingin menyinggung uangnya yang kukuras? Cindekia mulai merasa was-was.

__ADS_1


"Sedikit, Pak."


"Sedikit? Sweetheart, apakah karena Aku tidak ada bersamamu?"


"Pak, maaf, mau tanya dulu. Bapak tidak marah tentang uang bapak yang saya kuras?"


"Kau ingin Aku marah? Aku senang melihatmu senang. Menghabiskan uangku juga bagian dari kerja bagus."


"Ini benaran saya sedang berbicara dengan Pak Gamya?"


Cindekia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Orang yang pernah marah-marah dan memecatnya hanya kerena tidak sengaja menggunakan uangnya sebesar 4juta.


Gadis itu segera membuka aplikasi chatting dan menekan tombol video pada nomor kontak Gamya untuk memastikan kecurigaannya.


Terlihat wajah Gamya muncul di layar ponselnya, saat panggilannya terhubung.


Ah benaran Pak Gamya.


"Mengapa tiba-tiba Kau ingin melihatku? Apa Kau merindukanku," tanya Gamya dengan senyum mengembang di wajahnya.


Ada perasaan aneh yang dirasakan Cindekia dengan bosnya yang semakin hari semakin berubah menjadi baik kepadanya. Ia menjadi cemas tanpa sebab.


"Pak..., jangan jadi baik kepada Saya. Nanti Saya jadi iri dan dengki." kata Cindekia dengan wajah serius.


Eh benar nggak sih, iri dan dengki?

__ADS_1


Keduanya terdiam saling menatap layar ponsel mereka. Cindekia tidak mengerti apa yang dirasakannya. Sementara Gamya tidak mengerti maksud perkataan Cindekia.


"Kau juga harus membuatku iri dan dengki," kata Gamya pada akhirnya setelah menterjemahkan arti dari kalimat Cindekia. Ia juga tidak tahu apakah terjemahannya salah atau benar.


__ADS_2