
Taksi yang ditumpangi Cindekia telah melewati simpang yang menuju rumah kontrakkannya. Tetapi gadis itu tak menyadarinya, karena pikirannya sedang berhenti bekerja.
Ia tidak tahu harus berpikir apa dan membiarkan hatinya saja yang bekerja.
Pak supir juga tidak mengingatkan Cindekia mau turun dimana. Setelah jauh meninggalkan wilayah yang disebutkan Cindekia ketika masuk ke dalam taxinya, barulah Pak supir kembali bertanya.
"Nak, mau turun dimana?"
"Hah, turun di sini saja, Pak." ujar Cindekia sembari mengeluarkan dompet dari totebag-nya, dan segera membayar ongkos taksi sesuai argo.
Ia menatap supermarket yang ada didepannya, dan berencana pergi belanja untuk membuat suasana hatinya menjadi baik. Tanpa sadar Ia meninggalkan totebag-nya di dalam taksi
Setelah membeli banyak makanan, Ia masih merasa tidak nyaman dengan dadanya yang sedari tadi terasa sesak.
Dengan barang belanjaannya, Cindekia duduk di halte depan supermarket. Barulah Ia sadar dengan tasnya yang sudah tidak bersama dengannya entah sejak kapan ketika hendak ingin memesan taxi online.
Ia sudah tidak tahan lagi membendung air matanya yang sedari tadi meronta-ronta ingin keluar. Gadis itu tidak ingin menangis, tapi entah mengapa air matanya terus saja keluar dan dadanya terasa sangat sakit.
Aku menangisi ponsel dan kunci rumahku yang hilang. Ucapnya dalam hati.
Cindekia semakin menangis tersedu-sedu, membuat Orang-orang di sekitar halte memandangnya heran.
"Nak, mengapa Kau menangis?" tanya seorang Ibu-ibu yang merasa terenyuh dengan suara pilu Cindekia.
__ADS_1
"Tas dan hp saya hilang, Bu," kata Cindekia disela- sela tangisnya.
Sang Ibu itu pun merasa iba dengan kemalangan yang dialamai Cindekia. "Rumah kamu di mana nak? Ada ongkos buat pulang?"
Cindekia hanya menggeleng, Ia ada ongkos untuk pulang, tetapi Ia tidak ada kunci rumah untuk masuk.
Sang Ibu berpikir Cindekia tidak tahu dimana rumahnya, mungkin dia anak yang tersesat.
"Sri, coba pinjamkan dulu teleponmu," ujar si Ibu kepada putrinya yang sedari tadi berdiri di sebelahnya sedang bermain ponsel.
Sang anak pun terpaksa berhenti bermain tiktok dan menyerahkan ponselnya kepada sang Ibu.
"Nak, coba kamu telepon keluargamu untuk menjemputmu," Sang Ibu menyerahkan ponsel putrinya kepada Cindekia.
"Iya,"
Keluarganya ada dikampung, butuh waktu lima jam untuk sampai menjemputnya.
Cindekia menerima pinjaman telepon dari sang Ibu yang tidak dikenalnya. Ia bingung harus menghubungi siapa.
Lindri? tidak, tidak boleh merepotkankannya.
Yang harus direpotkan, tentu saja orang yang paling bertanggungjawab terhadap kemalangan yang menimpanya.
__ADS_1
Cindekia menekan nomor Gamya yang kebetulan Ia ingat.
tut.. tut...
Hingga sebelas kali Cindekia mencoba menghubungi, namun panggilannya tidak jua dijawab oleh Gamya.
"Gimana Nak?"
Cindekia kembali menggeleng, dan menyerah ponselnya kepada sang Ibu. "tidak diangkat juga Bu," lirihnya.
"Bagaimana ya, supir grab Ibu sudah lama juga dia nunggu," ujar sang Ibu yang sebenarnya tidak tega meninggalkan anak terlantar seperti Cindekia karena Ia juga memiliki seorang putri.
"Tidak apa-apa Bu, saya bisa pulang sendiri naik taksi," kata Cindekia yang sudah berhenti menangis.
"Ya sudah, Kami pulang dulu ya,"
"Iya, terima kasih Bu."
Sepeninggalan sang Ibu tidak dikenal, Cindekia kembali menangis. Kali ini Ia tidak mengeluarkan suara. Entah mengapa Ia ingin menangis saja.
Ia pernah kehilangan ponselnya tidak pernah menangis, sangat kekanak-kanakan menangis karena kehilangan ponsel yang bisa dibeli lagi. Kehilangan kunci rumah, bisa memanggil tukang kunci besok. Untuk malam ini Ia bisa menginap di hotel.
Cindekia meyakinkan dirinya adalah wanita dewasa yang tidak boleh menangis. Namun Ia kembali menangis karena sadar bukan itu yang membuatnya menangis.
__ADS_1