
"Sayang, bukankah Aku sudah mengatakan kepadamu untuk membawa barang- barang yang penting saja?" celetuk Gamya melihat dua koper besar milik Cindekia di kamarnya.
"Semua yang Saya bawa ini penting semua," kata Cindekia memberikan informasi. "Bapak sendiri? tidak packing- packing? Tidak ada barang penting yang mau di bawa?" tanya Cindekia menatap heran suami yang terlihat santai tanpa mengepak apapun.
Padahal besok mereka akan berangkat ke Negara di mana mereka akan menetap. Tidak tahu kapan akan kembali lagi ke negeri tercinta.
Bukannya menjawab, Gamya menarik lengan Cindekia ke dalam dekapannya, "Aku tidak bisa memasukkanmu ke dalam koper, Sweetie. Bagaimana kalau Aku membawamu seperti ini saja?" bisik Gamya di telinga istrinya.
Telinga Cindekia memerah mendengar gombalan receh suaminya. "Jadi hanya Saya hal penting yang mau Bapak bawa?"
"Umm," Gamya melepaskan Cindekia, "Jadi apa saja yang Kau bawa, Hun?" tanyanya kemudian dengan senyum lebar di wajahnya.
Cindekia dengan semangat menunjukkan isi kopernya, "Ta- da! ini satu koper isinya obat herbal biar cepat hamil," jawabnya semringah.
Salah satu tujuannya menikah adalah agar memiliki keturunan seperti teman- temannya yang lain. Kalau bisa dibuatkan akun medos untuk baby-nya nanti.
Perkataan Cindekia membuat senyum di wajah Gamya berangsur-angsur menghilang. "Itu ha yang sangat penting, tapi Kau tidak membutuhkannya, Sayang."
"Mengapa? Bapak tidak percaya dengan efektivitas dari obat herbal?"
__ADS_1
"... Tidak, yang Kau butuhkan itu hanya Aku, Love."
"Bapak benar, yang dibutuhkan untuk memiliki anak adalah suami," ucap Cindekia seperti mendapat pencerahan di saat otak sedang buntu. Matanya berbinar- binar menembakkan panah cinta ke arah Gamya.
"Auch!!" pekik Gamya memegang dadanya yang tertancap panah asmara. "Aku takut akan menemui dokter jantung, jika Kau terlalu sering menatapku seperti itu, Sayang." gurau Gamya.
Siapapun tidak akan menyangka makhluk dingin seperti Gamya bisa bercanda mesra. Apalagi orang-orang yang bekerja kepadanya.
Ada mantan teman sejawat Cindekia yang mengkhawatirkan nasib Cindekia dinikahi Bos tak berakhlak yang diragukan kenormalannya.
Cindekia mengalungkan lengannya di leher suaminya, dan mengerlingkan matanya, "Suamiku sayang, jangan khawatir istrimu ini akan menjadi dokter jantung pribadimu," kecupan mesra mendarat di pipi kanan Gamya.
"Kryuukkk!" tiba- tiba terdengar suara dari perut Cindekia saat Gamya hendak membuka pintu kamar mandi.
"Saya kehabisan bensin Pak," tawa Cindekia menutupi rasa malunya. Karena sibuk berbenah mengemas koper Ia hanya makan sedikit pagi tadi.
"Sepertinya kita harus memesan makanan, Apa yang ingin Kau makan, Sweetheart?"
"No, no. Masak sendiri saja!"
__ADS_1
"Aku akan memasak," Gamya menurunkan Cindekia dari gendongannya dan beranjak pergi menuju pintu keluar.
"Mengapa Bapak suka sekali merebut job desc saya?" Pertanyaan Cindekia menghentikan langkah Gamya.
Merebut dia bilang?
"Lupakan saja tentang tugas memasakmu, Baby."
Gamya menyukai semua yang dilakukan Cindekia untuknya. Namun belakangan Ia menyadari tugas memasak membuat Cindekia dan dirinya juga mengalami kesusahan. Lambungnya seringkali protes menolak menerima masakan istrinya.
"Mengapa? masakan saya tidak enak? jangan- jangan selama ini Bapak menghabiskan masakan saya dalam keadaan terpaksa, Saya memang istri yang nggak berguna ya Pak?" ucap Cindekia memperlihatkan wajah sendunya.
"Aku tahu Kau tidak suka memasak, dan Aku juga tidak suka memaksamu."
Hah? ketahuan ya? batin Cindekia.
"Darimana Bapak tahu Saya tidak suka memasak?" desak Cindekia berjalan mendekati Gamya.
Gamya jadi bingung harus menjawab apa, seharusnya kubiarkan saja dia melakukan tugas memasaknya.
__ADS_1