
"Weißt du, wie man pepes Fisch macht? Ich mag pepes Fisch," Gamya berbicara dengan ponselnya menggunakan bahasa asing. Ia berdiri menatap ke arah luar jendela ruangannya.
Setelah memelalui perjalanan karir yang lumayan panjang, Ia diberi kepercayaan untuk mengatur anak perusahaan distribusi yang khusus mendistribusikan alat kesehatan. Sebagian besar mitra perusahaannya adalah perusahaan Jerman. Mereka banyak mendistribusikan produk buatan Jerman.
Tok! tok!
Pintu ruangannya terbuka, matanya mengekori Cindekia yang membawakannya secangkir teh dan camilan. Ia tersenyum senang melihat Cindekia yang ternyata penuh perhatian kepadanya.
Duh! lengan bajunya masih tergulung begitu, orang ini jadi semakin ganteng saja. Cindekia sedikit terkesima melihat siluet Gamya yang disinari cahaya matahari dari jendela besar di belakangnya.
"Thank you," ucap Gamya tanpa mengeluarkan suara kepada Cindekia setelah gadis itu meletakkan barang bawaannya di meja kerja.
hah? tumben dia bilang terima kasih sambil senyum gitu, apa pembicaraan bisnisnya berjalan lancar?
Cindekia menatap Gamya penasaran apa yang sedang dibicarakan bosnya sampai membuatnya sesenang itu.
Gamya berjalan menuju mejanya, Ia ingin melihat wajah Cindekia lebih jelas, yang kini juga tengah menatapnya.
"Übersetz nicht, was ich sagte, ich weiß nicht, was ich sagte," Gamya berdiri di sebelah mejanya, Ia kembali tersenyum lembut selembut permen kapas kepada Cindekia. Tatapan mata mereka saling beradu.
__ADS_1
Jarak mereka cukup dekat, Cindekia memandang kagum dengan kefasihan Gamya berbahasa asing.
"Ich sagte einfach alles, was mir in den Sinn kam." Gamya mengakhiri sambungan teleponnya, tatapannya masih tidak lepas dari Cindekia yang membulatkan matanya.
"Kau ingin berdiri di sini sampai kapan?" Ucap Gamya kepada Cindekia, Ia kembali menjadi bos berwajah datar.
"Hah?!" Cindekia tersadar dengan kelakuannya. "Ah maaf, Pak!" Dengan panik dan malu, Cindekia berlari keluar.
blam!
"Dia semakin terlihat manis saja," gumam Gamya menatap resah pintu keluar ruangan yang telah ditutup oleh Cindekia. Hampir saja Aku menciumnya.
Sementara itu, Cindekia yang keluar dari ruangan Gamya segera duduk di ruangannya, dan menepuk-nepuk keningnya. "Ada apa denganmu Cindekia?" rutuknya pada diri sendiri karena telah gagal menjaga pandangan. "Kayaknya harus cepatan nikah nih," gumamnya kemudian.
Ia melihat kelender mejanya yang banyak diberi tanda silang. 17 hari lagi. Kontraknya akan berakhir 17 hari lagi. "Apakah Aku akan menikah dengan Dyan?" lirihnya.
"Gamya ada di ruangannya?" terdengar suara yang tak asing mengagetkan Cindekia.
"Iya_"
__ADS_1
Orang itu adalah Rudi yang dikenal Cindekia sebagai temannya Gamya.
Tanpa menunggu Cindekia menghubungi Gamya, Rudi langsung masuk ke ruangan bosnya.
Mengapa bapak ini, bisa berkeliaran sampai sini? apa dia juga bekerja disini?
Sebagai pegawai yang kurang pergaulan, Cindekia bahkan kurang begitu mengenal para petinggi perusahaannya.
Tak ingin disalahkan karena membiarkan Rudi masuk begitu saja, Cindekia mengikuti pria itu.
Terakhir kali, Cindekia mengingat kedatangan Rudi tidak disambut ramah oleh Gamya.
"Hallo Abang ipar!" seru Rudi, Ia duduk dengan nyaman bersandar di kursi depan meja Gamya.
Oh jadi dia adik iparnya pak Gamya, Cindekia yang tengah berdiri di depan pintu pun mundur dengan teratur keluar dari ruangan Gamya dan menutup pintunya.
"Enyahlah,"
Rudi telah lama mengenal Gamya, Ia menganggap kata kasar dari sahabatnya itu hanya angin lalu.
__ADS_1
"Tidak bisakah Kau membantuku Abang ipar? Aku serius menginginkan perjodohan kami," ceracau Rudi sembari mengedipkan matanya.