
"Mengapa Kau berpikir Aku akan meracunimu?" tawa Gamya, "Hasil lab mu baik- baik saja. Karena Kudengar Kau kurang sehat, Aku memintamu untuk mengkonsumsi vitamin," terang Gamya dan mengecup kening istrinya.
"Kamu tidak marah? karena Saya telah berburuk sangka?"
"Aku hanya kecewa kepadamu yang berpikir seperti itu kepadaku."
"Jadi marah atau tidak?" tekan Cindekia.
Gamya mengusap kepala istrinya. "Tidak! terima kasih sudah berterus terang kepadaku. Tersenyumlah Babe."
"Lagi tidak mood senyum,"
Mengapa Kau berpikir Aku akan meracunimu? dan mengapa Kau berubah pikiran untuk mengakuinya?
"Kia, apakah Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Gamya bernada serius, dan menajamkan matanya.
"Tidak, tidak ada," jawab Cindekia berusaha tenang.
Gamya mengecup puncak kepala Cindekia. "Bagus, jangan menyembunyikan apapun dariku. Itu adalah perintah. Sepertinya, lain kali Aku harus menambahkan kata perintah agar Kau mematuhiku untuk meminum vitaminmu."
"Kita tidak menulis sanksi pelanggaran, bagaimana jika melanggar kontrak nikah?"
"Aku tidak menulisnya karena Aku tidak ingin melanggar perjanjian. Apakah Kau berencana ingin melanggar kontrak nikah kita?"
"Tidak, sama sekali tidak!" tegas Cindekia.
"Lalu mengapa Kau bertanya?" Gamya menyeringai memainkan rambut istri yang berada di dalam dekapannya.
"Apa tidak boleh bertanya?!"
"Yang perlu Kau ingat adalah, Kau harus mematuhi perintahku, Sayang."
"Ya kan, Anda adalah bos nya!"
"Benar, Kau kan bekerja padaku, jadi Kau harus loyal kepada atasanmu," tawa Gamya. Dia mengira Istrinya sedang dalam mode sensitif karena efek hormon serotoninnya menurun, jadi memaklumi jawaban ketus istrinya.
__ADS_1
drrrt... drrrt...
Dering ponsel Cindekia membuatnya mendorong suaminya, dan bergegas pergi mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
"Hallo?"
"..... "
"Baik Kak," Cindekia mematikan sambung taleponnya, dan menoleh ke arah Gamya yang terlihat cemberut berpangku tangan menatap ke arahnya. "Kak Ganeeta datang berkunjung ke rumah kita," ucapnya memberi informasi, dengan wajah tidak berdosa.
****
Ganeet tersenyum, duduk manis di sofa ruang tamu. Beraneka ragam kudapan tersaji di atas meja.
"Mengapa Kau ada di sini?" sinis Gamya kepada Ganeeta.
"Kedatanganku kemari bukan untuk bertemu denganmu. Jika Kau tidak suka, silahkan menyingkir dari sini." Ganeeta tidak kalah sinis.
"Meong!"
"Dan mengapa ada makhluk berbulu itu di sini?!" Gamya menunjuk seekor kucing yang sedang dikeluarkan Cindekia dari pet cargo.
"Tidak bisa!"
"Aku tidak menitipkannya kepadamu! Aku menitipkannya kepada Kia."
"Aku tidak mengijinkan makhluk itu ada di rumahku!"
"Kia sudah setuju akan memelihara kucingku."
Gamya menoleh ke arah Cindekia yang sedang menggendong kucing berbulu abu- abu. Ia menuntut jawaban Cindekia yang sedari tadi hanya diam saja.
"Sayang, kucingnya lucu," jawab Cindekia setengah tertawa.
"Itu benar, Lily memang lucu dan penurut," Ganeeta menimpali.
__ADS_1
Gamya menggaruk pelipisnya melihat kedua wanita di hadapannya bergantian, "Kau bisa menitipkan kucingmu di penitipan hewan."
"Katanya banyak kucing yang mati dititipkan di penitipan, kasian Lily.., " lirih Cindekia.
"Itu benar, bagaimana jika nanti Lily stress dan mogok makan?" timpal Ganeeta.
"Itu bukan urusanku!" tegas Gamya sembari mendorong Ganeeta ke balkon.
"Sejak kapan Kau memelihara kucing?" tanya Gamya setelah menutup pintu balkon.
Cindekia yang melihat kedua kakak beradik itu dari balik pintu kaca, hanya tidak bisa menebak apa yang tengah mereka bicarakan.
"Sejak dua hari lalu, Aku lupa kalau harus pergi ke Cyprus besok. Istrimu yang menawarkan akan menjaga Lily," jawab Ganeeta enteng.
Gamya tersenyum melihat Cindekia yang juga tersenyum ke arahnya. "Gane, Kau tahu Aku alergi makhluk berbulu," ucapnya dingin kepada Ganeeta.
"Aku sudah memberitahu istrimu, dia bilang Kau tidak akan mati hanya karena alergi dengan bulu, tetapi Lily mungkin akan mati jika berada di penitipan hewan," kata Ganeeta berbohong.
"Sepertinya istrimu lebih mengkhawatirkan Lily hahaha...," ledeknya kemudian.
Gamya menatap tajam saudaranya, mengapa jadi ikut- ikutan ibunya yang ingin menjatuhkan istrinya.
"Kau tidak percaya padaku?" Ganeeta balik manatap tajam Gamya.
Gamya sangat mempercayai Cindekia yang sangat perhatian kepadanya, tidak akan mungkin membahayakan dirinya.
"Pergilah dengan damai!" seru Gamya datar dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Hei, Aku datang membawa kedamaian!" teriak Ganeeta sembari mengikuti Gamya.
Gamya tidak memperdulikan Ganeeta yang sudah bersekutu dengan ibunya. Ia menghampiri Cindekia yang tentunya menjaga jarak.
"Baby, Kau tidak akan membiarkan makhluk itu berkeliaran di rumah kita kan?"
"Tenang saja Sayang, Lily tidak akan pup sembarangan, Saya sudah sediakan kotak pasir tuh di sana!" Cindekia menujuk ke arah kotak pasir di depan pintu ruang binatu.
__ADS_1
Sejak kapan dia meletakkan kotak pasir itu di sana?
Gamya mendorong Cindekia berserta Lily ke balkon. "Tetaplah di sini Honey!" seru Gamya mengunci pintu. Mengurung keduanya di balkon.