Boss Gila

Boss Gila
87 Iya sama sama


__ADS_3

Cindekia mengayunkan tangannya, bersiap untuk menjitak kepala Gamya. Mumpung masih tidur, kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.


Namun, tangannya terhenti saat hendak mendarat di jidat Gamya.


Disentil sajalah!


Cindekia memasang jari telunjuk dan jempolnya, siap untuk menyentil jidat suaminya.


Namun, telunjuknya dihentikan oleh tatapan Gamya yang tiba-tiba membuka matanya.


Hah? Dia bangun pulak


"Selamat Pagi, Pak." Cindekia terpaksa tersenyum sembari mengusap- usap jidat Gamya.


Gamya mengambil tangan yang menyentuh keningnya dan kemudian bangkit. Segera Ia menjatuhkan Cindekia hingga berada di bawahnya.


Apa? dia mau apa, morning kiss? Ingat belum sikat gigi dan cuci muka, Cindekia segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tidurmu nyenyak, Hun?" Suara lembut bernada rendah masuk ke telinga Cindekia. Ia tidak berniat menyingkirkan tangannya dari wajahnya.


"Ya Ya sangat nyenyak. Pak, Bapak ini mau apa? mau sok sok romantis dengan morning kiss? Saya nggak mau lho!"


"Kau tidak mau, kalau sampai tidak jadi?" tawa Gamya. Ia menyingkir dari Cindekia, dan berguling berpindah posisi untuk menghidupkan lampu utama kamar. Kebetulan saklar lampu kamar ada di sebelah Cindekia.


Cindekia mengangkat tangan yang menutupi sebagian wajahnya demi melihat kamar yang sudah terang benderang.


"Aku hanya ingin menghidupkan lampu, Babe," papar Gamya.


"Oh, terima kasih!" teriak Cindekia bergegas ke kamar mandi.


Benar- benar memalukan!


...π π π...


Cindekia duduk di kursi meja makan memperhatikan suaminya memasak sarapan mereka.


Meski Gamya telah resmi kembali menjadi Bosnya, tetap saja Ia membiarkan Gamya menyabotase pekerjaan memasaknya.


Dagunya bertumpu pada kedua telapak tangannya, dan kedua sikunya bertumpu pada meja.


"Pak, mengenai orang tua saya, apakah pak Isman yang menjemput mereka?"


"Tidak, Aku mengutus orang lain."


"Utusan?" Cindekia tertawa kecil. "Bapak punya utusan?"


"Sayang, kemarilah."

__ADS_1


Cindekia dengan senyum semangat beranjak dari duduknya dan mendekati Gamya, "Apa yang bisa saya bantu, Pak?" tawarnya sebagai asisten yang rajin.


Tanpa bicara, tangan kanan Gamya langsung merangkul pinggang Cindekia, membawanya lebih mendekat. Dan tangan kirinya mendorong tengkuk Cindekia agar semakin mendekat untuk bisa dicium.


Cindekia tersentak kaget, namun Gamya semakin memperdalam ciumannya.


Melihat Gamya yang menutup matanya, membuat Cindekia ikut- ikutan menutup mata. Alhasil dirinya semakin mempermudah Gamya untuk mengeksplor dirinya.


Cindekia menggenggam erat ujung kaos yang dikenakan Gamya, dan berakhir mencubit pinggang, hingga membuat Gamya melepas dirinya.


"Ada apa? Baby?"


Cindekia melotot kesal, "Mengapa Bapak tiba-tiba mencium saya tanpa permisi? meskipun sudah sah menjadi istri bapak, tetap saja itu melanggar hak asasi!"


Yang dipelototi balas tersenyum, "Baik, lain kali Aku akan permisi dulu," ucap Gamya.


Ia kembali memperbesar api yang sedang mentransfer energi panas pada panci sup ikan yang tengah dimasaknya.


"Kupikir Aku tidak perlu meminta ijin untuk menciummu, semalam Kau terlihat begitu menikmatinya, saat Aku mencium setiap inci... hmmp."


Cindekia menutup mulut Gamya yang terlalu banyak bacot akan merunutkan kejadian semalam.


Gamya melepaskan tangan yang menutup mulutnya agar bisa lanjut bicara, "dan barusan juga Kau seperti menyukainya," ledeknya kemudian.


Seketika kedua pipi Cindekia memerah karena malu, "Tidak tuh! itu ikan bapak nanti gosong!"


"Drrttt... " Dering ponsel menyelamatkan Cindekia dari situasi tersudut. "Mami nelpon, bentar Pak!"


"Pak, Mami suruh Saya besok pergi fitting baju." beber Cindekia memberi informasi kepada Gamya yang duduk di kursi meja makan menyantap sarapan.


"Hmm..."


"Seharusnya nggak fitting baju adat pun kan nggak apa- apa ya kan, Pak? Badan Saya kan ideal, pas dengan ukuran M, buktinya baju kebaya nikah kemarin pas di badan saya tuh." gerutu Cindekia.


"Uhuk.. uhuk..." Gamya tersedak nasi yang baru saja melewati kerongkongannya.


Sebenarnya bukan karena badan Cindekia yang ideal sesuai dengan ukuran M, tetapi Gamya melakukan pengukuran menyeluruh saat Cindekia tertidur di kamarnya waktu itu. Tentunya bukan hanya mengukur yang dilakukan Gamya.


Dengan cekatan Cindekia beranjak, mengusap- usap dan memukul- mukul punggung Gamya, "Bapak tidak apa- apa? minum yang banyak Pak,"


Cindekia mengambil tempat, duduk di sebelah Gamya setelah Gamya berhenti terbatuk- batuk. "Makan itu pelan- pelan Pak, nggak usah terburu-buru."


"Terima kasih atas sarannya, Hun."


"Iya, Pak. Sama- sama."


Gamya melanjutkan menghabiskan nasi yang bertemankan sup ikan, dan Cindekia ikut menyantap sarapan yang telah disediakan Gamya untuknya.

__ADS_1


Cindekia makan dengan cepat dan lahap seperti diburu sesuatu.


"Pak, Bapak takut Saya hamil waktu resepsi ya? makanya Bapak pakai pengaman." tanya Cindekia blak- blakkan tiba-tiba.


Gamya langsung meneguk air minumnya, takut tersedak lagi.


"Sayang," Gamya menoleh ke arah Cindekia yang duduk di sebelahnya.


"Iya, Pak?" Cindekia melihat gelas kosong yang dipegang Gamya, "Oh, bentar Pak." ucapnya kemudian mengambil gelas kosong itu dan membawanya menuju dispenser untuk mengisi ulang air hangat suaminya.


Gamya yang memanggilnya tidak untuk itu, hanya diam melihat Cindekia.


"Ini, Pak." Cindekia meletakkan kembali gelas Gamya yang telah di isi ulang.


"Terima Kasih," ucap Gamya tidak jadi mengatakan apa yang ingin dikatakannya. Ia melanjutkan menghabiskan makanannya yang masih tersisa.


Sementara Cindekia tak lagi menganggu Gamya dengan pertanyaan. Takut tidak siap- siap pula suaminya makan.


Setelah Gamya selesai menghabiskan sarapannya, dengan sigap Cindekia membereskan peralatan bekas makan untuk di cuci di atas bak cuci piring. Ia harus melaksanakan tugasnya dengan baik.


Dapur Gamya dilengkapi dengan mesin pencuci piring, namun sepertinya hanya untuk pajangan saja karena tidak dipakai sebagaimana fungsinya.


Cindekia bolak balik terkena cipratan air keran, bukan karena Ia juga tidak handal mencuci piring. Ia hanya grogi diliatin pria yang semakin hari semakin ganteng saja di matanya.


Dirinya menjadi semakin grogi saat sepasang tangan merangkul bahunya dari belakang, dan sesuatu bertumpu di atas kepalanya.


"Pak, ini kepala bapak di atas kepala saya, barat lho!" tegurnya tidak terima.


Yang diprotes malah tertawa senang, Ia melonggarkan rangkulannya dan memindahkan kepalanya ke bahu Cindekia. Keningnya bertumpu di salah satu bahu.


"Hun, terima kasih sudah menjadi istriku,"


Cindekia berhenti membasuh piring. Bukan karena terkesima dengan ucapan terima kasih Gamya, tetapi karena tangannya tidak bisa bebas bergerak karena rangkulan Gamya.


"Iya Pak, sama- sama."


"Love you, Hun."


"Iya Pak, sama- sama." ulang Cindekia. "Janji jangan jelalatan lagi, ya Pak."


Jawaban Cindekia kembali membuat Gamya tertawa, kapan Aku pernah jelalatan?


"Sudah selesai Bapak peluknya? Saya mau cuci piring lho ini." Cindekia mangangkat kedua bahunya. Berharap Gamya melepaskannya.


"Sayang, kapan Aku jelalatan? Aku hanya ingin hidup berdua saja denganmu." Gamya memindahkan tangannya ke perut Cindekia.


Ia menganggkat kepalanya dan mensejajarkannya dengan kepala Cindekia. Melihat apa yang tengan dicuci istrinya.

__ADS_1


Gamya menempel padanya sudah membuatnya berdebar, mendengar omongan Gamya yang diartikannya suaminya tidak akan berselingkuh dengan wanita atau pria lain, membuat suasana hatinya berbunga-bunga.


Sementara maksud suaminya adalah Ia benar- benar ingin hidup berdua saja dengan Cindekia. Pria itu tidak berniat memiliki anak.


__ADS_2