
Cindekia menatap tajam Gamya yang terlihat masih berpikir keras, Ia juga bingung dengan apa yang dipertanyakan bosnya itu, "Saya tidak melakukan apa apa! Bapak saja tuh yang tiba-tiba mencium saya!" serunya kemudian.
Penjelasan Cindekia membuat Gamya berhenti berpikir keras mengulang kembali ingatannya, "ci-cium?"
Gamya menepikan mobilnya, dan berhenti demi melihat Cindekia lebih jelas. "Maksud dari merenggut kesucian itu menciummu?" tanya Gamya memastikan.
Cindekia mengangguk malu, Ia sebenarnya agak tabu dan canggung membicarakan hal-hal seperti itu.
Gamya menggaruk pelipisnya tak percaya dirinya sudah berpikir terlalu jauh.
"Astaga, ternyata bukan serius," Ia tertawa lega karena ternyata Cindekia hanya sedang membuat lelucon dengannya.
Perkataan dan tawa Gamya membuat Cindekia tersenyum getir, bagi Gamya hal itu bukan hal yang serius, tetapi baginya itu adalah hal yang serius.
"Tetapi...," Gamya menjeda kalimatnya, "sepertinya aku tidak menciummu, yang kulakukan itu kan hanya kecupan," lanjutnya meralat istilah yang digunakan Cindekia.
"Apapun namanya, jangan melakukannya! Mengapa di dalam kontrak tidak ada larangan Bapak tidak boleh melakukan kontak fisik kepada saya?!" Cindekia akhirnya memberanikan diri untuk protes karena Gamya menganggap sepele prinsip hidupnya.
"Nona Kia seharusnya kau membaca kontraknya sebelum membubuhkan tanda tanganmu," ujar Gamya tersenyum licik.
Cindekia kembali murung, meratapi kebodohannya.
"Baiklah, aku akan berusaha untuk tidak melakukan kontak fisik kepadamu, ok?" katanya mencoba mengurangi kesedihan Cindekia.
"Iya, jangan melakukan hal yang sering Bapak lakukan sebelumnya dengan pacar bapak kepada saya," balas Cindekia mengajukan syarat tambahan tidak tertulis tentang kontrak kerjasama mereka.
Gamya terkekeh mendengar perkataan Cindekia, "Aku tidak melakukannya denganmu Nona Kia," jelasnya setelah berhenti tertawa. "Biasanya aku membawa pacarku ke hotel," kata Gamya bernada serius.
hah? apa? barusan dia bilang apa? hotel?
Cindekia tergelak kaku, ia meraba handle pintu mobil sembari tatapannya tetap mengawasi gerak- gerik Gamya. Ia memutuskan untuk segera kabur.
Setelah keluar dari mobil Gamya, ia segera memberhentikan angkot apa saja yang tidak sengaja lewat di depannya.
Tinggallah Gamya seorang diri di mobilnya, ia terdiam menatap Cindekia yang tiba-tiba melarikan diri.
"Ha.. ha.. ha," Gamya tak kuasa menahan tawanya. "Apa leluconku sedikit keterlaluan?" gumamnya bingung.
Wah dia langsung percaya begitu saja, dan kabur, Gamya melirik ke arah ponselnya Cindekia yang sedang mengisi daya baterai di mobilnya,
Dia meninggalkan ponselnya... dan juga kopernya.
__ADS_1
Gamya kembali menjalankan mobilnya. Ia masih tersenyum geli dengan lelucon yang dibuat Cindekia tentang kesucian.
Tunggu... apa jangan-jangan dia memang belum pernah melakukan kontak fisik dengan pria? Pikiran lain berbisik kepada Gamya.
Gamya merasakan debaran di jantungnya, dia tidak sedang membuat lelucon?
Telapak tangan kirinya menutup mulutnya untuk mengurangi kekagetannya. Ada perasaan bersalah, dan sebagian dirinya yang lain merasa senang karena dirinya benar-benar merenggut kesucian gadis yang baru saja melarikan diri dari mobilnya.
***
Setelah memastikan sudah berada cukup jauh dari tempatnya kabur, Cindekia memberhentikan angkot yang Ia naiki di depan sebuah halte.
Ia tidak tahu di mana dirinya berada, tetapi bukan masalah selama memiliki ponsel. Di jaman sekarang ini, ponsel lebih esensial daripada membawa duit ke mana-mana.
Cindekia menelusuri isi dalam tasnya untuk mendapatkan ponselnya. Ia ingin memesan taxi online.
tidak ada?
Tin!
Mobil hitam yang tadi mengangkutnya dari bandara kini telah tiba di depannya. Kaca jendela pintu depan bergerak turun kebawah, sebuah tangan yang memegang benda berbentuk persegi panjang berwarna hitam menjulur keluar.
Sadar benda itu adalah ponselnya, Cindekia menghampiri mobil yang diyakini dikemudikan oleh Gamya.
Yang benar saja, bagaimana bisa menjadi gelandangan di negeri sendiri...,
Bayangan dirinya mengenakan pakaian lusuh duduk dengan tatapan kosong di tepi jalan tiba-tiba muncul di benaknya. Cindekia akhirnya memutuskan segera masuk ke mobil. Meskipun bosnya juga agak sedikit gila, setidaknya Ia bisa sampai di rumah dalam keadaan sehat walafiat.
"Jalan Pak," ucap Cindekia dari bangku belakang.
Seperti supir taxi online sungguhan, Gamya menjalankan mobilnya. Tak lupa Ia menyerahkan ponselnya Cindekia, tanpa menoleh ke belakang.
Hening, tidak ada yang berbicara di sepanjang perjalanan. Hanya terdengar suara wanita yang menuntun arah jalan.
Cindekia berpikir tidak perlu menunjukkan arah rumahnya, karena GPS navigasi mobil gamya yang tahu. Jadi Ia memutuskan untuk berdiam diri duduk di bangku belakang.
Sementara Gamya masih diliputi perasaan canggung dengan Cindekia. Ia tidak ketat seperti Cindekia. Ia menyalurkan rasa sukanya dengan cara yang berbeda, semua wanita yang pernah bersamanya menyukai apa yang mereka lakukan.
Kecuali yang satu itu, Ia masih perjaka.
Setelah dua jam perjalanan, mereka tiba di depan rumah kontrakan Cindekia.
__ADS_1
Jarak bandara tidak begitu jauh, hanya saja jalan menuju kontrakannya agak sedikit mengalami kemacetan.
Tanpa bicara Gamya membantu Cindekia menurunkan kopernya dan bergegas pergi membawa mobilnya meninggalkan kediaman Cindekia.
Nelangsa, melihat sikap Gamya yang tiba-tiba bersikap dingin. Cindekia menyeret kopernya menuju rumahnya.
Ia lebih merana lagi membayangkan besok pagi. Postingan keberangkatan liburannya di media sosialnya masih dibanjiri komentar, namun orangnya sedang tidur di rumahnya sekarang.
****
Cindekia memutuskan untuk menghabiskan waktu kerjanya duduk santai di ruang istirahat kantor.
Semua laporan Ia kirimkan melalui surel kepada Gamya. Tidak ada jadwal rapat selama beberapa hari kedepan, karena Ia sudah mensterilkannya. Berpikir mereka akan liburan seminggu.
Jika ada tamu yang ingin menemui bosnya, Ia sudah mengkonfirmasi bagian resepsionis agar menerima semuanya.
Masalah keperluan Gamya yang lain, bosnya sudah besar, sudah bisa mengurus diri sendiri. Begitulah pikiran Cindekia.
Sesekali Ia ingin menjadi karyawan yang nakal. Bukan hanya bos yang bisa bersikap arogan. Tampaknya gadis itu masih kesal mengingat harapannya berlibur pupus. Padahal Ia sudah mengambil cuti.
Cindekia menatap pilu layar ponselnya, seperti biasa terkadang butuh waktu lama Dyan membalas pesannya. Dari sebelum pergi mengunjungi orang tua Gamya hingga saat ini, Ia belum mendapat balasan dari Dyan. Pria yang selalu mengaku sibuk.
Apakah setelah menikah akan tetap seperti ini? Ah tetapi jika sudah menikah, bukankah kami akan bertemu setiap hari.
Senyum menghiasi wajah Cindekia yang memerah. Ia larut dalam khayalan menjadi istrinya Dyan, pak dosen yang super sibuk seperti mengalahkan presiden saja.
Takut dikira mengalami gangguan jiwa karena senyum-senyum sendiri, Cindekia membenamkan wajahnya di atas meja. Pura-pura tidur.
"Tampaknya Linda yang akan mentraktir nonton minggu besok nih!" terdengar samar seseorang berbicara.
bluk! bluk!
Seorang wanita yang diduga bernama Linda menuangkan air panas ke dalam cangkirnya, Ia sedang menuangkan kopi.
"Ok! ok, aku mengaku kalah," katanya bernada antara kecewa karena harus keluar duit kalah taruhan, dan senang karena dugaannya salah.
"Tunangannya saja sangat cantik, ck ck bagaimana bisa Kau berpikir dia akan berselingkuh dengan sekretarisnya?"
Cindekia tersentak dari lamunannya mendengar pembicaraan para wanita yang tidak dikenalnya, tanpa mengangkat wajahnya, Ia terus mencuri dengar.
"Kau tidak tahu, wanita itu kabarnya dari bagian IT terkenal juga sebagai wanita penggoda."
__ADS_1
sekretaris? bagian IT? apa itu aku yang sedang dibicarakan?
Mengingat Cindekia adalah seorang sekretaris, dan dulunya Ia karyawan yang berkerja di departemen Informasi dan teknologi.