Boss Gila

Boss Gila
Obat yang mencurigakan


__ADS_3

Karena takut bisa kualat jika suka membuat banyak alasan mangkir, keesokan paginya Cindekia ikut sarapan bersama dengan kedua mertuanya. Ketiganya makan dengan tenang tanpa mengeluarkan suara.


"Have you set up a gynecologist appointment, Honey?" tanya Lenart buka suara setelah menyelesaikan sarapannya.


(*Udahnya Kau janji konsul sama dokter kandungan?)


Sudah sebulan lebih putranya menikah, Ia tidak sabar ingin mendengar kabar baik.


Wening menjawab pertanyaan suaminya dengan sebuah senyuman. Dalam hati kecilnya, Ia berharap Cindekia bukan menantunya. Jika Cindekia telah melahirkan seorang cucu untuknya, akan sulit untuk memisahkan keduanya.


Baginya Cindekia hanyalah gadis yang melakukan apa saja demi uang. Pandangannya tentang Cindekia tidak berubah dari sejak awal. Sementara Lenart tidak peduli dengan hal itu, yang Ia inginkan hanya keturunan.


"Apa Kau baik- baik saja, Cindekia?" Kali ini Lenart bertanya kepada menantunya.


"Ya, tentu. Saya sehat."


Lenart mangangguk tersenyum. "Maaf, karena terjadi bencana Kalian berpisah sementara."


hah? apanya yang bencana? Batin Cindekia tidak mengerti.


"Honey, you will end up in traffic jam if you don't go now," Wening meletakkan serbetnya dan beranjak dari duduknya. Ia tidak ingin suaminya terlalu akrab dengan menantu yang akan segera disingkirkannya.


(*Macet nanti, kalau nggak pergi Kau sekarang!)

__ADS_1


Lenart melirik alorji di pergelangan tangannya, "Kau benar, Honey." Ia tersenyum dan berdiri merangkul istrinya yang selalu pengertian kepadanya.


Sepeninggalan mertuanya, Cindekia kembali makan dengan hati yang lapang. Ia harus banyak- banyak mengisi energinya.


Tiba-tiba Erlin datang meletakkan sebuah botol obat di meja Cindekia.


"Apa itu?" tanya Cindekia sebelum Erlin sempat memberikan penjelasan.


"Ini suplemen yang harus Nyonya minum," ucap Erlin bernada penuh hormat.


Cindekia meminum jus jeruknya hingga habis tak bersisa. "Aku tidak suka minum obat."


"Ini hanya vitamin yang berbentuk kapsul."


"Tetap itu namanya obat," tegas Cindekia.


"Apakah ini perintah pak Gamya?"


Erlin mengangguk pelan.


Cindekia melirik tajam botol vitamin tersebut. Ia memegang perutnya. Apa itu obat untuk mengugurkan? apa Aku hamil? batinnya menduga- duga.


"Katakan saja kepadanya bahwa Aku sudah meminumnya." Cindekia mengambil satu butir suplemen tersebut dan memasukannya ke dalam gelas berisi air putih di dekatnya.

__ADS_1


"Tetapi Nyonya." Erlin menahan Cindekia yang hendak berdiri.


"Jangan khawatir, Aku tidak akan membuatmu dalam masalah." Cindekia berlalu meninggalkan Erlin menuju rumah kaca di halaman belakang. Ia ada pelajaran ikebana pagi ini.


Erlin menunduk ragu, apakah Aku sekarang menjadi triple agent?


***


"Auch!" pekik Cindekia. Sudah yang ketiga kali tangannya tertusuk duri.


Semakin lama, semakin tidak masuk diakal baginya. Dalam pelajaran memasak, Ia seperti dibimbing oleh seorang chef yang tidak profesional. Dan sekarang? Lara memintanya merangkai kaktus.


Ini gila! Aku sudah tidak tahan lagi!


Cindekia melemparkan tang potongnya, dan berdiri dari duduknya. "Aku mau kencing!" ucapnya dengan nada tidak sopan dan tidak ada anggun anggunnya.


"Baik." Lara tidak mungkin menahan anak orang ingin buang air kecil.


Sementara Cindekia bukan ingin buang air kecil, Ia hanya ingin menenangkan pikiran agar bisa berpikir. Sepertinya jatuh cinta membuat otaknya lama- lama menjadi malas untuk berpikir rasional.


Ia berjalan pergi menuju kebun bunga. Namun sesampainya disana Ia melihat ibu mertuanya sedang duduk berdua dengan seseorang wanita.


Sebaiknya pergi ke tempat lain saja, batinnya tidak ingin tahu siapa wanita cantik yang sedang berbicara dengan Wening.

__ADS_1


"Nona Cindekia!"


Langkah kakinya terhenti karena sepertinya mendengar namanya dipanggil.


__ADS_2