Boss Gila

Boss Gila
liat liat


__ADS_3

"Ayo kita lihat apakah rumah ini membuatmu nyaman atau tidak," Gamya menarik lengan Cindekia memasuki rumah baru mereka.


Rumah yang terdiri dari dua lantai itu sudah mulai diisi beberapa furnitur.


Gamya membawa Cindekia ke lantai dua dan masuk ke kamar mereka, tidak lupa menutup pintu.


"Honey, Aku bisa mencari wanita lain. Tapi itu bisa saja berubah, tergantung keseriusanmu memperbaiki hubungan kita," bisik Gamya bernada ancaman.


Maaf karena memanfaatkan pikiranmu, batin Gamya.


Cindekia berbalik menghadap ke Gamya yang berdiri di belakangnya. Tubuhnya masih enggan berada di dekat suaminya. Tetapi ia juga tidak ingin suaminya mencari pelampiasan lain, apalagi harus memaksanya pergi ke dokter bersama.


"Aku menunggumu," ucap Gamya bernada serius.


Dengan menepis penolakan yang ada pada dirinya, Cindekia merangkul leher suaminya dan mulai mendaratkan bibirnya. Dia tidak baik- baik saja.


Gamya menutup matanya, menikmati sentuhan demi sentuhan istrinya. Hingga ia tidak bisa menahan diri lagi, dirangkulnya pinggang istrinya dan mulai mendominasi ciuman mereka.


Satu persatu kain yang melekat di tubuh keduanya berjatuhan di lantai.


Gamya menyadari tubuh istrinya yang bergetar kaku menerima sentuhannya, tapi ia sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya. Keinginan terpendamnya akhirnya keluar dari kurungannya, dan tidak bisa digiring kembali masuk ke kandang.


* * *

__ADS_1


Keesokan paginya, Cindekia mendapati dirinya berada dalam dekapan Gamya begitu ia membuka mata. Mereka sudah kembali ke apartemen tadi malam.


Rasa mual menyerangnya, kali ini lebih parah. Ada sesuatu yang ingin keluar dari perutnya.


Segera saja ia menyingkirkan tangan yang merangkulnya, dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, hingga tidak ada lagi yang ingin keluar.


"Sayang, Kau baik- baik saja?" Gamya menghampiri istrinya yang tampak berantakan. Ia masuk ke kamar mandi karena mendengar suara yang tidak beres.


Kamar mandi mereka sengaja tidak diberi kunci.


"Aku baik baik saja, hanya maag biasa," elak Cindekia.


Apa ini yang namanya morning sickness? batin Cindekia.


"Kita harus segera ke rumah sakit!" Gamya mengambil handuk kecil dan membantu istrinya mengeringkan wajahnya.


"Kita harus tetap ke rumah sakit!" tegas Gamya menuntun istrinya keluar dari kamar mandi.


"Sayang," Cindekia menggeleng, menahan tangannya, dan menatap Gamya dengan tatapan memohon.


Gamya menghela napas, "Baiklah, Aku akan membuatkan bubur untukmu."


Sebuah kecupan mendarat di pipi Gamya, "terima kasih," kata Cindekia.

__ADS_1


Gamya tersenyum mendapat serangan fajar dari istrinya.


Namun, Cindekia menutup mulutnya dengan telapak tangan saat Gamya hendak menciumnya, "Saya baru saja muntah dan belum gosok gigi," elaknya.


"Umm..., istirahatlah," ucap Gamya melewati Cindekia,


Sesuai janjinya, Gamya membuatkan bubur untuk Cindekia yang mengaku sakit maag.


Gamya malah mendapati istrinya telah tertidur pulas saat membawakan bubur buatannya.


"Kau tidur seperti kungkang," gumamnya.


Ia meletakan mangkuk buburnya di nakas, dan mengecup kening istrinya.


Kau pura- pura tidur lagi,


Ekspektasinya beradegan romantis dengan Cindekia sirna sudah. Sebuah ciuman setiap satu suapan bubur, mengingat hubungan mereka telah mulai diperbaiki di rumah baru mereka.


"Aku pergi," ucapnya sembari mengelus pipi lembut istrinya yang tertidur.


Pintu kamar ditutup dengan pelan. Cindekia membuka matanya, dan mengusap keningnya begitu yakin Gamya telah pergi meninggalkannya.


"Ada apa denganku?" gumam Cindekia tidak mengerti dengan keanehan dirinya yang tidak menyukai pria yang ia cintai.

__ADS_1


Senyum menghiasi wajahnya saat melirik mangkuk bubur yang masih hangat.


Beruntungnya keanehanku tidak menular ke masakannya, Batin Cindekia.


__ADS_2