Boss Gila

Boss Gila
Happy Ending


__ADS_3

Kia tidak tahu jika ibunya bisa sulap dan sihir, saat waktunya makan malam. Di atas tikar yang terbentang di ruang tengah rumah Cindekia, sudah terhidang berbagai menu masakan, ada udang sambal, gulai ikan, dendeng balado, sayur lodeh, aneka rebusan sayur, sambal belacan, urap, Ayam goreng, Ikan asin, kerupuk.


Kapan ibu masaknya?


"Cuman inilah apa adanya, beginilah hidup di kampung, ya yang dimasak apa yang ada saja," ucap Nuraini mempersilahkan Gamya dan Pak Isman duduk untuk makan.


"Bu, biasanya Kia pulang, ibu nggak masak sebanyak ini," bisik Cindekia kepada ibunya.


Nuraini mencubit pinggang putrinya, "Kamu layan tamu dengan baik," bisiknya.


"Ayo Nak Gamya, dan Pak Isman, silahkan." ucap Salahuddin yang nadanya masih belum bersahabat.


"Terima Kasih, Pak"


Setelah selesai makan malam, Cindekia membereskan kamarnya untuk ditempati Gamya. Mereka hanya memiliki dua buah kamar, jadi terpaksa Cindekia mengungsi ke kamar ibunya. Dan bapaknya terpaksa tidur di ruang tamu dengan pak Isman.


Gamya melihat ke sekeliling kamar Cindekia yang dindingnya penuh dengan tempelan pernak pernik waktu jaman Cindekia sekolah dulu.


"Baby, semua ini koleksimu?"


Cindekia yang tengah mengganti seprai tempat tidurnya menoleh, melihat apa yang dilihat Gamya, "Hmm... iya."


"Wow... ternyata sayangku ini sejak smp sudah memiliki banyak pacar, seleramu boleh juga." goda Gamya, tidak menyangka calon istrinya adalah seorang fangirl k-pop.


(*fans perempuan yang ngefans banget sama idolanya)


"Ha.. ha.. ha Bapak lebih tampan kok, mereka semua masa lalu," Cindekia telah selesai merapikan tempat tidurnya.


"Bapak serius, Kita akan menikah besok?"


Gamya masih melihat-lihat koleksi Cindekia, "hmm... Aku tidak pernah main-main jika menyangkut dirimu."


ya terserah bapak sajalah,


"Selamat istirahat, Pak. tempat tidurnya sudah beres." Cindekia beranjak pergi meninggalkan kamarnya.


"Kemarilah," Gamya menarik tangannya dan memaksanya duduk di atas tempat tidur.


"Kenapa?" tanya Cindekia kepada Gamya yang duduk di sebelahnya.


"Apa tidak ada yang ingin Kau tanyakan kepadaku?"

__ADS_1


Ada banyak yang ingin ditanyakan Cindekia, "Tidak ada."


"Baiklah, selamat istirahat." Gamya melepaskan tangan Cindekia.


"Selamat malam," Cindekia berjalan menuju pintu kamar yang terbuka lebar sejak tadi.


Keesokan harinya, kediaman keluarga Cindekia sudah mengalami kegaduhan pagi- pagi buta.


Sebuah mobil box dan pickup tiba dengan kru-kru nya memasang taratak di halaman rumah pak Salahuddin.


Sebagian kru lain menghias bagian dalam rumah. Mereka semua mengerjakan pekerjaan mereka dengan cepat.


Keluarga Cindekia, dan termasuk Cindekia sendiri hanya terbengong heran sembari menghabiskan sarapan mereka.


Sementara Gamya hanya tersenyum menjawab keheranan Cindekia dan keluarganya.


Tak lama kemudian, MUA pengantin telah tiba dengan koper besar yang berisi peralatan rias, disusul oleh kameramen dan juru foto dokumentasi.


"Pak kita benaran nikah hari ini?" tanya Cindekia yang masih belum rela di seret masuk kamar untuk dirias.


"Penghulu nikah akan tiba pukul 11 nanti," jawab Gamya dengan tenang, orang suruhannya melakukan pekerjaannya dengan baik.


Asisten MUA membawa masuk baju yang akan dikenakan Cindekia untuk akad nikah nanti, dan juga pakaian untuk dikenakan kedua orang tua Cindekia.


Di sebuah lapangan yang tak jauh dari rumah Salahuddin, pak Isman dengan setia menunggu helikopter yang mengangkut tuan dan nyonyanya mendarat.


Tuan dan nyonya Lenart yang juga mengenakan pakaian yang sama dengan kedua orangtua Cindekia diantar oleh pak Isman menuju rumah Salahuddin.


Semua keluarga besar Cindekia dan para tetangga yang sudah hadir lewat undangan dadakan, memandang heran kedatangan orang yang tampak berbeda bentuknya.


"Mari silahkan masuk, di rumah kami yang sederhana ini," sambut Nuraini.


"Terima Kasih," Nyonya Lenart dan suami bule nya masuk ke dalam rumah, Ganeeta menyusul di belakang mereka.


Ketiganya duduk di atas karpet yang telah terbentang.


"Perkanalkan Saya Ibunya Cindekia, dan ini Bapaknya Cindekia, suami saya." Nuraini memperkenalkan diri dan suaminya.


"Hallo,"


"Itu Bapaknya nak Gamya?" tanya Nuraini.

__ADS_1


"Saya ayah Gamya," tuan Lenart memperkenalkan dirinya dengan fasih.


"Dan yang duduk di sana itu, adiknya Gamya," nyonya Lenart memperkenalkan Ganeeta. "Maaf jika putra kami sudah merepotkan keluarga Pak Salahuddin," ucap nyonya Lenart.


"Oh tidak, Kami hanya kaget karena tiba-tiba begini,"


Nyonya Lenart hanya bisa tertawa, Ia sendiri juga sama kagetnya. "Ya, semoga anak kita bisa menjadi keluarga yang bahagia."


Dan terjadilah percakapan antara keduanya membicarakan kekurangan dan kelebihan anaknya masing-masing.


"Kalian sudah datang?" Gamya telah mengenakan jas pengantinnya berjalan dengan gagah di hari pernikahannya.


dia sebut kalian kepada orangtuanya? pikir Nuraini jadi sedikit mencurigai apa benar tamunya yang baru datang adalah orangtua kandung calon menantunya.


Orang tua Gamya hanya bisa tersenyum, mereka ingin memarahi putranya yang tiba-tiba saja mendadak mengatakan akan menikah. Tetapi mereka harus memperlihatkan keharmonisan keluarga Lenart.


Gamya mengambil tempat di depan penghulu yang tengah berbicara dengan Salahuddin. Semuanya telah berkumpul termasuk dua orang saksi. Mereka tinggal menunggu kehadiran Cindekia yang masih di rias.


Selang beberapa lama kemudian, Cindekia muncul dengan balutan kebaya putih yang sesuai dengan ukuran badannya. Kedatangannya menjadi pusat perhatian.


Cindekia sangat gugup begitu juga dengan Gamya, yang mungkin setelah 30 menit akan resmi menjadi pasangan suami istri.


Penghulu mulai memimpin membacakan surah Al Fatihah, Istighfar dan Syahadat.


Cindekia harus menahan air matanya saat meminta ijin kepada ayahnya. Sementara ayahnya menahan rasa kecewa dan sedihnya saat menyatakan bersedia menikahkan putrinya Ia merasa menjadi ayah yang gagal karena harus menikahkan putrinya akibat tidak suci lagi.


Ia masih belum tahu itu adalah kesalahan pahaman yang sengaja dibuat Gamya.


Akhirnya proses ijab kabul yang ditunggu-tunggu Gamya dimulai setelah penghulu membaca khutbah nikah. Air mata Salahuddin lolos keluar dari sudut matanya, kini putrinya telah menjadi tanggung jawab pria lain yang baru dikenalnya semalam.


Gamya tersenyum lega dengan perasaan yang masih berdebar melirik Cindekia, setelah mendengar kedua saksi menyatakan sah. Ia menggenggam tangan istrinya setelah selesai berdoa bersama, tangan Cindekia tidak dilepas hingga penandatanganan berkas nikah, sebelah tangan mereka berada di bawah meja.


Kedua tangan mereka berada di atas meja saat proses penyerahan mahar, Gamya memberikan mahar emas seberat 7 gram.


Penghulu menyerahkan buku nikah kepada Gamya dan Cindekia dan pamit pulang. Ia diantar oleh kedua orang tua Cindekia dan beberapa keluarga yang lain.


Bersamaan dengan perginya penghulu, kedua pengantin juga tiba-tiba menghilang.


Nyonya Lenart sekali lagi harus mengurut dada melihat kelakuan putranya, sementara suaminya hanya senyum-senyum.


Ganeeta tampak tak peduli, Ia sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


Kedua orang tua Cindekia tidak tahu jika pengantin sudah tidak ada di tengah-tengah mereka karena sibuk menyambut tamu yang hadir.


*


__ADS_2