
"Lupakan yang kukatakan tadi. Memasak tetap menjadi tugasmu. Ok buatmu Babe?"
"Apakah bapak ingin menjadikan saya istri dungu?"
Dungu?
Gamya mengusap pelipisnya melihat Cindekia yang masih ingin melanjutkan perdebatan. Ingin rasanya Ia mengangkat Cendekia ke atas kasur, dan menidurinya dengan kasar. Tidak, Ia memiliki kesabaran yang tidak terbatas untuk pujaan hatinya.
"....hmm..., kadang rasa masakanmu keasinan, kadang tidak diberi garam, daging yang keras sulit dikunyah, sayur yang dimasak terlalu lama. Hampir semua yang Kau masak tidak ada yang benar. Apakah mungkin hanya merebus air yang Kau bisa, Baby?" beber Gamya. Kata- katanya menohok hati Cindekia
Tidak ada yang benar? separah itukah?
"Kryuuukk!" suara keroncongan perut Cindekia kembali terdengar setelah pidato panjang Gamya.
"Pak, Saya hampir mati karena kelaparan," rengek Cindekia memegang perutnya seperti tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun. Menyesal Ia memulai perdebatan.
Ia memasang wajah memelasnya, berharap Gamya berhenti menyebutkan lebih banyak lagi ketidakbecusannya menjadi istri.
"Tetaplah di sini, dan istirahatlah Baby. Aku tidak akan membiarkanmu mati," tawa Gamya sembari mengacak rambut Cindekia.
Cindekia merebahkan tubuhnya di atas kasur sepeninggalan Gamya. Ia sedang menikmati menjadi istri durhaka yang membiarkan suami memasak untuknya. Tadinya Ia bertekad untuk memasak, tetapi lagi-lagi rasa malas menyerangnya.
__ADS_1
Diraih dan dipeluknya bantal suaminya, mencium aroma Gamya yang tertinggal. Bagaimana bisa seorang suami yang sesempurna itu? batinnya.
π π π
Tina yang bisa dikatakan inem pelayan se'ksi, tengah mengelap dindin kaca saat Gamya berjalan keluar dari kamarnya.
Tina menyadari hari ini adalah hari terakhir Ia bisa bertemu dengan tuannya, dan ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mencuri perhatian tuannya dan menggodanya.
Ia memiliki wajah cantik dan bahkan kulitnya jauh lebih putih daripada istri tuannya, didukung dengan body sintal, sulit rasanya untuk menolak pemandangan yang membuat darah kaum pria berdesir.
"Brak!!" terdengar suara benda jatuh.
Saat Gamya melintasinya, wanita itu sengaja menjatuhkan dirinya.
"Prang!"
"Auch!" pekik Tina meringis kesakitan karena jatuh dari tangga lipat yang membantunya membersihkan kaca.
Gamya menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia berjalan mendekati Tina yang terduduk di sebelah tangga yang terkapar.
"Apakah Kau baru saja memecahkannya?" Gamya menatap vas keramik yang tadinya berbentuk balok kini sudah hancur berkeping di lantai.
__ADS_1
Tina ikut menatap vas yang telah kehilangan keindahannya akibat kaki tangga yang tak sengaja menjatuhkannya.
"Ma.. af tuan," ucap Tina memelas dengan suara yang dilembut- lembutkan. Ia mencoba berdiri, namun naas lututnya mengenai potongan kaca tajam.
"Segera bersihkan, dan enyahlah dari sini. Kau dipecat," katanya dingin.
Tanpa ada perasaan iba sedikitpun dengan pekerjanya yang sudah jatuh kepijak beling, Gamya berlalu melanjutkan perjalanannya menuju dapur.
Meninggalkan Tina yang mematung tidak percaya, tuannya sama sekali tidak melirik tubuh se'ksinya dengan bagian atas dan bawah yang sedikit terekspos, dan bahkan tak punya nurani melihat orang lain terluka. Pria itu lebih mengasiani vas bunga ketimbang makhluk bernyawa.
Kesemuanya tak sengaja dilihat oleh Cindekia, Ia meneguk air liurnya bergidik ngeri. Kebaikan Gamya kepadanya membuatnya lupa tentang Gamya adalah bos yang dikenal kejam di kantornya.
"Kamu tidak apa- apa?" Cindekia menyodorkan kotak p3K kepada Tina untuk mengobati lukanya.
Cindekia memberdirikan tangga yang terkapar dan melipatnya, setelah Tina mengambil kotak p3k dari tangannya.
"Pergilah obati lukamu," saran Cindekia karena melihat Tina yang masih tetap bergeming.
Cindekia menggeleng tidak habis pikir dengan gadis di depannya. "Aku sudah mengatakan kepadamu betapa pentingnya memakai baju standart aman dalam bekerja." repetnya kemudian sembari menyapu pecahan beling.
Sementara Tina tidak mengerti mengapa dirinya dipecat begitu saja dengan mudahnya.Dan Ia masih belum menerima kenyataan istri tuannya yang cerewet itu membersihkan kepingan pecahan vas.
__ADS_1
Apakah dia meledekku? pikir Tina.
"Mengapa Kamu masih di sini? itu luka kamu diobatin lho, nanti-" ocehan Cindekia terhenti karena dari arah belakangnya ada sebuah tangan kekar menjangkau tangannya yang sedang memegang sapu.