Boss Gila

Boss Gila
Mak Comblang


__ADS_3

Cup!


Gamya mengecup bibir Cindekia singkat, "Sweetie, apakah Kau sangat merindukanku hingga menyebutku hantu?"


"Eh! Apakah pekerjaan di sana sudah selesai?" Cindekia berdiri dari duduknya dan menghadap Gamya.


"Belum," jawab Gamya dan memberikan buket mawar kepada Cindekia. "Untukmu."


"Terima kasih, lalu mengapa Suami ada disini?"


"Karena Aku ingin melihatmu. Aku tidak bisa tidak merindukan istriku ini."


"Bagaimana dengan masalah di sana?"


Gamya mengecup kening Cindekia. "Besok pagi Aku akan kembali lagi."


"Apa?"


"Sudahlah." Gamya menarik lengan Cindekia. "Ayo kita pulang, sudah lama Kau tidak memakan masakanku."


"Tidak- tidak. Sudah lama Saya tidak memasak untuk Suami."


"Terserah Kau saja, Baby. Yang penting kita makan bersama." Gamya menarik lengan istrinya untuk segera dibawa pulang.

__ADS_1


"Tunggu!" Cindekia menahan lengannya. Tadinya Ia sudah memutuskan untuk tidak peduli dengan ibu mertuanya, tetapi entah mengapa setelah melihat Gamya, pikirannya kembali berubah. Jika mencintai putranya, maka harus mencintai ibunya.


"Suami lupa? pamitan dengan mami dulu," bisik Cindekia dan merangkul lengan suaminya untuk diseret kembali.


Cindekia menyalami tangan mertuanya, "Mami, Kami pamit pulang."


"Hati- hati di jalan, Sayang," ucap Wening tersenyum lembut dan mencium pipi kanan dan kiri menantunya.


Norah tersenyum anggun kepada Cindekia, begitu juga sebaliknya.


"Senang bisa mengenalmu, Nona Cindekia," katanya dengan nada bersahabat.


"Ya senang juga bisa mengenalmu," ucap Cindekia dan bergegas membawa kabur suaminya. Ia takut Jelalatan suaminya kumat lagi.


"Mereka tampak saling mencintai," ucap Norah kepada Wening setelah kedua pasangan itu menghilang dari pandangan mereka.


"Jangan tertipu dengan kemesraan yang ditunjukkan mereka. Wanita itu tidak benar-benar tulus mencintai putraku," keluh Wening.


Norah tersenyum, bukankah tante juga berpura-pura menyukai wanita itu di depan putramu? sindirnya dalam hati.


Norah menatap pemandangan taman kosong di depannya. Saat melihat Gamya entah mengapa jantungnya sedikit bergetar.


Ganeeta, desisnya dalam hati.

__ADS_1


Dulu temannya itu pernah mencoba mencomblanginya dengan Gamya. Saat itu Ia tidak tertarik karena informasi yang diberikan Ganeeta sangat berbeda dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Pria itu tidak suka wanita? tetapi lihat lah bagaimana tatapannya kepada istrinya, seakan di dunia ini hanya ada istrinya. Gila kerja dan hendak menikahi laptopnya? tetapi lihatlah, Ia bahkan meninggalkan pekerjaannya hanya untuk makan bersama dengan istrinya. Monolog Norah dalam hati.


Gamya bukanlah makhluk sosial, Ia tidak memiliki akun sosial. Jadi sangat sulit mencari informasi mengenai sosoknya. Dan parahnya Ganeeta malah memberikan foto terjelek kembarannya itu.


"Norah...!"


Norah tersentak dari lamunannya mendengar namanya dipanggil. "Ya tante?"


"Maaf, jika Kau tersinggung dengan permintaan tante. Tante yakin banyak lelaki yang lebih baik dari putra tante, yang menyukaimu."


Norah mengambil tangan Wening dan menggenggamnya, "tidak apa- apa Tante, Norah tidak tersinggung dengan permintaan tante. Hanya saja Norah tidak ingin menjadi wanita kedua di dalam rumah tangga orang lain."


"Putraku tumbuh tanpa kasih sayang sejak kecil, Aku yakin dia tidak bisa membedakan mana cinta yang tulus dan bukan," keluh Wening lagi. Ia balik menggenggam tangan Norah. "Sebagai seorang ibu, Aku tidak bisa terus- terusan melihat putraku diperdaya oleh wanita itu."


Seharusnya putraku memilih wanita yang bernilai, ya seperti Norah. Mengapa dengan gadis kampung yang tujuan hidupnya mencari pria kaya untuk menopang hidup keluarganya.


"Tante...."


Jika yang dikatakan tante Wening benar, Cindekia tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh Gamya, batin Norah.


"Jika saja Gamya bertemu denganmu lebih dulu, dia pasti akan hidup bahagia menikah dengan gadis sepertimu, Norah."

__ADS_1


Ya, Tante Wening benar. Jika Aku menjadi istrinya, Gamya akan melakukan apa saja untukku.


__ADS_2