
Setelah merasa tangannya sudah berkurang perihnya, Cindekia menyudahi penyiraman lukanya.
Ia membiarkan Tina membereskan dapur bekas memasak yang hanya satu menu itu.
Setelah Tina pulang, Cindekia mulai menata meja makan dengan masakannya. Ia menghubungi suaminya lewat panggilan telepon, karena telalu malas memanggilnya secara langsung.
"Sayang, yuk kita makan," ucap Cindekia dengan suaranya yang dibuat manja- manja genit begitu Gamya menjawab panggilannya.
Sesuai perkiraannya, Gamya langsung datang menemuinya di ruang makan.
Cindekia tersenyum manis menyambut suaminya. Ingat harus menjadi istri yang baik.
"Sayang, malam ini kita makan soup kentang saja ya,"
Gamya tak menggubris ucapan istrinya, Ia menghela napas melihat tangan Cindekia yang memerah, dan langsung pergi meninggalkan ruang makan tanpa kata.
Mengapa? apa dia kecewa karena hanya ini yang bisa kumasak? batin Cindekia nelangsa.
Mengapa dia keras kepala? dia suka membuat dirinya terluka. Batin Gamya sembari beranjak mengambil salap luka bakar.
__ADS_1
Sementara dengan lesuh Cindekia duduk dikursinya dan mengaduk- aduk soup di depannya.
Ya sudah kalau tidak mau! Aku habiskan saja semuanya! teriak batin Cindekia.
Tiba-tiba tangannya diambil ketika hendak menyendok soup. Gamya duduk di sebelahnya dan mulai mengobati luka bakar di tangannya.
"Lihatlah Kau melukai tanganmu, kontraknya kurevisi, Kau dilarang memasak!" tegas Gamya.
"Lho mengapa? Apakah Bapak mengira Saya tidak cukup cerdas? Saya orang yang berhati- hati! dan dapat belajar dengan cepat! Apa Bapak perlu bukti hasil tes IQ Saya?!" cerocos Cindekia yang tadinya kesal akibat bisikan yang mengatakan suaminya memilih wanita cerdas untuk memberinya keturunannya, kini jadi semakin kesal.
" Kia, " lirih Gamya melunakkan suaranya.
Gamya mempertajam tatapannya, "Aku mendengarkanmu, lanjutkan Sweetie."
"Tidak, Saya tidak ceroboh, itu tangan saya yang ceroboh," Cindekia menarik tangannya dari genggaman Gamya. Sebenarnya sudah sedari tadi selesai diolesi salap, tetapi masih tidak dilepas oleh Gamya.
"Hmm...." Gamya mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Ada seseorang yang harus Kau seret ke penjara," ucap Gamya setelah seseorang yang Ia hubungi menjawab panggilannya.
__ADS_1
Cindekia membulatkan matanya, penjara? apakah dia ada masalah?
Gamya tersenyum melihat mata bulat istrinya, Ia bangkit dari duduknya dan mengecup kepala Cindekia sebelum pergi agak menjauh.
"Seorang pelayan melukai tangan istriku, hingga tidak dapat melakukan pekerjaannya karena luka yang dialaminya." suara Gamya yang berada di ruang tengah, masih dapat di dengar Cindekia.
Karena Cindekia mengikutinya di belakang.
"Dua tahun? Jika Kau tidak dapat membuatnya mendekam di penjara seumur hidup, maka berhentilah dari pekerjaanmu!" seru Gamya mengakhiri sambungan teleponnya.
Cindekia langsung memeluk suaminya begitu Gamya membalikkan badannya. "Sayang, ini hanya luka kecil, bukan masalah besar. Besok juga sembuh."
"Bagiku, ini adalah masalah besar. Kau sangat berharga untukku." Gamya mengecup puncak kepala Cindekia.
Cindekia mendongakan kepalanya demi melihat Gamya, "Dia tidak sengaja," bujuk Cindekia sekali lagi.
"Baby, Kau sangat menggemaskan. Aku jadi ingin mengunyahmu." Gamya menenggelamkan kepala Cindekia di dadanya dan mengecup puncak kepala istrinya itu sekali lagi, dan menghirup dalam aromanya.
Kau wanita yang cerdas Kia, hanya saja Kau terlalu naif, menganggap semua orang sama sepertimu. Apakah karena selama ini Kau selalu dikelilingi oleh orang-orang baik? batin Gamya.
__ADS_1