
"Bapak benaran takut kalau Saya hamil terus kelelahan ketika resepsi nanti?!" tanya Cindekia berteriak di tengah suara bising hairdryer, Ia takut Gamya yang sedang mengeringkan rambut panjangnya tidak mendengar suaranya.
Mereka masih berbalut bathrobe karena masih ingin bermain- main di kamar mandi resort lebih lama lagi.
"Umm...," Kali ini Gamya belum ingin jujur kepada Cindekia tentang dirinya yang tidak ingin berkomitmen membentuk sebuah keluarga dengan Cindekia.
"Bapak ingin punya anak berapa?!"
"Mungkin tiga belas," jawab Gamya sekenanya.
"Suamiku sayang, Saya serius, jawab dengan serius lho!" pinta Cindekia
Gamya mematikan hairdryer, Ia lanjut menjalin rambut istrinya menjadi dua bagian agar istrinya terlihat seperti gadis desa yang lugu, tidak cerewet. Gamya bukan seorang hairstylist. Ia hanya sedang ingin bermain- main dengan rambut istrinya.
"Aku menjawabnya dengan serius Hun. Jika Kau ingin memiliki anak dariku, maka Kau harus memiliki tiga belas anak."
Iya deh iya, terserah bapak aja. Yang waras ngalah.
Gamya tersenyum melihat perubahan raut wajah Cindekia di cermin.
"Baby, Sudah Aku katakan kepadamu untuk tidak mengumpatku," ucap Gamya sembari membungkuk, mensejajarkan kepalanya dengan kepala Cindekia. Ia menebak istrinya tengah mengumpatnya dalam hati.
"Hah?"
"Jika Kau terlihat manis begini, Aku jadi ingin membuatmu mandi sekali lagi," bisik Gamya dengan nada mengancam.
__ADS_1
Cindekia bergidik mendengar bisikan Gamya, Ia langsung berbalik dan melotot tajam ke arah suaminya.
"Bapak pakai ancaman mandi, mentang- mentang tahu Saya malas mandi. Iya deh iya, dalam hati pun nggak boleh ngumpat suami."
"Bagus," Gamya kembali berdiri tegak dan beranjak meninggalkan kamar mandi. "Ayo pergi Baby! saatnya makan malam."
Makan malam? Senyum mengembang di wajah Cindekia.
"Iya Suami!! Siap!"
Makan malam romantis telah terbentang di pinggir pantai, ditemani oleh cahaya adem matahari yang sudah lelah seharian bersinar terik.
"Bang, kursinya kurang dua lagi," protes Cindekia kepada seorang pelayan yang tengah menata meja dengan sajian hidangan pembuka.
"Ingin empat kursi? baik." pelayan itu menanggapi permintaan tamu dengan senyum ramah.
Ya biarkan saja dia repot membawa dua kursi lagi. Gamya memang bukan tipikal orang yang memudahkan pekerjaan orang lain. Kalau bisa sulit, mengapa dipermudah.
"Sayang, kita hanya makan berdua saja. Kedua orang tuamu menikmati makan malam mereka di tempat yang berbeda."
"Kenapa?"
"Tidakkah Kau berpikir orang tua juga perlu honeymoon?"
Kedua telinga Cindekia memerah mendengar kata honeymoon.
__ADS_1
Cindekia tertawa membayangkan Ayahnya berkata manis kepada ibunya.
"Mengapa Kau tertawa, Baby?"
Cindekia berhenti tertawa, "Ah...tidak, kalau begitu mari makan!" ucapnya sembari mencomot buah anggur dari hidangan salat buah yang tertata rapi.
Belum sempat Cindekia menggigit anggur itu, Gamya sudah menyambarnya dan berakhir dengan ciuman rasa anggur.
"Kau adalah hidangan pembukaku, Sayang." ucap Gamya dan kembali duduk ke kursinya.
Cindekia memperlihatkan wajah tersenyumnya, Dia gila, bikin kaget saja, semoga dia nggak dengar bahasa kalbuku.
Sementara tak jauh dari mereka ada petugas resort yang sedang berdiri dengan dua kursi di tangannya, Ia berhenti sejenak melihat siaran langsung di depannya.
Sebenarnya dua kursi ini mau diapakan sama mereka?
"Permisi, kursinya ingin diletakan di mana?"
"Oh, maaf bang sudah merepotkan, di letakkan disitu saja tidak apa apa. Terima Kasih." Cindekia tersenyum tidak enak karena sudah menambah kerjaan orang lain.
"Sama- sama." Petugas resort itu pun pergi meninggalkan kedua tamu yang mungkin sedang dimabuk asmara.
"Bapak, kok nggak bilang dari tadi sih? Kan jadinya..." Kalimat Cindekia terhenti mendapati Gamya memasang wajah datar begitu Ia kembali menoleh ke depan. "Kenapa Pak?"
Gamya buru- buru menghilang rasa cemburunya, "Kia, rasa cintaku kepadamu bertambah sebesar ini." Gamya menunjukkan ujung kuku telunjuknya dengan jempol.
__ADS_1
Cindekia mempertajam penglihatannya, "Yaa.. kok cuman sedikit Pak?"