
Di sebuah butik, wening melihat- lihat koleksi terbaru setelah selesai berdiskusi dengan desainer. Ia ingin dibuatkan pakaian baru untuk menghadiri resepsi pernikahan anak dari teman suaminya.
Sementara Cindekia duduk di sofa menunggu ibu mertuanya setelah badannya diukur untuk sebuah gaun yang akan dibuatkan untuknya. Sedari tadi Ia menahan sakit di perutnya.
Saat tidak memiliki uang, Ia suka berbelanja. Ketika sudah memiliki banyak uang, Ia jadi malas memiliki pakaian baru. Tetapi mertuanya tetap memaksanya.
"Kia, Kau tidak apa- apa?" tanya Wening bernada khawatir melihat menantunya yang terlihat pucat.
Cindekia membetulkan duduknya, "Tidak apa- apa Mami,"
"Sepertinya Kau kurang sehat," Wening memegang kening menantunya untuk merasakan panas atau tidaknya. Namun Ia sama sekali tidak tahu membedakan demam atau tidak.
"Saya baik- baik saja Mi, mungkin karena mengantuk." Cindekia berdiri dari duduknya, berpikir mertuanya telah selesai dan hendak pulang.
"Ayo, Kita harus menemui dokter!" Wening segera menuntun Cindekia keluar dari butik. Meskipun Ia tidak menyukai Cindekia menjadi menantunya, Ia juga tidak bisa membiarkan istri putranya itu jatuh sakit.
"Tidak perlu Mi," Cindekia menahan dirinya dan menggeleng memohon.
"Apa Kau sengaja melakukannya? membiarkan dirimu sakit agar putraku menyalahkanku?" tuding Wening.
"Apa?" desis Cindekia.
Akhirnya dengan pasrah Cindekia ikut masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan Ia terus memikirkan bagaimana caranya agar tidak pergi ke rumah sakit. Ia tidak boleh ketahuan jika sedang hamil. Cindekia sadar ibu mertuanya juga tidak menginginkan cucu dari rahimnya.
"Mami, Saya baik- baik saja. Kita tidak perlu menemui dokter." Cindekia memohon sembari mencengkram kuat sandaran tangan kursinya, menahan rasa sakitnya.
Wening mengamati Cindekia, "mengapa Kau bersih keras?"
__ADS_1
Bruk!! Cindekia jatuh pernah pingsan.
####
Wening masuk ke kamar rawat Cindekia, Ia menghela napas tidak percaya setelah mendengar penjelasan dokter kepadanya.
Dering ponsel Cindekia terus menggema, sementara yang empunya bergeming menatap jendela kamar. Ia terlihat tidak berniat menjawab panggilan teleponnya.
"Kau tidak menjawab teleponmu?" suara tanya Wening sedikit mengejutkan Cindekia.
"Mami?" Cindekia melirik layar ponselnya. Gamya meneleponnya. Ia manarik napas dalam sebelum menjawab teleponnya.
"Hallo Sayang," ucapnya bernada semangat.
"Baby, Apa yang Kau lakukan?" suara Gamya terdengar di telinga Cindekia.
"Kau bersama ibuku?"
Cindekia mengangguk meskipun Gamya tidak melihatnya, "iya, Kami sedang berbelanja."
"Baiklah, Aku akan menghubungimu lagi nanti. Bye." Sambungan telepon Cindekia diputuskan oleh Gamya.
"Mengapa Kau tidak mengatakan Kau ada di rumah sakit?" tanya Wening.
Cindekia berusaha bangun untuk duduk, "Mami, Saya hanya kelelahan karena kurang tidur. Saya Tidak Ingin membuatnya Khawatir."
Dia tidak tahu kalau sedang hamil? batin Wening. Ia tidak merasa kehamilan Cindekia adalah kabar baik untuknya.
__ADS_1
Mami tidak mengatakan apa- apa? Dia pasti sudah mengetahui tentang kehamilanku. Aku pura- pura tidak tahu saja. Batin Cindekia.
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, Wening dan Cindekia tetap membisu. Mereka bukan pasangan mertua dan menantu yang harmonis.
Wening sesekali melirik perut rata dengan sedikit lemak milik Cindekia dan menghela napas gusar. Ia masih belum terima Cindekia menjadi menantunya, kini ditambah cikal bakal keturunannya ada di dalam rahim wanita itu.
"Cindekia, Aku tidak membencimu," kata Wening memulai pembicaraan.
"Saya tahu, Mami."
"Aku hanya tidak menyukaimu."
Lha bukankah itu sama saja?
"Meskipun Kau mengandung cucuku, fakta bahwa Aku tidak menyukaimu tidak akan berubah."
Cindekia mengangguk menghormati perkataan Wening, "Saya akan tetap menganggap Mami adalah orang tua saya," kata Cindekia dengan senyum lembut.
"Aku selalu membawamu bersamaku bukan karena Aku menyukaimu, tetapi karena Kau yang selalu menempel kepadaku."
Cindekia tersenyum lebar menanggapi Wening. Omongan pedas Gamya mirip ibunya. "He.. he.. Mami, Saya seperti lintah yang akan terus menempel."
"Kau memang benar lintah, parasit yang sulit dilepas," timpal Wening.
Cindekia membulatkan matanya, Ia telah salah mengambil perumpamaan. "Maaf Mami, bukan lintah. Tetapi lem super yang sulit dilepas." Cindekia tersenyum menampilkan giginya.
"Aku lebih setuju dengan kalimatmu yang sebelumnya."
__ADS_1