Boss Gila

Boss Gila
Aku Bukan Pilihan


__ADS_3

Rencana yang awalnya dikira akan berjalan lancar ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.


Dyan tidak bisa membiarkan Cindekia membatalkan rencana pernikahan mereka. Ia telah mengumumkan rencana pernikahannya.


Hari ini Ia telah bertekad harus bertemu dengan Cindekia dan memintanya untuk tetap melanjutkan apa yang sudah disepakati bersama.


Gadis yang Ia tunggu akhirnya tiba dengan menumpang ojek online. Segera saja Dyan menyambutnya.


"Kia, kita harus bicara," ucapnya berdiri menghadang Cindekia yang hendak masuk ke pekarangan gedung kontrakan gadis itu.


Cindekia tampak tak terkejut dengan kemunculan Dyan, Ia seperti sudah mengetahui kedatangan temannya itu.


"Masuklah," Cindekia melangkah masuk melewati gerbang mendahului Dyan. Ia mempersilahkannya masuk ke rumahnya.


"Mengapa tiba-tiba Kau melakukan ini?" tanya Dyan tak sabar, Ia masih berdiri di ambang pintu rumah Cindekia.


"Waktu Kau mengajakku menikah, Kau bilang Kau tahu Aku menyukaimu. Sejak kapan Kau tahu Aku menyukaimu?" tanya Cindekia yang penasaran.


"Apa itu penting untuk sekarang ini?" Dyan mencoba meraih tangan Cindekia, namun gadis itu segera menjauhkan dirinya.


"Apakah ketika kita kuliah dulu? sejak kapan? jawab saja."


"Kia yang terpenting sekarang, Kau menyukaiku, Aku menyukaimu, kita menikah," bujuk Dyan dengan nada yang meyakinkan.


Cindekia tertawa ringan, "Meskipun pada akhirnya Kau memutuskan untuk melamarku, Aku tidak ingin menjadi pilihan terakhirmu."


".... "


Gadis itu mengeluarkan ponselnya, dan meneruskan kepada Dyan beberapa gambar kebersamaan Dyan dengan seorang wanita, yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal kepadanya. Jejak digital memang kejam.


"Kau tahu Aku menyukaimu, mengapa Kau tidak menghentikanku? Aku tidak tahu Kau telah menyukai wanita lain selama ini, dan Aku terus menunggumu," ucap Cindekia ketika Dyan menatap layar ponselnya, melihat gambar yang dikirimnya.


"Maafkan Aku Kia, Aku takut pertemanan kita akan berakhir jika Aku memberitahumu." aku Dyan dengan memasang wajah bersalah.


Ingin rasanya Cindekia mengambil sebotol air mineral dingin dari kulkasnya, dan duduk lalu minum melepas dahaga. Sebenarnya Ia sangat lelah baru pulang kerja.


"Lalu bagaimana denganku? Bagaimana jika tiba-tiba kau menikah dengan wanita itu, dan Aku tetap menaruh harapan kepadamu tanpa tahu?" Cindekia tersenyum tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Aku juga berhak untuk memilih, mengapa Kau merasa hanya Kau yang memiliki hak itu?" lanjutnya.


Dyan siap menerima kemarahan gadis itu, namun Pernikahannya tetap tidak boleh dibatalkan. Karena hal itu tadi, Ia telah mengumumkan pernikahannya.

__ADS_1


"Aku tahu, Aku salah. Kata maaf saja tidak cukup, Aku akan lakukan apa saja untuk mendapatkan maaf darimu? tetapi tolong tidak dengan membatalkan rencana pernikahan," rayu Dyan sembari berjalan mendekati Cindekia. Entah itu bisa disebut rayuan, atau tidak.


Cindekia menggeser kursi di sebelahnya, dan meletakkan dirinya di atas kursi itu, "Dyan Aku harap kita menjadi teman untuk selamanya, itu adalah keinginanku dan juga keinginanmu."


"Kau tiba-tiba membatalkan pernikahan ini karena orang itu, benarkan Kia?" Dyan balik menuding Gamya.


Cindekia tertawa renyah, Ia sudah tidak tahan menahan dahaga. Mendengar tudingan Dyan membuat kerongkongannya semakin kering.


Gadis itu berjalan menghampiri kulkasnya yang berada tidak jauh dari ruang tamu, untuk mengambil sebotol air mineral, "Aku hanya tidak ingin menikah dengan orang sepertimu."


Roman Dyan berubah serius karena Cindekia berubah menjadi dingin kepadanya, "Kia, tolong ubah keputusanmu. Jika tidak, Aku terpaksa akan menggugatmu."


Terang saja ancaman Dyan membuat Cindekia sedikit terkejut, temannya itu akan menggugatnya?


"Apa Kau serius akan menggugat temanmu" Cindekia membelalakkan matanya.


"Maaf, Aku tidak punya pilihan. Sekarang Aku memberikanmu pilhan."


"Gugat saja," ucap Cindekia tidak takut. Ia heran mengapa dirinya sering mendapat ancaman diseret ke pengadilan.


"Kia, sungguh Aku tidak ingin melakukan ini. Jadi Aku mohon jangan memaksaku untuk menggugatmu."


"Aku justru tidak ingin Kau menggugatku. Aku tidak ingin menikah, itu juga pilihanku. Jadi pergi lah. Jika Kau ingin menggunakan hakmu untuk menggugatku, silahkan."


Cindekia kembali berdiri dan mendorong Dyan keluar dari pintu rumahnya, "Maaf, Aku sudah tidak ada perasaan lagi kepadamu. Jadi tidak ada alasan untuk tetap melanjutkan pernikahan ini kan?"


Dyan telah berhasil terdorong keluar dari rumah yang berukuran sederhana dengan kunci pintu yang tidak sederhana.


Cindekia menutup pintu rumahnya. Ia tidak ingin Dyan telalu lama di rumahnya. Ia sudah terlalu lelah untuk meladeni tamu. Ia ingin istirahat dan minum sebotol air mineral dingin.


Ia menerima lamaran Dyan karena berpikir pria itu memiliki perasaan kepadanya.


Pada akhirnya, temannya itu tidak pernah mencintainya. Semuanya hanya kamuflase. Ia tidak mengerti mengapa hatinya sangat mudah terpedaya dengan sikap baik seorang pria.


Cindekia sadar dirinya membatalkan pertunangannya hanya karena ingin membalas perbuatan Dyan kepadanya, yang merasa bisa mengendalikan hidupnya.


Seberapa keras Ia menahan dirinya agar terlihat kuat, tetap saja dadanya terasa sasak.


Dan air mata kembali lolos keluar dari sudut matanya.


Tidak bisa begini! batin Cindekia menyadarkannya dari sikap lemah.

__ADS_1


Segera Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi layanan antar makanan.


Disaat yang seperti ini, penghibur terbaik adalah makanan.


*


.


.


Beberapa hari kemudian, Cindekia menggenggam erat selembar kertas di tangannya. Sebuah surat panggilan sidang pekara perdata.


Ia pikir Dyan tidak serius dengan ancamannya, ternyata temannya itu benar-benar menggugatnya.


Dengan kesal Cindekia mengambil ponselnya guna menghubungi Dyan.


"Apa Kau gila?! Kau benar ingin melihatku masuk penjara?" tanya Cindekia begitu mendengar 'Hallo' di ponselnya.


Di lain pihak, si penerima telepon yang tak lain adalah Dyan terkejut batin mendengar Cindekia berteriak dan menyebutnya gila. Selama ini gadis itu selalu bersikap lembut kepadanya.


"Aku tidak ingin melakukan ini Kia, jadi Aku minta Kau tetap melanjutkan pernikahan kita."


"Mengapa Kau tetap memaksa ingin kita menikah?"


Terdengar helaan napas Dyan dari speaker ponsel Cindekia, "Aku tahu Kau ragu denganku, tetapi percayalah Aku berjanji akan membahagiakanmu."


"Jangan membual! sekarang Kau ingin memasukanku ke penjara, bagaimana nanti setelah menikah? jangan harap! Aku tidak takut dengan gugatanmu!" dengan kesal Cindekia mematikan sambungan teleponnya.


Dyan berencana akan menggugat Cindekia membayar kerugian yang tak mampu dibayar gadis itu, sehingga akhirnya terpaksa harus menikah denganya.


Sementara Cindekia sangat panik memikirkan dirinya akan masuk penjara gara-gara perbuatannya yang dinilai melanggar hukum.


Ia mulai membayangkan dirinya akan berada di dalam ruangan gelap berlantai semen beralasankan tikar, tidur beramai-ramai seperti susunan ikan kembung di dalam bakul.


Tidak bisa membayangkan bagaimana kedua orangtuanya bakalan stress melihat putri semata wayang mereka masuk jeruji besi.


Gadis itu terpaksa memutar akalnya, mencari jalan keluar dari permasalahan yang akan di hadapinya.


Ia tidak jadi ingin menikah apalagi masuk penjara.


Ia harus menemui konsultan hukum.

__ADS_1


*


------🐈


__ADS_2