
Seseorang telah menunggu kedatangan Gamya dan Cindekia di depan pintu kedatangan bandara Ljubljana.
Mereka diantar menuju sebuah apartemen. Keduanya tampak duduk tenang di dalam mobil tanpa melakukan perdebatan.
"Sayang, apakah sementara kita akan tinggal di sini?" tanya Cindekia begitu mereka memasuki sebuah gedung apartemen.
"Kau benar, Sweetie."
"Ok," Cindekia semringah menggandeng lengan Gamya menunggu pintu lift terbuka.
Gamya hanya tersenyum melihat sikap istrinya yang bersikap manis kepadanya. Ia tidak peduli dengan ketidaktulusan Cindekia.
Mereka seperti pasangan yang baru saja menikah memasuki rumah baru. Cindekia dengan antusias melihat- lihat tempat tinggalnya yang baru.
"Kenapa kita nggak ngontrak di rumah biasa aja sih? yang ada halamannya," protes Cindekia.
Ngontrak? Aku membelinya Kia.
"Karena harga sawa di sini lebih murah, Hun."
Cindekia tertawa menatap Gamya yang berdiri di dapur yang tak jauh darinya, "lebih murah? Sayang ngelawak?" tanyanya sembari berjalan ke arah suaminya dan memeluk erat suaminya itu. Ia harus sering sering bersikap manis.
"Makan malam nanti, Sayang ingin dimasakin apa?" tanya Cindekia yang masih memeluk suaminya, dengan kepala yang mendongak ke atas minta dicium.
Gamya malah mengecup kening Cindekia, "suatu yang bisa Kau pastikan tidak akan khilaf."
"Nasi, eh tunggu...," Cindekia ragu dengan jawabannya karena Ia sering lupa menekan tombol masak setelah memasukan beras ke magic com. "Kalau khilaf ya dimaafkan lagi dong," rayunya kemudian.
"Kau mempunyai maaf yang tak terbatas dariku Sweetie," tawa Gamya.
"Kalau begitu, yuk kita ke supermarket!" Cindekia melepaskan pelukannya, dan menarik lengan suaminya.
"Sekarang?"
"Ya iya, kan mau masaknya sekarang bukan tahun depan!"
__ADS_1
"Kita pesan antar saja, Baby "
______________
_____🐈
"Jangan khawatir Suamiku sayang, Saya tidak akan merindukan Anda," tawa Cindekia menyusun pakaian dan keperluan suaminya di dalam kopor.
"Aku juga tidak akan merindukanmu, Hun." Gamya mengecup pipi Cindekia sembari membantu menutup kopor.
Baru lima hari menempati apartemen baru mereka, Gamya harus pergi ke Turki selama dua minggu untuk urusan bisnis.
Cindekia membalikkan badannya menatap Gamya dengan serius, "bagaimana kalau Saya balik aja deh jadi sekretaris, biar tidak pernah absen lihatin wajah tampan Bapak?"
"Lalu Aku akan melalaikan pekerjaanku karena hanya terfokus kepadamu, hmm...."
Cindekia menahan dengan kedua tangan, mulut Gamya yang hendak menciumnya. "Nanti terlambat!" serunya dan beranjak meninggalkan Gamya di kamar dengan kopornya.
Gamya menyusul membawa kopornya dengan perasaan dongkol yang tertahan. Cindekia tidak mengijinkannya mencium selama beberapa hari belakangan.
"Enam akan menemanimu." Gamya mengecup bibir dan kening Cindekia sebelum memeluk erat.
"Ya ya...Cepat masuk. Nanti terlambat," gerutu Cindekia karena tidak diijinkan mengantar hingga bandara.
"Ha ha. Okay." Gamya melepas pelukannya dan mengencup bibir istrinya sekali lagi, "I love you," ucapnya sebelum ditelan mobil hitam di hadapan Cindekia.
"Nyonya," terdengar suara Erlin alias Enam, setelah mobil yang dinaiki Gamya berlalu.
Cindekia menoleh ke arah suara, Ia mendapati Erlin telah berdiri di sana tanpa kopornya.
Mengapa dia tidak membawa pakaiannya? bukankah dia akan menginap beberapa hari di sini?
Kedatangan Erlin bukan untuk menemani Cindekia selama kepergian Gamya. Ia datang untuk menjemput Cindekia atas perintah nyonya besarnya.
Bisa dikatakan dia adalah double agent. Mematuhi perintah tuan mudanya dan juga nyonya besarnya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Cindekia bersedia datang ke rumah mertuanya mengikuti Erlin. Ibu mertua yang terlihat anggun, baik hati, dan tidak cerewet. Ia harus berhati- hati dengan mertua yang seperti itu.
Secangkir teh bunga menyambut Cindekia.
"Kudengar Kau tidak mengikuti semua pelatihanmu," ucap Wening setelah menyeruput tehnya.
"Maaf, karena tidak bisa memanfaatkan kebaikan yang Mami beri dengan baik," balas Cindekia. Ia tidak bisa bernapas normal jika berhadapan dengan ibu mertuanya.
Wening tersenyum lembut, "Kau ahli dalam memanfaatkan kebaikan putraku," katanya kemudian.
"Maaf..." lirih Cindekia. Ia tidak bisa juga mengatakan jika Gamya yang memintanya untuk tidak mematuhi perintah ibu mertua ketika masih di Indonesia. Nanti dikira adu domba pula, mamak dengan anak.
"Aku akan mengingatkanmu sekali lagi, bahwa Aku masih belum menerimamu menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Wening dengan senyum di wajahnya.
Ia tidak bisa menerima putranya menikahi wanita biasa yang tidak memiliki nilai apa- apa.
Cindekia ingin menghela napas, tapi Ia urungkan takut dikira tidak sopan. Jika ibu mertua bersikap baik dan terbuka kepada kedua orang tuaku, siapa yang akan percaya jika Aku menjadi tokoh di film ratapan anak tiri. Batinnya nelangsa.
"Saya mengerti," lirih Cindekia memasang garis senyum makhluk tak berdaya. "Saya akan berusaha dengan maksimal agar Mami menerima Saya," katanya kemudian.
"Bagus jika Kau mengerti," Wening melirik seseorang wanita berpakaian formal yang berdiri di ambang pintu.
Wanita itu berjalan masuk dan berdiri di dekat Cindekia dan Wening duduk.
"Lara akan menjadi tutormu selama tinggal di sini."
Lara yang diperkenalkan Wening menyapa Cindekia dengan hormat.
"Ya? tinggal di sini?!" tanya Cindekia kaget memastikan pendengarannya.
"Apakah Kau keberatan?"
"Ah.. tidak." Cindekia memaksa senyumnya.
Dikira bakal bebas selama dua minggu, tidak disangka makin parah, gerutu batinnya yang lagi- lagi nelangsa.
__ADS_1