
Suara lolongan kesakitan seorang wanita menggema di sebuah kamar apartemen. Rudi sebagai pelaku tunggal yang menyiksa wanita cantik dengan kulit putih bersih tanpa noda, tampak serius dengan penyiksaan yang tengah Ia lakukan.
Wanita itu menungging membelakangi Rudi yang tanpa ampun menusuknya dengan senjata biologis otomatis miliknya.
Rudi mencengkram leher jenjang wanita itu, agar tidak lari kemana-mana.
Drrt... drrtt...
Suara dering ponsel milik Rudi memecahkan konsentrasinya untuk tetap melakukan penyiksaan. Karena suara dering itu adalah dering khusus yang menandakan wajib diangkat.
Rudi melepaskan cengkramannya, dan menarik senjata otomatisnya. Ia meraih ponselnya di atas nakas.
"Hallo Sayangku," katanya menjawab panggilan teleponnya dan mengabaikan wanita cantik, korban penyiksaannya yang tengah menggeliat di atas tempat tidur.
"Apa yang sedang Kau lakukan?" terdengar suara Ganeeta di ponselnya.
"Tentu saja sedang memikirkanmu." Rudi melirik wanita yang tengah menggeliat.
Wanita itu bukannya kabur, tetapi malah meminta untuk disiksa lagi. Dengan tatapan penuh harap Ia mengesek-gesekan pinggul bekas penyiksaannya.
"Ada yang ingin kutanyakan," suara Ganeeta kembali terdengar di telepon Rudi.
Rudi menyeringai melihat wanita cantik di depannya. Atas dasar rasa kasihan melihat wanita itu seperti bayi yang hampir menangis karena kompengnya jatuh ke lantai, Rudi mengulurkan tangannya mengelus wajah wanita itu
Wanita itu dengan senang mengambil tangan Rudi. Ia butuh kompeng yang baru, bukan sebuah elusan.
"Apa yang akan Kau berikan sebagai bayarannya?" tanya Rudi kepada Ganeeta yang masih terhubung dengannya melalui ponsel yang menempel di telinganya.
"Hmm... Lukisan pertamaku akan kuberikan untukmu. Bagaimana?" tawar Ganeeta.
"Hahaha, baiklah. Apa yang ingin Kau ketahui?"
"Saat Aku memintamu merayu sekretaris Gamya, Aku ingin tahu penilaianmu terhadapnya."
Rudi berpikir sejenak, mengingat beberapa hal tentang Cindekia yang Ia ingat. "Hmm... dia terlihat mudah, tetapi sebenarnya sulit. Ah...Aku mendapat laporan tentangnya ketika masih bekerja di perusahaanku. Ia merubah penampilannya sejak ditempatkan menjadi sekretaris Gamya, dan dia sepertinya terlibat dengan Om- Om."
"Om- Om?!" suara Ganeeta terdengar kaget.
"Ia sering terlihat diantar jemput oleh mobil mewah bersama pria tua.."
__ADS_1
".. Akh!" lolongan wanita cantik memotong perkataan Rudi. Namun mulut wanita itu segera dibekap oleh Rudi.
"Kau bersama seseorang wanita?" suara Geneeta bertanya tajam.
"Aku hanya bersama dengan salah satu kucing peliharaanku," elak Rudi.
"Dasar sampah!" Ganeeta langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Rudi tersenyum melempar ponselnya asal dan lanjut menyiksa wanita yang sedang duduk tengkurap di hadapannya tanpa ampun dan belas kasihan.
Suara lolongan wanita yang sepertinya sedang kesakitan, semakin membuatnya antusias mempercepat penyiksaannya.
Ia menyelesaikan penyiksaannya setelah menembakkan amunisinya ke tubuh wanita itu.
"Siapa yang baru saja berbicara dengan Tuan?"
"Mengapa Kau ingin tahu Kirani?" Rudi balik bertanya dan mendarat ciuman di bibir wanita yang terlihat tak berdaya di atas tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Kirani, karena Rudi yang termangu tampak sedang memikirkan sesuatu.
Rudi sedang mencoba mengingat sudah berapa lama Kirani menjadi teman tidurnya. Sudah saatnya Ia mencari gadis baru. "Aku sedang memikirkan hadiah spesial untukmu." seringainya dan beranjak pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi lain, Kirani segera berkutat di dapur menyiapkan makan malam.
Rudi adalah pria yang mengambil kegadisannya. Meskipun begitu Ia tidak menyesalinya. Karena berkat bantuan Rudi, keluarganya telah terbebas dari belenggu hutang.
Ia sendiri juga bingung hubungan seperti apa yang mereka jalani. Mereka tinggal bersama layaknya suami istri, tetapi mereka bukan suami istri. Awalnya hubungan mereka adalah penjual dan pembeli. Ia menjual kegadisannya, dan Rudi membelinya.
Tetapi sekarang Ia hidup sebagai simpanan. Biaya hidup dan kuliahnya ditanggung oleh Rudi.
"Apa makan malam hari ini?" Suara riang Rudi mengagetkan Kirani.
"Saya masak_"
"Cepat bawa ke mari, Aku sudah lapar." Rudi telah duduk manis di kursi meja makan.
"Baik,"
Rudi makan dengan lahap seperti akan mati besok. "Masakanmu sangat enak," puji Rudi.
__ADS_1
Kirani tersenyum senang, Ia sangat berharap hubungan mereka bisa berlanjut ke arah yang lebih serius.
Meskipun sebagai simpanan, Ia melayani kebutuhan ranjang dan perut Rudi dengan baik di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa di tahun ketiga.
"Sangat disayangkan ini adalah malam terakhir Aku bisa memakan masakanmu," kata Rudi dilema.
"Apa maksud Tuan? Saya akan selalu memasak untuk Tuan."
"Aku sudah tidak ingin melihatmu lagi," terang Rudi tanpa beban mengedipkan sebelah matanya.
"Apa?" desis Kirani. Ia tahu konsekuensi akan pilihan yang telah Ia ambil, tetapi Ia berharap kemewahan yang Ia terima dapat bertahan lama. Atau bahkan pria matang itu akan mencintainya dengan tulus, mengingat pria itu selalu mengaku bahagia saat saat kebersamaan mereka.
"Jangan terburu-buru kecewa Kirani. Jika Kau masih ingin tinggal di sini dan kebutuhan mewah hidupmu terpenuhi, Kau mendapatkan rekomendasiku. Tetapi Kau jangan banyak berharap akan mendapatkan sugar daddy yang sepertiku," ucap Rudi sembari beranjak mengecup bibir ranum Kirani.
"Selamat tinggal, selama tiga bulan sepuluh hari Kau akan tetap mendapatkan uang saku dariku." Rudi berjalan dengan tenang meninggalkan Kirani. Ia menuju pintu keluar.
"Tunggu! Tuan... tolong jangan pergi, Saya mencintai Tuan. Apakah Tuan tidak memiliki perasaan apapun kepada Saya? bukankah Tuan menyukai Saya?" Kirani mencoba mencegah Rudi.
"Terima kasih atas pernyataan cintamu Kirani. Aku menyukaimu, karena itu Aku mau membayar mahal jasa pelayananmu."
"Saya hamil...,"
Rudi menghentikan tangannya membuka pintu, dan berbalik melihat ke arah Kirani. "Selamat menjadi ibu," katanya ringan.
"Saya mengandung Anak tuan..." lirih Kirani.
"Anakmu, Kirani. Bukan anakku. Kita tidak menikah dan komitmen apapun. Hanya hubungan benefits. Anak itu tidak memiliki pertalian darah denganku." Rudi diam sejenak memperhatikan Kirani yang berkaca- kaca mendengar jawabannya. "Jangan bilang Kau ingin memintaku untuk bertanggungjawab terhadap anak yang Kau kandung? Kirani.. ayolah, Aku tidak memiliki kewajiban apa- apa terhadap anak yang bukan hakku."
"Tuan..."
"Jangan mencariku setelah ini." ucap Rudi tersenyum manis sebelum menghilang di balik pintu.
Kirani terkulai lemas memikirkan kelanjutan hidupnya. Apakah dia akan berhenti terjerumus dalam dosa atau tetap terus karena sudah terlanjur basah juga.
Sementara itu, Rudi terus mencoba menghubungi balik Ganeeta yang tidak mengangkat teleponnya. Ia ingin meluruskan candaan yang dilakukannya. Pria tua yang Ia maksud adalah supirnya Gamya.
Ia tidak tahu apa yang akan direncanakan Ganeeta. Tapi dia malah menambahkan minyak.
Rudi menghela napas. "Lebih baik mengaku saja sekarang, daripada Gamya membunuhku," gumamnya kemudian dan menghubungi Gamya.
__ADS_1