Boss Gila

Boss Gila
BAB 26 Tawaran Bagus, sayang sekali


__ADS_3

Kring... kring...


Suara alarm yang keluar dari ponsel Cindekia berkumandang di kamarnya. Tanpa membuka matanya, tangan gadis itu meraba-raba tepi tempat tidur.


Ia terus berusaha menggapai ponselnya hingga menjadi kesal sendiri karena tangannya tak jua mencapai nakas. Tempat tidurnya hanya seluas tiga kaki.


Cindekia membuka matanya dengan kesal dan mendapati dirinya kini berada di sebuah kamar yang asing, "Hah Aku masih mimpi," gumannya.


Ia pun kembali menarik selimut dan menutup kepalanya. Ia berencana untuk melanjutkan mimpinya.


Drrrt... drrtt...


Benda berwarna hitam itu kembali berbunyi kali ini dengan irama yang berbeda. Merasa terusik, Cindekia berguling menuju tepi tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang tengah bernyanyi di atas nakas.


Ia mengusap layar ponselnya sembarangan, "akhirnya dia tenang juga," Cindekia kembali tidur.


Drrtt... drrtt...


Ponsel yang kini telah nangkring di sebelah telinga Cindekia kembali bernyanyi, kali ini berhasil membuatnya tersentak.


Cindekia membuka matanya dan mengambil ponselnya. Tertera nama Pak Bos di layar ponselnya. Dan waktu menunjukkan pukul 4:30 pagi.


Berita duka apa nih, pagi-pagi pak bos nelpon.


"Ya Pak, ada apa?" tanyanya, pikirannya masih berada di antara sadar dan tidak.


"Kau baru bangun? Nona Kia sebaiknya Kau bergegas atau Kau akan ketinggalan penerbangan pagi ini," terdengar suara Gamya memberi peringatan.


"Hah? penerbangan apa?" Cindekia melihat sekelilingnya.


Tampaknya Ia lupa tengah berada di rumah orang tuanya Gamya.


Terdengar Gamya menghela napas berat, "Apa Aku lupa memberitahumu 'kita akan kembali pulang pagi ini' ? lima belas menit Kau harus sudah siap!"


Sambungan telepon diputuskan secara sepihak oleh Gamya.


Apa? bos gila itu, Tentu saja Kau lupa memberitahuku! Atau dia sengaja lagi!!


Cindekia langsung berbegas turun dari tempat tidurnya.


Bruk!


Kedua kakinya yang memiliki respon lamban tidak berdiri tegak semestinya saat otaknya ingin segera bangun menuju kamar mandi. Kedua kakinya terkulai dan sukses membuat pipi Cindekia mencium lantai.

__ADS_1


"Aduh... " rintihnya mengusap pantatnya yang sedikit ngilu.


Cindekia kembali berdiri setelah yakin kedua kakinya sudah paham harus berdiri dan bergerak ke kamar mandi.


***


Setelah selesai mandi dan membereskan barang-barangnya, Cindekia dengan malas dan kesal menyeret kopernya keluar kamar.


Begitu Ia membuka pintu kamarnya, seorang pelayan menyambutnya dan meminta ijin membawakan kopernya yang lumayan berat.


Terang saja berat, Cindekia membawa persediaan pakaian selama seminggu. Tak disangka Ia hanya satu malam berada di luar negeri.


Menerima kenyataan ini, membuat kekesalannya semakin berlipat-lipat ganda.


Sementara orang yang membuatnya kesal tampak tidak peduli berdiri menunggunya di depan kamarnya, sambil bermain game di ponsel. Dilihat dari samping, Gamya bak model yang sedang berpose.


Kenapa orang itu nggak jadi patung saja? mungkin akan lebih bermanfaat sebagai karya seni. Guman Cindekia sembari berjalan mendekat ke arah Gamya yang tengah mengunggunya.


"hum..." Cindekia melotot kesal membuang muka dan berjalan melewati Gamya.


Ada apa lagi dengannya? guman Gamya tanpa rasa bersalah, seolah orang disekitarnya yang bermasalah.


Cindekia tidak bisa menendang atau memukul, apalagi sampai menarik rambut bosnya. Ia takut akan terjadi kembali hal-hal yang tidak diinginkannya.


Yang bisa dilakukannya hanyalah melotot kesal. Tidak bisakah mengelilingi kota Ljubljana dan berfoto, sebelum pulang?!


Catat! cari alasan sebanyak banyaknya agar terhindar ikut perjalanan bisnis dengan pak bos. Cindekia memasukan ke dalam memori otaknya tentang perjalanan bisnis pertamanya yang tidak direkomendasikan untuk pemula.


Langkah kaki Cindekia terhenti begitu melihat Ibunya Gamya berjalan menuju ke arah mereka.


"Mama ingin berbicara dengan Cindekia," tegas wanita itu kepada Gamya.


"Hmm... " Gamya melirik Cindekia yang berdiri di sebelahnya, "sepuluh menit, sayang," katanya dengan nada lembut di telinga gadis itu.


Gamya berdiri di depan Cindekia, dan menutupi wajah gadis itu dengan wajahnya. Ia berpura-pura mencium Cindekia di depan Ibunya.


Merinding, Cindekia mengumpat dalam hati karena Gamya terlalu dekat meski hanya sekejap, bibirnya mereka hampir bersentuhan, bos gila iblis.


Beruntung Ia memiliki ketahanan jantung yang lumayan kuat. Meskipun hanya sandiwara, tetap saja jantungnya sangat peka dengan orang tampan.


Gamya melenggang pergi meninggalkan kedua wanita itu. Senyum simpul menghiasi wajahnya membayangkan wajah Cindekia yang memerah menahan amarah setelah digoda olehnya.


"Ikutlah denganku," ujar Ibunya Gamya, Ia menuntun Cindekia ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Ibunya Gamya mempersilahkan Cindekia duduk agar dapat berbicara dengan santai. Namun maksudnya tidak tesampaikan kepada Cindekia, gadis itu tetap tidak bisa duduk santai berhadapan berdua dengan Ibu bosnya.


Seorang pelayan menghidangkan teh di atas meja.


"Minumlah, Kuharap sesuai dengan seleramu," Kata Nyonya Lenart, Ia tersenyum ramah mengambil cangkir tehnya.


"Aku sudah mendengar tentangmu, dan tentang hubungan kalian yang hanya sampai sebulan," ucapnya kemudian tanpa ragu, dan menyeruput tehnya dengan tenang.


Cindekia tertegun mendengar perkataan Ibunya Gamya yang ternyata telah mengetahui kontrak kerjasamanya dengan Gamya.


"Kau pasti terkejut, kan? maafkan anak-anakku yang masih sangat kekanak-kanakan."


".... " Cindekia memerlukan asupan kafein untuk berpikir. Ia mengambil cangkir tehnya dan meminumnya selagi asapnya masih mengepul.


"Sebaiknya Kau menghentikan sandiwara ini," ucap Nyonya Lenart dengan santai.


Cindekia tersentak, jemarinya terhenti memberinya minum. ".... "


"Nona Cindekia, jangan naif, apa Kau berpikir Gamya hanya merencanakan hubungan sandiwara denganmu?"


Kontrak kerjasama kami memang bukan hanya sekedar menjalankan hubungan palsu, tetapi meyakinkan Ganeeta bahwa kami saling mencintai, dan mungkin sekarang aku juga harus meyakinkan nyonya Lenart.


"Maafkan Saya Nyonya, eh.. Bu, maksud Saya mamanya Pak Gamya. Masalah ini bukanlah hal yang bisa Saya putuskan sendiri," ucap Cindekia berusaha untuk tenang disaat terpojok.


"Aku persingkat saja, berapa uang yang Kau butuhkan? Aku akan memberikannya kepadamu, Kau bisa mengakhiri semuanya dan hidup bahagia dengan pria yang Kau cintai,"


Cindekia kembali menyeruput tehnya, Ia butuh asupan kafein lebih banyak, sejauh mana mamanya pak bos tahu?


Tawarannya terdengar menguntungkan untukku, Aku memang ingin dia menentang hubunganku dengan putranya, tetapi jika mundur seperti ini, Aku seperti penghianat kontrak.


"...Bagaimana Saya bisa mengakhiri hubungan Saya dengan Pak Gamya? Jika Nyonya menginginkan Saya bahagia bersama pria yang saya cintai. Saya mencintai pak Gamya," ucap Cindekia dengan tenang, meskipun hatinya menyesali keputusannya menolak tawaran bagus di depan mata.


Nyonya Lenart tersenyum anggun, Ia ingin mentertawakan kenaifan gadis di depannya hingga terpingkal-pingkal. Namun Ia harus menjaga sikapnya.


"Aku mengerti, sikap putraku yang memperlakukanmu dengan baik telah membuatmu salah paham. Kau bisa memikirkan tawaranku kembali nanti."


Kali ini giliran Cindekia yang ingin tertawa terpingkal-pingkal, apa? memperlakukanku dengan baik? Nyonya bercanda? putra nyonya itu semena mena, tahu!


"Maafkan Saya, keputusan Saya akan tetap sama baik sekarang atau nanti... Saya hanya akan pergi jika Pak Gamya meminta Saya untuk pergi," ucap Cindekia lirih.


Pak bos, Kau harus berterima kasih dan memberiku bonus! Aku berakting dengan baik.


Nyonya Lenart tersenyum melihat Cindekia menolak tawarannya, "Aku menghargai keputusanmu, kuharap Kau tidak akan menyesalinya."

__ADS_1


Dari apa yang telah didengarnya tentang Cindekia, nyonya Lenart tidak percaya gadis itu bisa mencintai putranya dengan tulus.


"Sudah menyesal dah," guman Cindekia pelan menghela napas berat. Ini sudah kedua kalinya Ia menolak tawaran bagus di depan mata.


__ADS_2