Boss Gila

Boss Gila
Kompetitor


__ADS_3

Keesokan harinya, teman-teman Cindekia menyambut kembalinya Cindekia di departemen mereka dengan senang.


"Kau benar tidak mau ikut meeting dengan kami?" tanya Gina memastikan kembali kepada Cindekia.


"Tidak, Aku tidak ada hubungannya kan?" tolak Cindekia. Lagi pula Ia berpikir Gamya melarang untuk bertemu dengannya. Padahal Gamya tidak bermaksud seperti itu, Ia hanya tidak ingin lagi memaksa Cindekia harus menemuinya.


"Baiklah kalau begitu, Aku harap perbaikan yang telah kami selesaikan diterima," kata Gina dan pergi bersama dengan tim ALM yang lain.


Tinggallah Cindekia seorang diri di meja kubikel ruangan itu. Ia kembali membiasakan diri dengan meja lamanya.


Tuk!


Segelas kopi panas tiba-tiba diletakkan di atas mejanya, dan pelakunya adalah pak Damar. Pria yang akan memasuki usia setengah abad, tiga tahun lagi.


"Apa Kau membuat masalah lagi?" tanyanya mengintrogasi Cindekia. Sebuah pertanyaan muncul di benaknya, mengapa Gamya mengirim kembali Cindekia.


Damar adalah orang yang bertanggung-jawab terhadap kasus percintaan yang dialami Gamya. Ia sengaja mengirim Cindekia karena berpikir gadis itu akan membuat Gamya yang arogan akan naik darah tinggi. Tetapi Ia tidak menyangka atasannya itu malah jatuh cinta dengan mantan bawahannya ini.


Cindekia lebih memilih meminum kopinya dulu daripada menjawab pertanyaan pak Damar.


"Pak Damar is the best, terima kasih Pak, kopinya," ucap Cindekia semringah. "Saya akan bekerja dengan semangat!"


Puk!


Sebuah map mendarat di atas kepala Cindekia tanpa belas asih.


"Bekerjalah dengan giat, hingga kepalamu akan meladak!" ucap Damar dan mengangkat kembali map yang Ia timpukkan di kepala Cindekia. Ia kemudian pergi menyusul ikut meeting bersama tim bawahannya.


"Siap!"


Gadis itu sudah memutuskan untuk kembali ke asalnya. Ia bahkan sudah menyampaikan kepada Dyan, pria yang pernah menjadi orang yang selalu dirindukannya, bahwa Ia telah siap lahir dan batin untuk menikah.


Meski perasaannya tidak lagi sama, tapi baginya itu mungkin hanya sementara. Setelah menikah, Ia yakin akan jatuh cinta lagi kepada Dyan.


Di ruangan lain, Gamya dalam keadaan mood tidak bagus karena telah mengambil keputusan yang melanggar hak asasinya, hingga membuatnya harus mengaku kalah. Bukan hanya kepada kembarannya, terlebih kepada Ayahnya.


Ia jadi menjilat ludah sendiri, karena harus pulang dan memanggil orang itu dengan sebutan Papa, Ayah, Ati, atau apalah yang artinya sama saja.


Raut wajahnya sangat tidak enak dipandang, Ia seperti akan mematahkan 10 batang pisang dan mengambil tandan pisangnya. Berat!

__ADS_1


Begitu lah suasana hatinya saat ini.


Namun anak-anak tim ALM mengartikan raut wajah Gamya dari sudut yang berbeda. Dengan penuh ketakutan mereka mempresentasikan hasil kerjaan mereka.


Damar hanya bisa menggaruk kepalanya dengan sedikit kesal. Dia bertengkar dengan kekasihnya, anggotaku jadi pelampiasannya.


Yang Damar tahu, Gamya memberi perhatian lebih kepada sekretarisnya. Lebih dari itu Ia tidak tahu apa-apa mengenai hubungan mereka.


Brak!


Terdengar suara meja digebrak mengagetkan anggotanya Damar, termasuk Damar sendiri.


"Ok bagus! kalian bisa lanjutkan!" seru si pelaku penggebrak meja yang tak lain adalah Gamya.


Gamya segera meninggalkan ruang rapat, dan Damar menyusulnya. Ia harus berbicara serius empat mata dengan atasannya itu.


"Apa Kau tahu, di usiaku yang tidak lagi muda ini tidak bisa lagi dibuat kaget!" hardik Damar sembari menyamakan langkahnya dengan Gamya.


"Kau belum berusia 80 tahun," jawab Gamya santai.


"Tidak seharusnya Kau memberhentikan Cindekia sebelum mendapatkan penggantinya_" ucapan Damar terhenti begitu melihat ada seseorang yang sudah duduk di meja Cindekia terdahulu. "Bagaimana bisa?" tanyanya tidak percaya.


Sekretaris berjenis kelamin lelaki itu memberi salam hormat kepada Gamya dan Damar.


Damar mengikuti Gamya hingga masuk ke ruangannya.


"Jangan kaget, Aku sudah mendapatkan pengganti sebelum Kau menempatkannya di sini," jelas Gamya tersenyum bangga, sembari duduk di kursinya.


Damar yang masih diliputi keheranan, ikut juga duduk di kursi depan meja Gamya, "Jadi Kau sudah memiliki sekretarismu sendiri. Tapi mengapa?"


Ia sedikit ingin tahu mengapa Gamya tetap membiarkan Cindekia menjadi sekretarisnya. Tidak mungkin karena atasannya itu tidak enak menolak rekomendasi darinya.


"Aku tahu Kau memiliki hubungan baik dengan anggotamu, tetapi kupikir Kau terlalu ikut campur dengan urusan pribadiku sampai Kau datang ke ruanganku hanya untuk menanyakan hal itu." kata Gamya bernada kurang mengenakan.


Damar adalah salah satu orang kepercayaan Gamya di antara orang kepercayaannya lain yang menempati posisi startegis di Haniun Group, meskipun perusahaan itu bukan miliknya.


Sementara orang-orang kepercayaannya itu tidak ada yang berbicara dan bersikap formal dengannya, tanpa terkecuali Damar. Gamya tidak pernah mempermasalahkannya selama orang itu dapat bekerja dengan baik dan loyal kepadanya. Ia tidak butuh seorang penjilat.


Damar lebih senior daripada Gamya, dilihat dari segi usia.

__ADS_1


Damar sedikit tertawa mendengar teguran dari Gamya, siapa coba yang kemarin sibuk memintaku mengawasi kekasihnya ketika pergi keluar kota.


"Tentu saja tidak, Aku mau memberitahumu ada yang mencoba mengakses basis data perusahaan. Sekarang ini kami tengah memperbaharui basis data karyawan, Aku sudah mengirimkan proposalnya. Jadi Kau harus menyetujuinya dengan cepat," ucap Damar sembari beranjak dari kursinya untuk meninggalkan ruangan Gamya.


Ia juga orang yang sibuk, tidak ada waktu mengurusi masalah pribadi atasannya.


"Hmm..." Gamya menyandarkan punggungnya di sandaran kursinya. Ia akan meninggalkan perusahaan, tapi masih tetap memiliki tanggungjawab kepada perusahaan yang dikelolanya. Karena Ia adalah orang yang bertanggung jawab.


Damar menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu. "Apa Kau masih memintaku untuk mengawasinya?" tanyanya kemudian.


Gamya menyeringai, "Apa Kau intelijenku?"


"Hahaha, baiklah. Dia sudah Kuanggap seperti putriku sendiri, Kuharap Kau tidak menyakitinya," ucap Damar sebelum menghilang di balik pintu ruangan.


"Kuingatkan sekali lagi, Kau belum berusia 80 tahun!" teriak Gamya.


Gamya tersenyum tipis. Baginya, dia adalah orang yang paling tak ingin membuat kekasih hatinya itu terluka dan menangis.


"Apa hebatnya orang itu?" gumamnya antara penasaran tapi sedikit gengsi sembari membuka layar ponselnya.


Selama ini Ia tidak mencari tahu tentang kompetitornya karena menganggapnya sebagai sebuah batu krikil. Tapi tak disangka kalau terpijak tidak pakai sandal, sakit juga.


Beruntung Ia masih mengingat nama lengkap Dyan, dan mencari tahu nama itu di mesin pencari internet.


Tak butuh waktu lama, Ia sudah dapat melihat beberapa informasi mengenai Dyan yang namanya ada di setiap pojok.


Ternyata Google cukup akrab dengan orang yang menjadi kompetitornya itu. Terbukti Google Scholar¹ dan Google Books² memiliki banyak koleksi Karya Ilmiah yang ditulis oleh Dyan.


Sangking banyaknya, Gamya yang biasanya rajin membaca laporan, kini menjadi malas membuka laman selanjutnya untuk melihat tulisan Dyan berikutnya.


(¹pencarian publikasi ilmiah para akademisi


²pencarian buku)


Ia mengusap dagunya, menatap serius layar ponselnya karena masih belum dapat menemukan kelebihan kompetitornya. Mungkin karena Gamya adalah orang cukup arogan sehingga tidak pernah merasa orang lain lebih baik darinya.


Meskipun sudah merelakan Cindekia lepas darinya, Ia merasa suatu saat gadis itu akan kembali kepadanya.


Ia memiliki keyakinan yang kuat dengan keputusannya saat ini. Jika tidak, Ia tidak mungkin berhasil diposisinya yang sekarang.

__ADS_1


__ADS_2