
Perkataan Norah masih terus dipikirkan Cindekia. Hingga dia dikejutkan oleh sebuah tangan yang meraih pundaknya.
"Apa yang Kau pikirkan?" tanya Gamya bernada khawatir.
"Kapan Kamu pulang?" tanya Cindekia yang tidak mendengar suara kepulangan suaminya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Kamu pulang lebih awal?"
"Honey, berhentilah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan," tegas Gamya lembut.
"Kejutan?" ucapan Cindekia tercekat. Jawab saja kejutan, bukan kah tadi pagi dia bilang akan memberikanku kejutan.
Gamya tersenyum mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, menatap lebih dekat. "Jika Kau ingin kejutanmu, Kau harus menciumku dulu,"
"Hah?"
"Mengapa Kau kaget?" tawa Gamya sembari mengelus rambut istrinya. "Tidak tahukah Kau, betapa tersiksanya Aku selama berminggu-minggu tidak menyentuhmu?"
"Maaf...," lirih Cindekia.
Gamya mengecup dahi istrinya sekilas, "Bersiaplah! kita akan melakukan perjalanan jauh."
"Perjalanan? ke mana?" tanya Cindekia heran. dia teringat dengan perkataan Norah tadi siang. Apakah ada hubungannya dengan Norah?
"Kau tidak menghapusnya?"
"ng...?"
Gamya menunjuk dahinya, "Kau tidak menghapus bekas bibirku seperti biasanya?" sindirnya sekali lagi.
"Maaf...." lirih Cindekia merasa bersalah. Ia tidak mengira suaminya memperhatikannya, yang bahkan Ia sendiri tidak sadar.
"Tidak apa- apa," Gamya berlalu dari hadapan istrinya.
"Sayang! jika Kau tidak bergegas, kita akan terlambat!" seru Gamya dari ambang pintu kamar mereka, karena istrinya tidak juga beranjak dari tempatnya.
"Iya,"
***
"Apakah kita akan berlibur?" tanya Cindekia ketika mereka dalam perjalanan menuju bandara.
"Tidak, Kau akan mengunjungi kedua orang tuamu,"
"Hah?"
"Kau terkejut? ini adalah kejutanku," ucap Gamya tenang sembari tetap fokus mengemudi.
Kali ini pasti benar, dia merindukan keluarganya. Haruskah Aku menepi untuk menerima ciuman terima kasih darinya? Batin Gamya tersenyum senang.
Apakah dia dan Norah merencanakan penyingkiranku? Jika tidak, bagaimana Norah bisa mengetahui tetang perjalanan ini? batin Cindekia.
Mobil yang mereka tumpangi menepi dipinggir jalan.
Gamya memutar badannya ke arah Cindekia yang duduk di sampingnya. Ia tidak ingin menerima kecupan di pipi. Ia ingin ciuman membara.
__ADS_1
Dia tidak terlihat bahagia? batin Gamya.
Dia terlihat bahagia membuangku? batin Cindekia, tanpa sadar air matanya mengalir jatuh ke pipinya.
"Saya tidak ingin pergi, jangan membuang saya...." isak Cindekia.
Ia tidak tahu mengapa dirinya bisa- bisanya menangis menjadi wanita yang cengeng. Ada apa denganku?
Dia menangis?
"Hun, Kita hanya pergi mengunjungi orang tuamu, Kau boleh tinggal selama beberapa hari, atau selama yang Kau mau," jelas Gamya bingung.
Mengapa Kau berpikir Aku membuangmu?
"Aku tidak mau pergi!" tegas Cindekia dengan napas tersengal.
"Sayang...?"
Gamya ingin menarik istrinya ke dalam dekapannya, dan menenangkannya. Namun dia urungkan karena takut masalahnya akan menjadi lebih rumit lagi.
Mengapa dia diam saja? dia pasti bingung karena Aku mengetahui rencananya.
"Meskipun Kamu telah berselingkuh dengan wanita lain, Aku percaya saat ini Kamu hanya khilaf. Aku yakin pernikahan ini masih bisa diperbaiki, Aku masih ingin mencintaimu."
Gamya mengusap pelipisnya, mendengar perkataan Cindekia yang tidak- tidak mengenai dirinya. Membuangmu? selingkuh? Kia yang tiba-tiba berubah menjadi dingin itu Kau.
Cindekia masih tidak berhenti mengeluarkan apa yang ada dipikirannya, "Kamu tidak bisa menyingkirkanku begitu saja, karena Aku tidak ingin berpisah! Jadi siapapun wa_"
Perkataan Cindekia terpotong karena kedua tangan Gamya tiba-tiba mengapit kedua pipinya.
Apakah dia mau melakukan KDRT? karena perselingkuhannya terbongkar? Batin Cindekia panik.
Gamya mencium paksa Cindekia. ia tidak menyukai pemaksaan dan tidak ingin bertengkar, tetapi kepalanya hampir meledak jika harus terus mencoba memahami wanita di hadapannya.
Meskipun Cindekia yakin dirinya masih sangat mencintai suaminya, tetapi entah mengapa tubuhnya tidak menyukai sentuhan suaminya.
Gamya menyingkirkan tangan yang mencoba mendorongnya, dan menahan tengkuk istrinya. Ia masih ingin lebih lama melakukan hal yang sudah lama tidak ia lakukan.
Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi Gamya. Ini bukan kali pertama istrinya menamparnya.
"Maaf," lirih Cindekia
Dia mencoba menyentuh bekas tamparannya, namun Gamya menjauhkan pipinya dan kembali duduk dengan benar di kursinya.
"Apakah ada tempat lain yang ingin Kau kunjungi?" tanya Gamya sembari kembali melajukan mobilnya, dan mencari jalan putar balik.
"Maaf,"
"Sweetheart, berhentilah mengucapkan kata maaf jika Kau tidak bisa memberitahu yang sebenarnya mengapa Kau menolak tidur denganku!" tegas Gamya bernada kesal, ia lelah menduga-duga.
Cindekia hanya bisa menunduk karena dirinya sendiri juga bingung ada apa dengannya, "Ini salah saya, karena terus terusan menjauhimu hingga membuatmu berpaling kepada wanita lain."
Lagi Kau berpikir tentang wanita lain? Pikiranmu itu, tunggu..., Gamya tersenyum dalam hati, karena menyadari dirinya lupa jika istrinya sangat mudah dikelabui.
"Sebenarnya ada yang salah dengan indra penciuman saya, maaf karena terus menjaga jarak denganmu," lirihnya Cindekia.
"Karena itu Kau pergi ke rumah sakit hari ini?"
__ADS_1
"Bagaimana Kamu bisa tahu?" tanya Cindekia spontan. ia yakin orang suruhan suaminya tidak berhasil mengikutinya.
Sayang, Kau seharusnya tidak langsung naik taksi dari rumah sakit, batin Gamya.
istrinya begitu pintar mengelabui orangnya saat pergi, namun lupa menghilangkan jejak saat pulang
Gamya melirik perut rata Cindekia sekilas, Kau tidak mungkin hamil, kita tidak berhubungan lagi sejak itu.
"Hari ini Kau mengelabui orangku, dan Kau bahkan tidak menggunakan identitas aslimu di rumah sakit. Jujurlah kepadaku, mengapa Kau melakukannya?"
Detak jantung Cindekia berdetak lebih cepat, apakah dia mulai mencurigai kehamilanku? tanya batin Cindekia panik.
"Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan, siapa yang saya kelabui? Hanya memeriksakan kesehatan tidak harus menggunakan nama yang sesungguhnya kan?" Cindekia memasang wajah tak bersalah.
Berhentilah berpura-pura tidak tahu, Kia.
"Mengapa Kau tidak memberitahuku jika Kau sakit?"
"Jika memberitahukannya, Kamu akan membuatku tidur di rumah sakit selama seminggu untuk pemeriksaan menyeluruh. Padahal saya hanya perlu pergi ke THT," tutur Cindekia.
Gamya tertawa mendengar penuturan istrinya, "Apa kata dokter tentang indra penciumanmu?"
"Dokter bilang baik-baik saja, tidak ada masalah," ucap Cindekia meyakinkan suaminya.
Gamya melihat istrinya sekilas, Baiklah Aku akan mencoba mempercayaimu.
"Sepertinya kita harus pergi ke dokter tht lain, Kau tidak baik- baik saja,"
"Benar tidak ada masalah, tidak perlu ke dokter lagi," rayu Cindekia sembari menggenggam tangan suaminya yang memegang persneling, dan mendekatkan dirinya.
Ia mengambil dan mengecup punggung tangan suaminya, dan tersenyum menggoda.
"Sweetie...?" Gamya mengerutkan dahinya karena tiba-tiba istrinya kembali menjadi wanita penggodanya, ada apa lagi dengannya?
"Apa yang bisa Kau lakukan untuk memperbaiki hubungan kita?" tanya Gamya bernada serius. Tatapannya lurus menatap jalan di depannya.
"Pindah rumah," jawab Cindekia singkat.
Pindah rumah?!
"Mengapa?"
"Mungkin saja masalahnya adalah tempat tinggal kita sakarang tidak nyaman, jadi indra penciumanku terganggu. Apakah rumah kita sudah selesai?"
"Hampir," jawab Gamya singkat, ia segera memutar balik mobilnya begitu jalanan aman.
"Mengapa putar balik lagi?"
Gamya menyeringai, "Bukan kah, Kau ingin melihat rumah baru kita?"
Butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah tujuan mereka. Rumah itu terlatak jauh dari pinggir kota dan jauh dari rumah tetangga.
Mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam halaman sebuah rumah yang di dominasi warna putih dengan desain rumah modern.
"Sudah selesai?" ucap Cindekia kagum menatap rumah yang berdiri kokoh di depan mereka, ia segera turun dari mobil.
"Belum," jawab Gamya yang mungkin tidak sempat di dengar Cindekia.
__ADS_1