
Cindekia mengatur pernapasannya sejenak untuk menenangkan dirinya sebelum berbicara kembali dengan ponselnya.
"Jadi begini, Dyan datang ke rumah, terus ngajak nikah," ucapnya.
"Apa?! itu berita bagus?" potong Lindri.
Cendikia menatap kursi yang tadi diduduki Dyan. Seharusnya Ia bahagia mendapat pernyataan cinta sekaligus ajakan nikah dari seseorang yang Ia harapkan, tetapi Ia lebih berharap orang itu datang setelah tiga minggu lagi.
Cindekia menghembus napas berat, kebohongannya semakin membuat masalah. Ia menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Lindri mulai dari Dyan meneleponnya hingga pria itu pamit pulang.
"hmm...baiklah, Aku mengerti," ucap Lindri mencerna cerita Cindekia, dan mencoba memikirkan solusi terbaik untuk sahabatnya, "Kia, mengapa kau tidak menjalin hubungan serius saja dengan bosmu?" katanya kemudian.
"Jangan gila," ujar Cindekia.
Terdengar suara tawa Lindri. "Mengapa kau tidak mengatakan saja yang sebenarnya kepadanya?" tanya Lindri penasaran. Cindekia menceritakan kepadanya tentang kontrak itu, tetapi tidak kepada Dyan. Orang yang juga Cindekia percayai.
"Itu adalah kontrak rahasia, Aku tidak bisa mengatakannya kepada siapapun!" seru Cindekia bersikap tegas.
"Tetapi Kau menceritakannya kepadaku,"
"... jika aku menceritakannya kepada Dyan, entah mengapa Aku merasa seperti mengkhianati Pak Gamya...." lirih Cindekia.
"Hey girl ! mengapa sekarang kau menjadi sopan memanggil nama orang itu dengan benar?" goda Lindri.
"Mungkin sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah berbaik hati memberiku bonus," jawab Cindekia. Ia senang ternyata apa yang dilakukan Gamya semalam berhasil membuat Dyan melamarnya, namun Ia malah merusaknya.
"Wow apa orang itu memberimu bonus stock makanan selama sebulan?"
"Bukan, bukan seperti itu, jadi... loh mengapa kita jadi membicarakan Pak Gamya?" tanya Cindekia bingung.
" ehem.. ehem... minta maaf saja kepada Dyan karena sudah berbohong mengenai kontrak kerja tidak boleh menikah tiga tahun dua bulan yang tidak masuk akal itu. Katakan saja kepadanya, Kau perlu waktu untuk berpikir. Mengenai dirinya yang cemburu dengan bosmu itu, katakan saja kalau bosmu itu agak sedikit gila jadi tidak perlu khawatir." Lindri memberikan sarannya sambil ng-rap
"Baiklah Aku akan mencobanya,"
"Jika Dia serius mencintaimu, menunggu tiga minggu tidaklah lama. Aku harap Kau segera menikah. Sudah ya, Aku tutup teleponnya, ada panggilan tugas negara,"
"Oke, Lindri.. terima kasih ya. Selamat menjalankan tugas negara, bye." Cindekia menutup teleponnya.
Sebuah pemberitahuan pesan masuk dari Dyan muncul di layar ponselnya Cindekia.
[Dyan: Jangan tidur terlalu larut. Goodnight, sleep tight.]
__ADS_1
Biasanya Cindekia selalu berdebar setiap kali mendapat pesan masuk dari Dyan, tetapi entah mengapa sekarang Ia merasa aneh.
[Cindekia: Dyan maaf, Aku tidak bermaksud berbohong,]
[Dyan: jangan khawatir, Aku mengerti. I will wait for you till my last breath (maksud Dyan, dia tidak akan menyerah karena belum kalah dari Gamya)]
/tl: Aku akan menunggumu hingga napas terakhirku/
[Cindekia : Cie sampai napas terakhir, tidak sampai bertahun-tahun kok Dyan, tiga minggu aja.(Dyan gagal bersikap sok romantis)]
***
Keesokan paginya, Cindekia bangun dengan segar. Ia tidur dengan nyenyak semalam. Mengetahui Dyan tidak marah kepadanya menghilangkan kegalauannya.
Dyan tidak pernah berbicara kasar dan membentaknya. Pria tersebut juga tidak pernah marah kepadanya, setiap kali Ia berbuat kesalahan. Cindekia berpikir Dyan adalah pria berhati lembut yang sempurna untuk dijadikan suami.
Sungguh berbeda dengan bosnya yang selalu melampiaskan kemarahannya setiap kali Ia melakukan kesalahan sekecil apapun itu.
Seperti pagi ini, Gamya menunjukkan ekspresi wajah yang lebih dingin dari biasanya. Hingga membuat tangan Cindekia gemetar saat meletakkan secangkir teh di atas meja Gamya.
Cindekia berpikir Gamya marah karena Ia kabur dari lembur semalam.
"Kayaknya sih ada Pak." jawab Cindekia ragu. Ia memang pernah mengurus pembuatan paspor empat tahun lalu, tetapi belum pernah Ia pergunakan, dan Ia lupa dimana meletakkan paspornya.
Mengapa dia menanyakan pasporku?
"Ada atau tidak?" bentak Gamya.
"Ada Pak,"
"Baguslah, kita akan pergi ke Slovenia." Gamya menyeruput tehnya. Ia harus menenangkan dirinya dari kemarahan.
Tadi malam Ganeeta menyambut kepulangannya dengan video CCTV rumahnya Cindekia. Gamya tidak tahu apa yang membuatnya marah, Cindekia yang mengabaikan larangannya atau apa yang dilakukan Dyan di rumahnya Cindekia.
Memikirkan hal-hal yang mungkin mereka lakukan berdua di dalam rumah itu, sudah membuat kepala Gamya sakit. Meskipun Ia sudah memutuskan mengakhiri perasaannya kepada Cindekia.
"... maaf Pak, apakah kita akan melakukan perjalanan bisnis? apa Bapak ingin saya memesan tiket?"
Gamya menyapu udara dengan tangannya, "keluarlah! kita akan membicarakannya nanti,"
"Seharusnya Bapak bertanya dulu kepada Saya mengenai jadwal Bapak, sebelum tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke Slovenia," gerutu Cindekia sebelum memutuskan untuk beranjak pergi.
__ADS_1
Gamya menyeringai mendengar ocehan Cindekia, "Apakah Kau bertanya kepadaku sebelum mempersilahkan orang itu masuk ke rumahmu tadi malam?" sindir Gamya.
"A-pa?" kaget Cindekia, tahulah dia apa yang membuat Gamya sangat marah pagi ini, bukan karena dirinya yang kabur dari lembur.
"Tidak, apakah Kau menganggap kontrak kerjasama kita adalah omong kosong?"
Cindekia menundukkan wajahnya. Tidak hanya merasa bersalah karena bertemu dengan Dyan, tetapi perkataan Gamya membuat hatinya terasa sakit.
Ia rela menunda menerima lamaran Dyan karena menganggap kontrak itu bukanlah sekedar omong kosong belaka. Semalam seharusnya adalah hari bersejarah dalam hidupnya. Tetapi Ia memilih mematuhi kontrak Gamya.
Cindekia menahan airmatanya, Ia tidak boleh telihat cengeng saat dimarahi bos.
"Saya mengakui kesalahan saya, tetapi saya tidak mengakui tuduhan Bapak," kata Cindekia dengan tegas. Ia mengangkat kepalanya menatap Gamya dengan berani, "Saya tidak menganggap kontrak itu adalah omong kosong."
Cindekia membuang wajahnya ke arah lain karena malu harus menuturkan bukti Ia menganggap serius kontrak Gamya, "Saya menunda mengatakan 'ya' tadi malam,"
"Lihat ke arah orang yang Kau ajak bicara, dan juga kalau bicara yang jelas. Apa maksudmu menunda mengatakan 'ya' tadi malam," ujar Gamya bernada kesal.
Cindekia masih betah membuang muka, "Semalam orang itu mengajak Saya menikah,"
"Dan Kau menolaknya?" tanya Gamya mulai melunakkan kemarahannya.
"Saya tidak menolaknya, tapi memintanya menunggu tiga minggu lagi,"
"Mengapa Aku menceritakan masalah pribadi secara detail kepada orang ini?" gerutu Cindekia dengan sangat pelan.
Tidak disangka cerita Cindekia mampu menghilangkan kemarahan Gamya hingga ke akar-akanya.
"Keputusan yang tepat Kau menolaknya saat ini_"
"Saya tidak menolaknya," potong Cindekia menatap tegas ke arah Gamya.
"Besok kita akan menemui orang tuaku di Slovenia," Gamya tersenyum mengakhiri kalimatnya.
"Hah ?"
"Karena kasalahanmu, Ganeeta memberitahukan tentangmu, dan orang tuaku ingin menemuimu,"
"Mengapa mereka ingin bertemu dengan saya Pak?"
"Tentu saja untuk membicarakan tentang pernikahan kita," ujar Gamya enteng.
__ADS_1