Boss Gila

Boss Gila
Penasaran berujung godaan hidup


__ADS_3

Usai acara resepsi pernikahannya, Cindekia sangat lelah dan ingin segera merebahkan dirinya di atas kasur, namun Ia masih terjebak di dalam beratnya gaun pengantin berwarna putih yang bertabur ribuan kristal swarovski.


Dua orang asisten rias pengantin membantunya melepaskan gaun yang beratnya mencapai 20kg yang melekat di tubuh Cindekia.


"Ini cairan pembersih make up, apakah Nona ingin Saya membersihkan riasannya?" tanya Aina selaku penanggung jawab riasan Cindekia.


"Ah ya, boleh." pinta Cindekia.


Aina tersenyum, "Baik,"


"Tapi, bisakah Kakak rias ulang yang tidak bermake-up, biar terlihat lebih fresh begitu." pinta Cindekia.


"Baik, Saya mengerti," Aina tersenyum memahami permintaan klien.


Cindekia yang telah mengenakan kaos oblong kesayangannya, kembali mengagumi gaun pengantin yang telah berhasil dilepas dari badannya, Sayang banget ngeluarin duit buat beli baju beginian, disewa saja sudah.


...π π π π...


Di dalam sebuah kamar yang dibanjiri kelopak bunga mawar putih. Harum semerbak menusuk hidung.


Cindekia tak sabar ingin bermain dengan kelopak mawar. Namun Ia harus segera mandi agar bisa memiliki tidur yang berkualitas.


Begitu membuka pintu kamar mandi, Ia dikejutkan lagi oleh taburan kelopak mawar di dalam bathup.


Berendam air hangat membuatnya melupakan suami yang sejak tadi tidak terlihat olehnya. Gamya masih ditahan oleh teman- temannya yang tidak berakhlak. Mereka tidak menyangka Gamya mengakhiri masa lajangnya lebih dulu dibandingkan dengan mereka yang telah lama melalang buana di dunia percintaan. Termasuk Rudi yang masih digantung oleh Ganeeta.


Berbalut bathrobe, Cindekia menari dan menyanyi tanpa beban setelah selesai mandi. Harum sabun yang masih melekat dibadannya semakin membuat moodnya menjadi semakin baik.


Karena hanya bermalam satu malam, Cindekia tidak banyak membawa pakaian, yang Ia perlukan hanya dua kaos oblong. Pakaian santai kesukaannya. Diliriknya sebuah kotak hadiah pemberian Lindri, seketika pipinya bersemu merah karena sudah menebak isinya adalah baju haram.


Ia menyingkirkan hadiah Lindri yang entah mengapa ada di dalam kopernya.


"Tidak ada yang lebih nyaman dari mengenakan kaos," gumamnya.


Saat hendak naik ke atas tempat tidur, sebuah botol champagne yang terletak di atas sebuah meja, menarik perhatiannya. Set champagne itu adalah bagian dari layanan hotel.


"Mengapa ada minuman haram di sini?" gumamnya heran dan sedikit penasaran.


Senyum terukir di wajahnya, ini pertama kalinya Ia melihat minuman beralkohol secara langsung. Rasa penasaran menghampirinya.


Tanpa ragu Cindekia mengambil champagne yang menggoda iman itu. Ia ingin melihat isi champagne yang menyembur keluar. Segera dirobeknya kertas timah yang membungkus mulut botol.

__ADS_1


Tangannya terhenti saat hendak menyingkir kawat yang mengikat penutup botol. Bentar- bentar sepertinya harus diguncang- guncang dulu.


"Pop!" penyumbat yang menutup botol melompat keluar begitu Cindekia membuka kawat pengikatnya.


"Astaga naga!" pekiknya.


Botol terlepas dari tangannya karena terkejut. Semburan champagne mengenai Cindekia hingga membasahi sekujur tubuhnya.


Yah basah, mana baju tinggal satu lagi.


Mau tidak mau Cindekia mengganti baju basah yang dikenakannya, kalau dibiarkan bisa masuk angin.


Sementara Gamya yang akhirnya bisa terbebas dari temannya segera menuju kamar di mana istrinya mungkin telah menunggunya.


Ia dikejutkan oleh kondisi kamar yang berantakan, namun tidak melihat keberadaan istrinya.


"Ceklek!" suara pintu kamar mandi terbuka, Cindekia keluar dari kamar mandi tanpa menyadari keberadaan suaminya.


"Apakah Kau bermaksud ingin memberiku hadiah, Hun?" Suara datar Gamya mengagetkan Cindekia dan membuatnya membeku seketika.


Badannya yang berbalut kain Chiffon yang tipis, korset renda model V pada bagian atas, dan bagian bawah tidak kalah menerawang, sungguh baju haram yang menggoda sanubari. Tadinya Ia akan langsung tidur dan membalut badannya dengan selimut, tapi kenyataannya, Gamya lebih dahulu tiba di kamar.


Sebagai suami yang normal, tentu saja pemandangan di depan matanya membangunkan si bambang.


"Aku akan menyimpan hadiah ini untuk nanti, Babe," Gamya mengangkat dan memindahkan Cindekia ke atas kasur.


Cup!


Gamya mengecup dahi istrinya yang terlihat masih shock berat. "Tidurlah dulu, Sweetie." ucapnya dan beranjak pergi mandi.


Cindekia akhirnya kembali bernapas dengan benar setelah Gamya menghilang dari pandangannya.


Ia benar- benar sangat malu,


"Aaakkh!!" pekik Cindekia.


Teriakannya terdengar hingga ke kamar mandi, membuat Gamya tak henti- hentinya tertawa. Tawanya tetap berlanjut hingga selesai mandi.


Gamya yang telah selesai mandi mengenakan kaos dan celana boxer, Ia mendapati istrinya tengah berbaring di kasur membelakanginya.


"Jangan tidur membelakangiku, Sweetheart. Kau tahu Aku tidak menyukainya." ujar Gamya yang telah duduk bersandar selonjoran di sebelah Cindekia.

__ADS_1


"Maaf Pak, Saya ini malu, saya pakai ini karena nggak ada baju lagi, benaran, baju saya basah." papar Cindekia yang masih membelakangi suaminya.


"Aku sudah pernah melihatmu, dan mengingat setiap inci lekuk tubuhmu. Seharusnya Kau tidak malu lagi kepadaku," kata Gamya mencoba menetralisir perasaan malu istrinya.


Namun perkataannya justru membuat rasa malu Cindekia bertambah berkali-kali lipat hingga membuat saraf matanya bereaksi. Matanya melotot, dan darahnya mendidih.


"Cepat hapus ingatan bapak itu!" pekik Cindekia membalikkan badannya ke arah Gamya yang tengah duduk menatapnya. Sebuah iPad berada di tangannya.


Bagus, menghadaplah ke arahku.


"Ok, Aku akan menghapusnya,"


"Hapus sekarang!"


"Umm..ya..Tidurlah, Kau pasti lelah." Gamya kembali melihat layar iPadnya.


"Bapak tidak tidur?"


Gamya menggeleng, "Ada banyak pekerjaan yang harus Kuselesaikan, Sayang."


"Bos bapak memberikan Bapak banyak pekerjaan? nggak ada akhlak itu bos." gerutu Cindekia.


"hmm... " Gamya sebenarnya sedang menyelesaikan soal teka teki matematika.


Bukannya dia juga adalah bos yang nggak ada Akhlak? kualat sih. Batin Cindekia.


Cindekia menggeser badannya agar lebih dekat dengan suaminya, "Pak, apakah perusahaan tempat bapak bekerja sekarang tidak memiliki cabang di sini? tidak bisakah kita tetap tinggal di sini?" tanya Cindekia sembari memijat- mijat paha suaminya untuk membantu melancarkan peredaran darah, dengan maksud untuk merayu pria itu.


Perbuatan tak berakhlak Cindekia membuat Gamya menambah tingkat kesukaran soal teka- teki.


"Jika Kau ingin pulang, Kau boleh bebas pulang kapanpun Kau mau. Jangan khawatir."


"Ya pasti pekerjaan yang sekarang, jauh lebih baik, hingga Bapak menerima tawaran untuk bekerja di sana. Saya hanya takut tidak bisa menyesuaikan diri jika tinggal menetap di sana. Maaf... karena bapak sudah menikah dengan istri yang tidak mendukung karir suaminya," lirih Cindekia, tangannya sudah berpindah memijat paha suaminya yang sebelah lagi.


"Sayang, Apa yang sedang Kau lakukan?" tanya Gamya yang berusaha untuk tenang.


"Memijat, mana tahu kaki bapak pegal-pegal setelah dipajang lama di pelaminan." jawab Cindekia enteng.


"Pak, Saya masih penasaran lho mengapa Bapak bisa menyukai orang yang tidak berguna dan makannya banyak seperti saya? Sejak kapan bapak menyukai Saya?" desak Cindekia sekali lagi, kini tangannya sudah berpindah memijit tulang kering suaminya.


Ia seperti kura- kura, dengan selimut yang menutup badannya sebagai cangkang.

__ADS_1


"Sejak pertama melihatmu, mungkin." aku Gamya, Ia sudah mulai tenang dengan sentuhan Cindekia di kakinya.


Jawaban Gamya membuat Cindekia berpikir sejenak, "Kok bisa? bukannya dulu bapak ingin memecat Saya? atau jangan- jangan waktu itu Bapak cuman bercanda."


__ADS_2