
"Lho Bapak sudah mandi," sapa Cindekia yang baru selesai mandi langsung menuju dapur.
Gamya yang tengah memasukan bahan makanan yang baru saja dibeli ke dalam kulkas hanya menanggapi pertanyaan Cindekia dengan senyum, "Hmm... "
"Bapak tadi pergi belanja?"
"Kau mandi terlalu lama," kekeh Gamya.
"Apa Saya selama itu, Pak?"
"Hmm...." Gamya menutup kulkasnya dan menghampiri Cindekia yang berdiri di sebelah meja makan.
"Maaf, Pak. Tadi Saya coba berendam eh malah lupa waktu sepertinya." dalih Cindekia tersenyum malu.
"Tidak apa- apa Sayang, Aku hampir saja mendobrak masuk karena mengira terjadi sesuatu kepadamu." tawa Gamya.
Gamya menyeret salah satu kursi meja makan keluar, "Duduklah, Sweetie."
Ditawarin duduk dengan sopan, membuat Cindekia duduk dengan sopan pula.
Gamya berjalan mengitari meja makan dan duduk berhadapan dengan Cindekia.
Disodorkannya selembar kertas dan sebuah pena di atas meja makan kepada Cindekia, "Itu adalah kontrak pernikahan kita." ucapnya.
Cindekia mengambil kertas itu dengan bingung, "Kosong?"
"Karena Kau belum menulisnya, Hun. Untuk kontrak kali ini, Kau ikut bagian dalam membuatnya." terang Gamya menjawab pertanyaan Cindekia.
Raut wajah Cindekia memperlihatkan keseriusan, "Jadi pernikahan ini, apakah juga memiliki batas waktu?" tanyanya. Mau marah atau kecewa, entahlah.
Gamya mengambil selembar kertas yang ada ditangan Cindekia. Ia menulis sesuatu di atasnya, lalu menyerahkannya kembali kepada Cindekia.
"Aku sudah menulis point pertama isi kontrak nikah kita, Sweetie."
Dengan suasana hati yang masing bingung, Cindekia kembali melihat lembar kertas itu.
"Ikatan pernikahan antara pihak pertama dan kedua berlaku seumur hidup, tanpa terkecuali?" Cindekia memperlihatkan wajah tanda tanya.
Gamya menjawab dengan memperlihatkan wajah anak baik. "Itu benar, Baby," Gamya melempar senyum lembutnya kepada Cindekia.
Entah mengapa gadis itu menjadi senang dan tersenyum malu. Entah karena Gamya yang tersenyum kepadanya atau karena pernikahan mereka adalah selama lamanya.
"Bagaimana jika suatu saat kedua bela pihak sudah tidak saling mencintai?" tanya Cindekia, Ia ingin merevisi point yang ditulis Gamya. "Jika pernikahan hanya tersisa saling menyakiti, bukan kah lebih baik berpisah?"
"Aku tidak akan menyakitimu Sweetie, Kau harus yakin jika suamimu ini adalah pria yang sangat mencintaimu. Jika Kau meminta jantungku, Aku akan memberikannya, tetapi Aku tidak ingin Kau hidup sendiri dengan kepergianku." ucap Gamya bernada serius.
__ADS_1
Cindekia menjadi berdebar dengan perkataan gombal Gamya yang tidak ada habisnya. Dia pun mulai menulis sesuatu di atas kertas kontrak mereka.
"Pihak kedua tidak boleh melirik, memiliki niat selingkuh baik dengan wanita lain atau pria, dan tidak boleh melakukan kekerasan dalam rumah tangga baik verbal maupun fisik." Gamya menahan tawanya membaca apa yang ditulis Cindekia.
"Pria? Sayang, perlu kah Kau menuliskan pria? Aku adalah lelaki normal."
"Iya, sekarang, nanti- nanti kan mungkin saja. Siapa yang tahu?"
"Baiklah Hun, terserah Kau saja." Gamya tertawa dan mulai menulis lagi point berikutnya dalam kontrak nikah mereka.
Aku akan segera membuktikan seberapa normalnya diriku, Kia.
"Pihak pertama harus mematuhi semua peraturan yang diberikan Pihak kedua." Cindekia mengerutkan dahinya membaca tulisannya Gamya.
"Saya keberatan, Pak. Peraturan apa? mengapa harus ada aturan? Bapak mau menjadi suami yang diktator?" protes Cindekia.
"Baik, kita coret peraturan nya," usul Gamya.
Cindekia teringat dengan wejangan ibunya, Ia harus mematuhi suami.
"Ok," Cindekia mencoret kata peraturan dan menambahkan kalimat di bawahnya. "Pihak pertama mematuhi Pihak kedua selama hal itu tidak melanggar hak asasi pihak pertama."
"Tidak ada lagi yang ingin Kau tulis, Sayang?" tanya Gamya setelah membaca perbaikan yang ditulis Cindekia.
"Tidak bisa, Kau sudah menyetujui point ketiga, Sayang." tegas Gamya.
"Apa hubungannya, Pak?"
"Kau harus mematuhiku, Aku tidak mengijinkanmu untuk bekerja." Gamya tersenyum puas. Point ketiga sudah mencakup keseluruhannya.
"Tidak! itu adalah larangan yang semena- mena, Saya perlu bekerja untuk mencari uang."
"Sayang, Apa Kau berpikir Aku tidak akan memberikanmu nafkah?"
"Saya tahu. Sebagai suami, Bapak akan bertanggungjawab menafkahi Saya. Tetapi Saya juga memiliki tanggung jawab kepada orang tua saya." tutur Cindekia memasang wajah minta belas asih.
"Baby, Jika Kau ingin mengirim uang untuk orang tuamu, Kau bisa menggunakan uang yang kuberikan." tawar Gamya.
"Tidak, mereka orang tua saya. Mengapa saya harus menggunakan uang bapak? saya tidak mau dikemudian hari bapak mengungkit-ungkit jika keluarga Saya adalah benalu bagi Bapak."
Cindekia masih bersikeras dengan pendiriannya, sementara Gamya kembali mengusap pelipisnya bingung.
"Baiklah, Aku mengijinkanmu bekerja." katanya seperti membiarkan Cindekia memanangkan perdebatan.
Seketika wajah Cindekia kembali semringah, ingin rasanya Ia langsung mencium suaminya. Namun malu, jadi hanya bisa tersenyum malu.
__ADS_1
"Terima Kasih, Pak. Bapak memang suami the best!" puji Cindekia.
"Tetapi, Aku yang akan menentukan di mana Kau akan bekerja. Setuju?"
"Ok, setuju." sahut Cindekia bersemangat.
"Bagus." ucap Gamya tersenyum puas.
Cindekia kembali mengambil kertas kontrak dari tangan Gamya, kemudian menulis sesuatu di atasnya.
"Jadi, apakah Saya akan bekerja di perusahaan tempat bapak bekerja sekarang?" tanya Cindekia sembari menyodorkan kertas kontrak kepada Gamya.
"Tidak," ucap Gamya sembari membaca apa yang ditulis Cindekia.
Pihak pertama berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Gamya menahan tawanya membaca dalam hati point mirip pasal undang- undang yang ditulis Cindekia.
"Kau akan bekerja di rumah kita, Sayang." terang Gamya.
"Hah? maksudnya Pak?"
"Job desc-mu adalah memasak untukku, menjadi asisten pribadi mengurus semua kebutuhanku, Aku akan memberikanmu gaji yang layak dan juga memberikan nafkah lahir batin untuk penghidupanmu."
Cindekia merengut menatap Gamya. Ucapan suaminya sama artinya tidak mengijinkannya menjadi wanita karir. Dan sama artinya pria di depannya akan tetap menjadi Bos, dan dia adalah karyawan.
Sementara Gamya tersenyum penuh kemenangan, Ia tidak akan tenang jika membiarkan istrinya bekerja di luar. Mengingat Cindekia yang mudah berteman akrab dan melempar senyum minta tolongnya kepada pria.
Cindekia kembali menarik kertas kontrak dari tangan Gamya untuk menulis sesuatu dan menyerahkannya kembali.
Pihak pertama berhak membangun relasi dengan pihak lain, dan berhak mengikuti kegiatan masyarakat,
Ia tidak bisa membiarkan Cindekia menulis lebih banyak lagi. Tetap saja semuanya akan kembali ke point ketiga.
"Baik, isi kontraknya cukup sampai disini saja," Gamya mulai mengetik isi kontrak nikah mereka di layar ponselnya.
"Tunggu, Pak!" pekik Cindekia menghentikan kedua jempol Gamya yang menari-nari di atas layar ponselnya.
"Ada apalagi, Love?"
"Apakah nanti isi kontrak ini bisa di revisi dikemudian hari?" tanya Cindekia, "Undang-undang saja ada amandemen lho Pak," imbuhnya lagi.
"Baik, Aku akan menambahkan point kontrak bisa direvisi atas persetujuan kedua bela pihak." ucap Gamya.
Kemudian Ia pergi sebentar ke kamarnya, dan kembali dengan kontrak nikah yang telah diprint.
Ia menyodorkannya kepada Cindekia untuk ditandatangani.
__ADS_1