
Terima Kasih sudah ikutin ceritanya,,
Sebenarnya ini cerita sudah tamat.
tetapi berhubung, karena ada misi kejar kata. Jadi dilanjutkan dengan cerita **rumah tangga**.
Kelanjutan ceritanya mungkin tidak cocok bagi sebagian pembaca. Karena mungkin banyak mengandung adegan orang dewasa.
(・ิω・ิ)ノ ~ sekedar mengingatkan~
**Baiknya jangan dibaca**~~
Terima Kasih 🙏🏼🙏🏼
πππππππ£££££££££
😺🆂🅸🅽🅾🅿🆂🅸🆂
Memiliki suami yang bucin, tampan dan memiliki segalanya. Tidak lantas membuat Cindekia memiliki kehidupan yang bahagia.
Bukan keluarga yang diinginkan Gamya, Ia hanya butuh seorang wanita untuk menemaninya. Dan Cindekia adalah pilihannya. Wanita cerdas dan pantang menyerah dengan wajah yang lucu menurutnya.
Mampukah Cindekia bertahan dengan mertua yang selalu menuntutnya menjadi istri yang sempurna? ataukan menyerah dengan pernikahan yang tak memberinya kesempatan untuk mengandung seorang bayi.
$$$$$
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
.
Langit sore masih terlihat cerah secerah hati Cindekia. Keluarga besar Cindekia melepas kepergian keluarga Gamya. Ia telah mengganti baju kebayanya menjadi pakaian biasa.
Dengan penuh hormat Ia mengantar kepergian keluarga Gamya hingga ke depan pintu mobil yang telah dibuka oleh Isman.
"Maaf, Bapaknya dan Ibu pak Gamya jika pelayanan kami kurang berkenan, " ucap Cindekia, entah mengapa Ia menjadi gugup ketika orang di hadapannya benar-benar memiliki hubungan dengannya.
Nyonya Lenart mengkerutkan dahinya, Ia harus mengklarifikasi panggilan yang dialamatkan Cindekia untuk dirinya, suaminya, dan putranya.
"Mengapa Kau memanggil suamimu seperti itu?"
"Iya, " Cindekia tak tahu harus menjawab apa, jika sebelumnya Ia berharap kedua orang tua Gamya tidak menyukainya, kini Ia menjadi sebaliknya.
"Mami, *it is a pet name for that kid*," Ganeeta melewati kedua orang di depannya dan segera masuk ke dalam mobil.
"Kami akan meninggalkan kalian dan pernikahan kalian, tetapi Kami akan ada di sini jika Kalian membutuhkan Kami. Always be loving and kind, respectful of one another," ucap Lenart dengan fasih, Ia tersenyum hangat sebelum menyusul putrinya.
Cindekia membalas senyum bapak mertuanya dengan hormat. Ia pernah bersikap tidak hormat ketika hubungan mereka hanya sandiwara.
"Kau bisa memanggilku Mami," instruksi nyonya Lenart.
"Baik Mami,"
"Mengapa kalian memutuskan untuk menikah tiba-tiba?!..," nyonya Lenart tidak jadi melanjutkan kalimat emosiannya. Pencitraan sangat diperlukan.
"Kia, Ibumu sudah sepakat. Mengenai resepsi, Mami yang akan mengurus semuanya." ucapnya kemudian.
Cindekia ingin melihat Ibunya yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan para kru-kru yang tengah membereskan sisa acara akad nikah, namun Ia urungkan. "Baik,"
Nyonya Lenart menghela napas memandang putranya yang berdiri di sebelah Cindekia, sebelum memutuskan masuk ke dalam mobil. Hubungan mereka masih belum seperti keluarga normal yang lainnya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Bapak? itu orang tua bapak lho." Cindekia menepuk bahu Gamya yang harus diseret dulu baru mau mengantar kepergian orang tuanya.
Gamya hanya menjawab komentar Cindekia dengan senyum. "Ayo kita melakukan apa yang harus dilakukan," Ia menarik lengan Cindekia menuju rumah mertuanya, setelah mobil yang membawa keluarganya telah pergi menjauh.
Cindekia bukan gadis polos anak kemarin sore, tentu Ia tahu apa yang dimaksud oleh suaminya yang memang mesum bawaaan lahir.
"Eh eh.. Pak...tunggu-tunggu!" ditahannya dirinya agar tetap mempertahankan posisi berdirinya.
"Apa?"
"Ini masih sore,"
"Baik, kita tunggu malam saja."
"Tidak, sebelum kita membahas rencana masa depan!" tegas Cindekia. Gamya bukan lagi atasannya, tetapi sudah menjadi suaminya.
"Begitu, baiklah Sayang, Kau tulis rencanamu sekarang. Nanti Aku akan mempertimbangkannya."
*lah mengapa sikapnya masih seperti atasan*?
"*Hun*, apa Kau tidak ingin membawaku berkeliling?" Gamya telah berdiri di depannya bersiap meninggalkan kediaman keluarga Salahuddin.
Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum matahari berwarna jingga, "Oke, Pak."
Gadis itu berpikir membawa mantan atasannya berjalan kaki menapaki dunia desa yang sebenarnya.
Sebagian besar lahan adalah persawahan, dengan beberapa rumah penduduk yang saling berjauhan. Sore hari suasana desa sudah mulai lengang.
"Sayang apa kita harus melewati jalan ini?" Gamya menatap ragu pematang sawah yang terhalang oleh saluran air gunung, di depannya.
Gamya berwajah datar mendengar omelan Cindekia, "Apa hubungannya?"
Gamya memutuskan untuk melompati selokan dan mendarat di atas pematang sawah, Ia mengulurkan tangannya berniat untuk membantu Cindekia.
"Tidak usah Pak, Saya bisa sendiri. Bapak lupa? ini kan wilayah Saya. Sawah seperti ini adalah tempat bermain Saya." angkuh Cindekia.
Gamya menarik kembali tangannya, dan tersenyum melihat kecongkakan istrinya, "Terserah Kau saja, Baby."
Cindekia berhasil mendarat dengan mulus di atas pematang sawah, "Tuh kan? gampang, sudah biasa Saya Pak."
"Iya, iya, terus ke mana?"
Cindekia menujuk lurus ke depan, "Jalan terus saja Pak!"
Gamya mengikuti instruksi Cindekia berjalan mengikuti pematang sawah, sesekali Ia mengulurkan tangannya untuk Cindekia. Namun tetap ditolak.
"Lalu, rencana masa depan seperti apa yang Kau inginkan, *Hun*?"
"Tidak jadi ditulis Pak?"
"Aku ingin mendengarnya sekarang," Gamya melihat kakinya yang kini sudah diselimuti lumpur.
Sementara Cindekia yang berjalan di belakangnya sebenarnya agak kesusahan berjalan, karena medan tempur yang tidak datar, persawahan yang mereka lewati disusun bertingkat-tingkat di permukaan bukit.
Tetapi Cindekia gengsi untuk memegangi Gamya yang berjalan di depannya. Bagaimana bisa orang desa sepertinya kalah dengan orang kota seperti Gamya.
__ADS_1
"Pertama, setelah ini kita tinggal dimana? Saya kerja di sini, dan Bapak kerja di sana. Jadi Saya merencanakan kita tinggal terpisah, dan membuat jadwal bertemu sebulan sekali,"
Gamya berhenti melangkah, "Sayang, setelah ini Kau harus ikut bersamaku."
"Tidak bisa begitu Pak,"
Gamya yang masih mengira Cindekia berjalan di belakangnya melanjutkan perjalanannya, "Sweetie maafkan Aku, Aku sudah meminta Damar memberhentikanmu."
Hening, Gamya tidak mendengar jawaban Cindekia di belakangnya,
*Apakah dia marah*?
"Baby," Gamya menoleh ke belakang dan tak mendapati Cindekia berdiri di belakangnya.
"Sayang?" tanyanya bingung melihat Cindekia yang sudah duduk penuh lumpur di atas padi yang baru saja ditanam.
"Aduh, Saya jatuh Pak," ucapnya malu.
Gamya mengusap pelipisnya, Ia tidak tahu harus tertawa atau bagaimana. Namun ekspresi lucu Cindekia yang merona karena menahan malu membuatnya ingin segera mencium istrinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gamya setelah melompat turun. Ia kesulitan berjalan di atas genangan lumpur mendekati Cindekia.
Cindekia mengulurkan tangannya, Ia tidak bisa berdiri sendiri karena tertahan adonan tanah dan air.
Gamya menyambut uluran tangan istrinya dan membantunya berdiri. "Apa ada yang terluka?" tanyanya khawatir.
Cindekia menggeleng, dirinya tidak apa-apa, yang dikhawatirkan sekarang adalah bagaimana caranya naik ke atas pematang kembali.
Jika berjalan mencari pematang yang lebih rendah, artinya mereka harus melewati bayi-bayi padi yang baru saja ditanam. Khawatir akan rusak.
"Ayo Sayang!" Gamya sudah berjongkok di atas pematang dan mengulurkan lengannya untuk membantu Cindekia naik.
*hah? sejak kapan dia sudah ada di atas situ saja*?
Cindekia memegang erat tangan Gamya dan berusaha memanjat naik ke atas pematang.
"Lihatlah, sekarang Kau sudah penuh dengan lumpur," Gamya menangkup kedua pipi Cindekia dengan tangannya yang berlumpur. Ia tertawa menunjukkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Bapak!!!" teriak Cindekia tidak terima Gamya mengotori wajahnya. Suami macam apa yang tega mengotori wajah istrinya.
Mendengar teriakan amarah Cindekia menambah tawa Gamya. Dan berniat akan memegang puncak kepala Cindekia.
"Coba saja kotorin kepala Saya kalau Bapak berani," ancam Cindekia menahan tangan Gamya dengan tatapan tajam matanya.
Puk! tangan Gamya mendarat dengan mulus di atas kepala Cindekia, "Aku akan bertanggungjawab untuk membersihkannya." tawanya.
"Akhh!!!" Cindekia tidak mengerti mengapa dirinya yang malah dikerjain oleh Gamya, harusnya dirinya yang mengerjai mantas bosnya.
"Naik lah, Aku akan menggendongmu saja." Gamya berjongkok di depan Cindekia, mempersilahkan istrinya naik ke punggungnya.
*Digendong*? Cindekia ragu untuk naik ke punggung Gamya.
"Tidak usah, Pak. Saya jalan saja!" Cindekia berjalan putar arah kembali pulang, Ia harus segera membersihkan dirinya. Terlebih dia pasti akan malu jika berpapasan dengan orang di jalan.
__ADS_1
.