
😺
Bab ini memuat adegan dewasa yang mungkin tidak cocok untuk sebagian pembaca.
Harap kebijakannya dalam membaca bab ini
Gamya langsung membawa kabur Cindekia menuju kamar.
"Ada apa, Pak?" tanya Cindekia yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
Bukannya menjawab, Gamya malah menarik lengannya masuk dan menutup rapat pintu.
"Sweetie, sepertinya Aku demam," Gamya meletakkan telapak tangan Cindekia di keningnya.
"Hah? Saya ambil termometer du\_ hmmpf"
Gamya langsung mengatup mulutnya pada kedua bibir Cindekia secara bergantian bertubi-tubi dengan perlahan, membuat gadis itu terkejut setengah mati.
Ia mencoba mendorong Gamya dan melepas tangan yang merangkup rahang pipinya, namun sia-sia karena kalah tenaga. Mau kabur, sebelah kiri dipalang oleh tangan besar Gamya, sebelah kanan di palang oleh kaki Gamya.
Walau begitu, Ia tetap berusaha memberontak meski dalam posisi terjepit antara daun pintu dan tubuh Gamya. Mau teriak, di luar orang ramai. Serba sulit memang.
Akhirnya Cindekia terdiam setelah sadar pria di depannya telah menjadi suaminya. Ia pasrah menerima apa yang tengah dilakukan oleh Gamya, digenggamnya erat kedua ujung jas Gamya saat pria itu mulai dengan lembut memporak-porandakan indra pengecapnya. Ia sangat takut hingga membuatnya merasa mual dan pikirannya berputar alias pusing.
Gamya melepaskan pautan mereka karena merasa wanita yang diciumnya mulai kehilangan keseimbangan, Ia segera menopang Cindekia dan memberikan ruang antara dirinya dan Cindekia. Gadis yang telah sah menjadi istrinya tampak memucat.
"Baby, Kau tidak apa-apa?"
"Hah?" Cindekia ingin bicara, namun Ia tidak tahu apakah mulutnya masih bisa dipakai untuk bicara atau tidak, karena masih merasakan sisa keanehan dalam rongga mulutnya.
Selama ini Cindekia hanya melihat teorinya di adegan drama, tidak menyangka jika saat praktek langsung rasanya aneh.
Gamya tersenyum dan kembali mendekat karena tidak ada protes yang diucapkan Cindekia. Ia mengecup daun telinga gadis itu, membuat Cindekia merinding merasakan daun telinganya basah dan ada angin yang bertiup pelan.
Cindekia kembali diberi ruang untuk bernapas, Gamya menatapnya dan tersenyum penuh arti kembali mendekat seakan ingin mendaratkan bibirnya di atas bibir Cindekia.
__ADS_1
Takut mendapat serangannya berikutnya, Cindekia menutup mata dan mulutnya rapat-rapat.
Namun yang terjadi berikutnya adalah tubuhnya melayang, karena Gamya menggendongnya.
Setelah menjatuhkan Cindekia di atas tempat tidur, Gamya membuka jasnya dan menyisakan kemejanya.
*hah? Apa yang akan dilakukannya? apa dia akan melakukan hal itu sekarang*?
Gamya meletakkan jasnya di sembarang tempat dan ikut menyusul Cindekia berbaring di atas tempat tidur.
*tidak! jika kami melakukan itu sekarang, maka namanya akan menjadi siang pertama*,
Cindekia segera bangkit, "Tidak! Bapak tidak boleh!"
Ia menoleh ke samping dan mendapati suaminya tengah tidur memejamkan mata.
"Aku tidak boleh apa, Baby?" Gamya membuka matanya.
Gamya tersenyum sayu dan mengambil tangan Cindekia untuk digenggam, "Sweetie, biarkan Aku tidur sebentar, dua hari tidak tidur karena gugup menunggu hari ini,"
*apa ada pengantin yang langsung tidur setelah akad nikah*?
"Tapi Pak, itu tamu di luar gimana?"
"Biarkan saja,"
"Ok.."
Gamya menyentuh lembut bibir Cindekia yang masih menyisakan bekas ciumannya, "Maaf, Aku menciummu tanpa izin,"
"Ini tangan Bapak juga nggak izin,"
Gamya segera menarik tangannya dari bibir Cindekia dan tertawa, "Maaf, tanganku lagi-lagi berinisiatif."
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*😸😸...
**Intermeso sebentar**,
**lagi senang Parody kan lirik lagu** 😆
**Andmesh, Cinta Luar Biasa**
Waktu pertama kali
Kulihat komenmu hadir
Rasa hati ini ingin nulis 'tuk mu
Hati tenang membaca
kata indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka
ingin nulis tak tertahan
cerita ini selalu untukmu
Terimalah cerita ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya vote
Yang kupunya hanyalah hati yang setia nulis 'tuk mu
Hari hari berganti
**Kini ceritapun kusudahi**
Melihatmu memandangmu bagai bidadari
Lentik indah komenanmu
Manis senyum like mu
Hitam abstrak nt ini gakjelas mbuhlah
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Terimalah cerita ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya vote
__ADS_1
Yang kupunya hanyalah hati yang setia nulis 'tuk mu