
Cindekia mengingat dirinya yang malas tadi pagi pergi ke warung untuk membeli garam dapur. "Saya memang sengaja mengurangi garamnya Pak, demi kesehatan jantung Bapak, banyak-banyak makan garam dapat meningkatkan darah tinggi."
"Begitu," Gamya hanya tersenyum, Ia juga tidak mengerti mengapa dirinya bisa menyukai gadis yang memiliki kebiasaan suka ngeles.
lagipula dirinya sendiri juga melakukan banyak alasan untuk bisa dekat dengan Cindekia.
"Pak, "
"hmm."
"Saya minta maaf," Cindekia menyodorkan bill pembayaran restoran dan toko komputer. "Sebagai gantinya Bapak mendapatkan doa selamat dan panjang umur, dari tim ALM."
Gamya sebenarnya tidak mempermasalahkan dan tidak peduli dengan Cindekia yang mengeluarkan uang seratus juta lebih dalam semalam.
laptop 4 unit? matanya tidak sengaja membaca bill yang disodorkan Cindekia. Jadi bukan untuknya?
"Meine Fresse*," gumam Gamya.
(*bagh)
"Bapak tidak bisa meminta pengembalian dana." kata Cindekia
Alis Gamya sedikit terangkat mendengar penuturan Cindekia, Aku tidak memintanya Kia,
__ADS_1
"Jika Bapak memintanya, Saya juga akan meminta masakan Saya yang sudah Bapak makan. Kita impas, sama-sama tidak bisa dikembalikan." Cindekia tersenyum penuh kemenangan.
Gamya menutup mulut dengan telapak tangannya, Ia pura-pura tidak terima dengan jebakan Cindekia, "sudah kuduga Kau memberiku sesuatu yang tidak aman dimakan."
"Bereskan ini semua!" bentak Gamya kemudian, dan beranjak menuju meja kerjanya.
Diliriknya Cindekia yang terlihat murung tengah membersihkan kotak bekalnya. Ia tidak bermaksud untuk membentak. Hatinya menjadi tidak tenang karena membuat kekasih hatinya menjadi murung.
Ditengah kegalauan yang Ia buat sendiri, tiba-tiba Cindekia dengan senyum-senyum mendatanginya.
"Pak, Bapak marah?" tanya Cindekia, ada perasaan senang berhasil membalas bosnya yang jelalatan lihat wanita muda yang cantik.
Gamya bernapas lega melihat Cindekia tersenyum senang, ternyata kekhawatirannya terlalu berlebihan. Ia lupa sebelum-sebelumnya Cindekia tidak pernah bersedih hati setiap kali dibentak olehnya.
"Sayang, Aku sudah mengatakan kepadamu 'menghabiskan uangku merupakan kerja bagus jika Kau senang', dan Aku juga suka Kau memasak untukku meskipun itu hanya untuk menipuku, dan tidak pakai garam." tegas Gamya sekali lagi.
"Saya suka Bapak jadi baik kepada Saya, tapi mengapa?" tanyanya waspada.
"Kia, dengar, Aku menyukaimu," akhirnya Gamya mengakui perasaannya. Ia takut membuat gadis itu merasa terbebani dan menghindarinya. Namun, apa boleh buat. Kalimat itu sudah keluar dari mulutnya.
"Aku tidak menuntut apa-apa darimu, Kau hanya perlu menerima semua yang kulakukan dan kuberikan untukmu. Kau mengerti?" lanjut Gamya kemudian, layaknya atasan memberi instruksi kepada bawahannya.
"Ha..,"
__ADS_1
"Jika Kau ada pertanyaan, Aku tidak menerima pertanyaan saat ini. Jika sudah mengerti, silahkan lanjutkan pekerjaanmu," katanya masih tidak memberi kesempatan Cindekia bersuara.
"Baik, Pak." Cindekia meninggalkan ruangan Gamya dengan tertib.
Sebuah pernyataan perasaan yang aneh, dan membuat terjadinya deadlock* pada otak Cindekia.
(*macet aka berhenti mikir)
Di mejanya, gadis itu duduk menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Kedua pipinya memerah seperti mengalami overheat*
(*kepanasan)
****
Di bawah sinar cahaya matahari yang melewati celah dedaunan, diiringin paduan suara serangga. Ganeeta sedang duduk menenangkan pikiran, menyatukan dirinya dengan alam.
Kring.. kring...
Suara dering ponselnya merusak konsentrasinya untuk mengosongkan pikiran.
"Ada kabar baik?" gadis itu menjawab panggilan teleponnya.
"Sepertinya rencanamu tidak akan berhasil," terdengar suara Rudi dari speaker ponsel Cindekia.
__ADS_1
"Kita jalankan saja rencana selanjutnya," kata Ganeeta dan mematikan sambung teleponnya.
Ia harus melanjutkan lagi, proses penenangan pikirannya.