
Perkataan Gamya yang makin hari semakin seperti cowok mangatoon membuat Cindekia mau tidak mau, pagi-pagi Ia membuat bekal makan siang untuk bosnya dengan segenap kemampuan yang ada.
Ia harus membuat Gamya tidak bisa menyeretnya ke pengadilan karena telah melakukan penggelapan dana.
"Jadi ini caramu untuk membuatku iri dan dengki?" tanya Gamya kepada Cindekia yang meletakkan kotak bekal yang baru Ia panaskan di microwave.
Gadis yang ditanya hanya menyengir dan tetap melanjutkan menata makan siang untuk Gamya di ruangannya.
"Ta da! silahkan Pak," Senyum mengembang di wajah Cindekia.
Gamya masih enggan untuk mencicipi masakan Cindekia, "Apa Kau juga memasak untuk orang itu?"
"Orang itu?"
"Kau tahu siapa yang Aku maksud,"
"Ah...," Cindekia kembali tersenyum dan duduk di sebelah Gamya. "Tidak Pak, Saya tidak pernah membawakannya bekal. Ini pertama kali Saya memasak khusus untuk orang lain," aku Cindekia.
Ia memang tidak pernah membiarkan Dyan memakan masakannya, karena tidak ingin citranya jelek di mata pria itu.
"Khusus untukku?"
"Hmm," Cindekia mengangguk mantap.
Gamya menjadi bersemangat untuk memakan makanan yang dibuat khusus oleh Cindekia untuknya. Ternyata yang namanya Dyan, masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya.
__ADS_1
"Saya tidak begitu bisa memasak, jadi Saya tidak pernah membiarkan orang itu memakan masakan saya, Pak."
Gamya yang hampir memasukan sendok berisi makanan itu tiba-tiba membeku mendengar perkataan Cindekia, "My sweetie, Apa Kau yakin ini aman untuk dimakan?" tanyanya penuh keraguan dan kecemasan.
"Tentu saja aman, memangnya Saya terlihat seperti meracuni Bapak? ha..ha..ha"
Duh, Apakah dia menyadarinya? Batin Cindekia tidak tenang.
Gamya dengan ragu-ragu memakan bekal makan siang yang sudah dibuatkan Cindekia untuknya. Sendok demi sesendok Ia mencoba menghabiskannya.
"Tidak enak ya Pak?" tanya Cindekia khawatir, karena Gamya hanya diam saja tanpa berkomentar.
Pria itu tidak menjawab, Ia mengambil sepotong sayur dan menyodorkannya ke mulut Cindekia.
Mau tidak mau, gadis itu memakannya dan mengunyahnya sembari melihat Gamya yang memperhatikannya dengan matanya yang tajam. Makan sambil dilihati pria ganteng, membuat gadis itu jadi gagal fokus.
"Hah apanya?" tanya Cindekia bingung.
"Rasanya, Sweetie."
"Rasa kecipir, Pak." yang dimakannya adalah sayur kecipir, tentunya rasa kecipir.
Rasa hambar yang Gamya rasakan pada masakan Cindekia mengingatkannya akan seseorang. Seorang wanita yang sangat Ia cintai dan hormati. Wanita itu selalu memasak untuk Gamya. Meskipun rasanya hambar, Gamya selalu memakannya dengan semangat. Wanita itu telah kehilangan indra perasaanya.
"Dulu ada seseorang yang selalu memasak untukku," Gamya tersenyum di tengah ceritanya. "Dia selalu bertanya, 'bagaimana?' dan Aku selalu menjawab, 'Enak',"
__ADS_1
"Seorang wanita?"
"Hmm..,"
siapa? kekasih yang telah lama hilang kah?
"Lalu, sekarang dia di mana, Pak?" tanya Cindekia penasaran.
"Di dalam tanah."
"...."
"Dia seseorang yang telah membesarkanku dan Aku memanggilnya nenek," Gamya tersenyum di tengah ceritanya. "Tapi sebenarnya Ia lebih cocok dipanggil Ibu, Aku memanggilnya nenek karena Ia sama sekali tidak mirip denganku," lanjutnya kemudian.
Cindekia tidak mengerti cerita bosnya, Apa ini semacam teka-teki 'apakah aku'?
"Sayang, Kau bingung dengan ceritaku?" tanya Gamya karena melihat Cindekia terlihat bingung. "Mengapa Aku jadi bercerita kepadamu?" kini giliran Gamya yang bingung.
"Saya juga tidak tahu apa yang Bapak ceritakan, tetapi tetap ingin dengar. Nenek yang bukan neneknya Bapak sudah meninggal?"
"Hmm.. lima belas tahun yang lalu," kata Gamya. Ada kesedihan di matanya, dan sekaligus kebencian yang tertahan.
Gamya kembali melihat masakan Cindekia di depannya.
Sementara Cindekia bingung bagaimana cara menghibur bosnya yang lagi bermuram durja. Mau dikasih permen, bosnya tidak suka permen. Mau dipeluk, Pak bos bukan mahramnya.
__ADS_1
Ya sudahlah, jadi penonton yang budiman saja.
"Sweetie, Apa Kau kehabisan garam di rumahmu?" Gamya kembali memasukan potongan sayur ke mulut Cindekia.