Boss Gila

Boss Gila
35 Mana Kantong Plastik, mana?


__ADS_3

"Sebaiknya Kau mati saja."


"Apa yang kurang dariku?" tanya Rudi tidak terima dengan penolakan calon abang iparnya.


"Aku kurang menyukaimu." Gamya terlihat acuh. Pekerjaannya lebih penting. Kalau tidak rajin-rajin nanti dipecat.


"Hey, secara hierarki Aku adalah atasanmu. Seharusnya Aku tidak membiarkanmu bersikap seperti ini kepadaku," ancam Rudi.


"Hmm..." Gamya melihat bosan ke arah Rudi, Ia memang bekerja di salah satu anak perusahaan milik orang tua Rudi.


"Sebelum mengetahui siapa calon adik iparku, Aku sangat mendukungnya untuk menikah. ck.. ck..tetapi mengapa itu Kau?" Gamya masih tidak bisa menerima kenyataan.


"Kau harus menerimaku sebagai adik iparmu," Rudi tersenyum lebar. "Sudahlah, ayo kita pergi makan siang bersama, Abang ipar!"


"Kau pergi saja sendiri!"


Tok! tok!


Cindekia datang menyela membawakan teh untuk Rudi.


"Hmm...kalau begitu Aku pergi bersama sekertarismu saja,"

__ADS_1


"Saya?" Cindekia yang tidak tahu apa-apa terkejut tiba-tiba Rudi menyebutnya.


Rudi melemparkan senyum memikatnya kepada Cindekia, "Sebentar lagi jam istirahat, bagaimana kalau Aku mengajakmu makan siang di luar?" tanyanya dengan melembutkan suaranya.


"Ok." Cindekia menyetujui begitu saja ajakan Rudi, membuat jari Gamya yang baik-baik saja menjadi terkilir benaran ketika sedang mengetik keyboard laptopnya.


"Babe, Kau tidak diijinkan makan bersama pria lain." Gamya tersenyum lebar menahan kesal kepada Cindekia yang dengan mudahnya menerima ajakan Rudi.


"Babe?" Rudi menatap bingung ke arah Gamya. Apa sudah terjadi sesuatu di antara mereka?


Cindekia tertawa kaku melihat Gamya yang sepertinya sedang memarahinya, Apa juga harus berpura-pura di depan pak Rudi?


"Ma..af..., jangan ma..rah.. Kia cuman bercanda.. humm...," katanya kemudian dengan suara yang dibuat imut sedemikian rupa dan mengembungkan kedua pipinya.


Sementara Gamya ingin mengambil kantong plastik dan membungkus pacar bohongannya, untuk segera dibawa pulang.


"Ayo!" Gamya menggenggam tangan Cindekia dan membawanya pergi.


"Hey tunggu! Aku harus mendengar penjelasan apa yang terjadi diantara kalian." Rudi segera menyusul Gamya dan Cindekia.


Mereka bertiga masuk ke dalam lift yang sama. Rudi memandang heran kedua sejoli yang berpegangan tangan di depannya. Keduanya tidak ada yang bersedia menjelaskan kepada Rudi tentang hubungan mereka.

__ADS_1


Cindekia asyik menatap Gamya dengan penuh damba. Begitu juga dengan Gamya. Akting mereka sangat sempurna.


Ting!


Pintu lift terbuka, secera serentak Gamya dan Cindekia melepaskan pegangan tangan mereka. Keduanya kembali menjadi bos dan sekertaris yang mengekori.


Rudi mengikuti mereka hingga ikut masuk ke dalam mobil Gamya.


"Mengapa Kau terus mengikuti kami?" tanya Gamya kepada Rudi yang sudah duduk manis saja di kursi belakang.


"Ayolah, biarkan Aku mendengar cerita tentang kalian berdua."


"Bukan kah Kau sudah bisa melihatnya sendiri," ucap Gamya bernada mengejek.


"Pak supir, jalan! tunggu apa lagi? Aku sudah lapar," ujar Rudi kepada Gamya yang duduk di bangku kemudi.


"Bapak ternyata adik iparnya Pak Gamya?" tanya Cindekia yang duduk di sebelah Gamya. Sepertinya Ia harus berhati-hati dengan orang yang bernama Rudi.


Rudi tersenyum manis kepada Cindekia, "Bukan, Aku masih single."


"Oh," Cindekia kembali menghadap ke depan, "Kita akan pergi makan ke mana?" tanyanya kepada Gamya yang masih belum juga menggerakkan mobilnya.

__ADS_1


"Hot pot, Aku ingin makan hot pot!" seru Rudi tanpa ditanya.


Cindekia tersenyum sumringah, "Iya hot pot, Ayo Pak cepat jalan!"


__ADS_2