
Cukup lama Cindekia menatap kunci pintu rumahnya yang baru saja dipasang. Kini hanya ada rasa sakit yang tersisa dengan perhatian Gamya kepadanya.
Ia tidak kuat menahan rasa iri dan dengkinya. Digenggamannya dengan erat ponsel yang dilayarnya masih bertuliskan, [Kau tidak perlu khawatir dengan kehilangan kunci lagi].
Ini terlalu berlebihan memasang kunci smart digital yang harganya lebih mahal dari sewa rumahnya setahun. Cindekia menghela napas tidak percaya.
Apa kata tetangga?
Daripada terus merana dengan perasaan iri dan dengki yang kian membesar, Cindekia memutuskan untuk makan makanan manis dan pedas mengisi hari liburnya. Membenarkan kapal hatinya yang sempat oleng karena diterpa arus yang menghanyutkan.
Esok hari Ia harus bisa bersikap normal, seolah tidak terjadi apa-apa.
****
"Sepertinya satu hari libur memberikan pengaruh yang cukup besar kepadamu," kata Gamya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang tengah Ia baca.
Ia sudah tidak melihat bangkak pada mata Cindekia.
"Iya, Pak."
"Mulai besok, Kau bisa kembali ke departemen IT."
"Maksudnya Pak?"
"Maaf, Aku tidak memberitahukan tentang mutasimu, sebelumnya," kata Gamya datar.
Dalam sebulan dirinya dua kali dioper ke sana kemari, sulit dipercaya.
"Maksud Bapak, Saya berhenti jadi sekretaris Bapak?"
"hmm.."
__ADS_1
"Tidak bisa begitu, Pak!" protes Cindekia.
Gamya menutup berkas yang tengah dibacanya dan menatap Cindekia yang berdiri di depan mejanya, mencari tahu alasan gadis itu tidak menerima keputusannya.
Katakan, Kau tidak ingin berpisah denganku.
"Nona Kia, mengapa Kau keberatan? bukankah Kau sangat ingin ditempatkan kembali di sana?"
Apa dia melakukan ini, karena ucapanku semalam? seharusnya Aku bisa menahan kemarahanku.
Meski mata dan hatinya perih melihat Gamya bermesraan dengan wanita lain, entah mengapa dirinya tetap ingin berada disekitar pria itu.
"Saya harus menyelesaikan kontrak kerjasamanya dengan baik," jawaban itu keluar dari mulutnya.
"Tidak perlu, Aku sudah membatalkannya kontraknya," tegas Gamya.
"Artinya Saya tidak perlu lagi berperan sebagai pacar Bapak?" tanya Cindekia ragu.
Gamya berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Cindekia. Ia ingin melihat gadis itu sekali lagi, Apakah tidak ada sedikitpun rasa untuknya.
Spontan Cindekia melangkah mundur menjauhi Gamya yang terus berjalan semakin dekat dengannya. Membuat Pria itu menghentikan langkahnya.
"Ya Kau tidak perlu bersandiwara lagi. Apa Kau sudah memeriksa rekeningmu? Aku telah memberikan uangmu,"
Cindekia menatap bingung bosnya, dia belum selesai melakukan pekerjaanya. "Mengapa Bapak membayar Saya? kan Saya tidak jadi menyelesaikan tugas saya."
Gamya tersenyum menatap wanita yang telah mematahkan hatinya. Tidak disangka Cindekia masih saja bisa membuatnya tertawa.
Dia benar bodoh sejak awal,
"Baby... Maaf." Gamya segera meralat panggilannya. "Nona Kia, ternyata Kau tidak membaca kontrak yang menyangkut hidupmu dengan teliti ya, hmmm...."
__ADS_1
"Apa?" Cindekia masih dalam mode bingung.
"Siapapun yang membatalkan kontrak kerjasama itu harus membayar pinalti," jelas Gamya.
"Oh.. " Cindekia membuat huruf O,
Tunggu, artinya bayaran yang kudapatkan lebih besar daripada menyelesaikan tugas?
"Kau bisa keluar, jika sudah mengerti."
"Baik, Pak."
"Kia, jangan pernah masuk lagi ke ruanganku. Setelah ini, Kau tidak perlu lagi bertemu denganku," kata Gamya melunakkan suaranya.
Ia mengatakannya antara ikhlas dan tidak ikhlas, namun memandang Cindekia dengan pandangan tidak ikhlas membiarkan gadis itu pergi.
Cindekia menghentikan tangannya memegang gagang pintu. Perkataan Gamya yang didengar telinganya dengan segera memecahkan hatinya hingga berkeping-keping.
Gadis itu menoleh ke arah Gamya dengan perasaan terkejut.
Mengapa...? benar, dia sudah tidak memerlukanku lagi.
"Saya mengerti, Pak." Cindekia keluar dari ruangan Gamya dengan mantap.
Cindekia duduk di mejanya membereskannya pekerjaannya. Ia harus menerima kenyataan, pada akhirnya dia akan kembali ke tempatnya.
Ia menatap pintu ruangan bosnya tidak mengerti, haruskah berakhir seperti ini saja?
Apa tidak ada perpisahan atau semacamnya? Apa Aku kirim saja pesan ucapan terima kasih? atau Aku memberikannya hadiah perpisahan? Cindekia bermonolog dalam hati.
"Sudahlah, apa yang kuharapkan?" gumamnya kemudian.
__ADS_1