
Di sebuah restoran bertema klasik, Cindekia duduk di kursi salah satu meja. Sudah hampir dua jam dia duduk di sana. Dan sudah kenyang pula perutnya.
Dia milirik jam tangan di pergelangan tangannya. Entah yang keberapa kali dia melihat jam, belum ada juga tanda- tanda kedatangan Gamya.
Apanya yang makan malam romantis berdua? gerutu Cindekia dalam hati.
Ini salahnya, dia terlalu bersemangat untuk pergi lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan Gamya.
Suaminya itu menghubunginya untuk memberitahukan akan sedikit terlambat saat Mark sudah mengantarnya dipertengahan jalan. Dia tidak mengira akan selama ini.
Sekali lagi dia melihat ke sekeliling restoran mencari sosok yang dikenalnya. Dia terdiam dan lekas berhenti menoleh, saat bola matanya menangkap sosok yang ia kenal berjalan beriringan dengan sosok yang dikenalnya juga.
Mengapa mereka bisa datang bersama? batin Cindekia.
Sementara Gamya tersenyum senang begitu melihat istrinya. Wanita yang bisa membuatnya tenang.
"Tampaknya Istri kamu telah menunggu lama," kata Norah yang berdiri di sebelahnya.
Mereka baru saja makan bersama di restoran lain. Norah kembali mengikuti Gamya karena mengaku ada urusan bisnis juga di restoran yang dituju Gamya.
Gamya bergegas berjalan menghampiri Cindekia, tanpa memperdulikan perkataan Norah, ia telalu fokus dengan istrinya.
"Hai Sayang." Gamya mengecup dahi Cindekia dan mengambil kursi di depan istrinya.
"Hai, Saya sudah makan duluan," ketus Cindekia.
Gamya tersenyum menanggapinya, "Kalau begitu Kau harus makan lagi," katanya sembari melihat buku menu yang diberikan oleh pramusaji.
__ADS_1
"Apakah Kamu bisa membuat sate padang?" tanya Cindekia. Entah mengapa ia sangat merindukan sate yang biasa mangkal di depan kontrakkannya setiap pukul enam sore.
"Kau ingin makan itu?" Gamya berhenti melihat buku menu.
Cindekia mengangguk, "Umm... sangat."
"Kalau begitu Aku akan membuatkannya untukmu," Gamya mengembalikan buku menu kepada pramusaji, dan memberikan kartunya untuk membayar makanan yang telah di makan Cindekia.
"Sekarang?! Kamu kan harus makan dulu, tidak boleh terlalu lama membiarkan perut kosong."
"Sweetheart, Aku sudah makan bersama dengan calon mitra,"
"Lalu mengapa tidak membatalkan saja makan malam di sini?" gerutu Cindekia.
"Aku tidak ingin membuatmu kecewa."
Gamya berdiri dan mengusap kasar kepala istrinya, "Ayo kita pulang!"
***
Acara makan malam romantis pun tidak berjalan dengan mulus seperti yang di bayangkan Cindekia. Dengan murung dia masuk ke dalam mobil.
Wajahnya semakin murung begitu matanya menangkap sebuah kantong kertas kecil di kursi belakang mobil.
Berbeda dengannya, Gamya terlihat senang berjalan mengitari bagian depan mobil untuk masuk ke kursi pengemudi.
Berkencan di dapur lebih menyenangkan.
__ADS_1
"Apakah itu hadiah dari seseorang, atau untuk seseorang?" tanya Cindekia begitu Gamya duduk di sebelahnya.
"Hadiah?" Gamya menoleh ke kursi belakang, ia lupa tentang hadiah untuk istrinya karena pergi ke restoran dengan terburu-buru. "Oh... ini untukmu." Gamya memberikan benda yang mereka bicarakan kepada Cindekia, dan melajukan mobilnya.
"Untukku?"
Bukannya untuk Norah? Batin Cindekia.
Ia membuka kotak kecil yang ada di dalam kontong itu. Sebuah anting berlian berwarna merah muda yang sangat cantik.
"Baby selamat ulang tahun," kata Gamya yang tetap fokus mengemudi.
"Hari ini bukan ulang tahunku,"
Apakah hari ini ulang tahun Norah?
"Aku tahu ulang tahunmu tanggal 5 bulan lalu. Ma'af, Aku terlambat mengucapkannya karena tidak mudah mencari hadiah itu," jelas Gamya sedikit berbohong.
Apakah dia akan percaya? Batin Gamya mulai berkeringat dingin.
Dia mencari hadiah untuk ulang tahunku dengan waktu yang panjang? Batin Cindekia.
Cup! Sebuah kecupan mendarat di pipi Gamya.
"Terima kasih, I love you," kata Cindekia tersenyum senang.
"Love you more." Gamya melihat sekilas ke arah Cindekia.
__ADS_1
Fiuh! dia percaya.