
Lily masih libur jadi ia memutuskan untuk di apartment dan tidak merencanakan pergi kemanapun.
Vendra yang sudah rapi dengan jas dan siap berangkat enggan membangunkan Lily.
" Biarkan saja dia tidur.... aku berangkat kerja dulu baby..... "
Mencium pipi Lily.
Hari ini Septian menjemputnya dan sudah pasti dia tidak membawa mobil sendiri.
" Pagi.... "
" Pagi juga.... jangan basa-basi seperti itu Sep.... percakapan ini terdengar konyol... "
Septian hannya tersenyum dan menyalakan mobilnya untuk bergegas ke kantor.
" Jadwalku...? "
" Cukup padat..... "
" Ada rapat....? "
" Itu pasti.... oh ya, hari ini ada banyak pekerjaan sepertinya, banyak yang harus kau urus... "
" Itu terdengar biasa saja.... "
Ucap Vendra.
" Bagaimana dengan Lily.... "
" Bagaimana apanya...? "
" Perkembangan di tempat baru.... "
" Baik.... pandai beradaptasi.... "
" Kau jadi menyusulnya kemarin...? "
Awalnya memang waktu itu Vendra menyuruh Septian buat menemaninya saat menemui Lily di acara camping.
Namun karena dia ada urusan yang mendadak jadi tidak bisa.
" Tentu saja... kau fikir aku main-main dengan ucapanku... "
" Kau ikut berkemah...? "
" Kau fikir...... aku ini anak kecil berkemah...! tentu saja aku langsung pulang....! "
" Aku kira kau ikut berkemah di sana menemani Lily.... "
Guraunya.
ššššš
__ADS_1
" Hallo..... "
Ucap Lily serak ketika mendapati ponselnya berbunyi beberapa kali.
" Lily...... yuk jalan..... "
" Kamu tidak capek Mel.....? aku baru bangun.. "
Ucap Lily.
" What...... ini jam 10 kamu baru bangun....? "
" APA...... !!! "
Lily langsung menoleh ke tembok, dan benar jam sudah menunjukkan pukul 10 hampir siang.
" Sungguh mungkin aku kecapean kali Mel... "
" Kamu kemarin langsung pulang...? "
" Aku cari makan dulu sama kak Vendra... terus mampir ke beberapa tempat dan pulang... aku tidak tahu jam berapa aku sampai apartment..... "
" Oh.... gimana..? mau pergi...? nanti aku jemput... "
" Boleh.... tapi aku mandi dulu ya Mel... nanti aku kirim alamatku... "
" Ok.... "
Ia melihat jam di ponselnya dan langsung mengirim pesan ke Vendra sebelum bergegas mandi.
" Aku mau pergi keluar bersama Mellanie... "
.
.
.
.
Jam 12.05
Mellanie sudah sampai di depan apartment Lily dan langsung menyuruh sahabatnya untuk segera turun.
" Maaf agak lama... "
" Tak apa... aku tidak menunggu lama juga... "
" Kita mau kemana...? "
Tanya Lily.
" Makan siang dulu yuk... "
__ADS_1
" Boleh.. kebetulan aku lapar... "
" Me too... hahahahah..... "
Sepanjang perjalanan banyak sekali obrolan, semakin kesini mereka semakin akrab dan berbicara banyak hal, tak lupa juga membicarakan Vendra.
Di kantor sejenak Vendra memejamkan matanya di kursi kuasa yang menemaninya selama ini.
" Aku bingung Sep.... "
" Kenapa... ? "
" Tidak mungkin kan aku menyimpan Lily di apartment terus.... apa aku beli rumah saja untuknya...? "
" Terserah kau saja, toh uangmu bukan uangku... "
" Aku serius Sep.... jangan memancing emosiku... "
" Itu terserah kau tuan.... kalaupun ingin membelikan rumah juga tak apa, uangmu cukup banyak kan...? tak akan berkurang kalau hannya membeli rumah untuk kekasihmu.. "
" Ya... aku tahu soal itu.
Kadang aku merasa gimana ya, aku kurang memberinya kebebasan, ya maksudku kebebasan melakukan sesuatu pekerjaan.. bukan yang lain.... "
Tutur Vendra.
" Itu ada benarnya juga, di apartment pasti terbatas. Tapi nanti dia akan tinggal dengan siapa...? "
" Apa kau buta....!!! tentu saja denganku...! "
" Sampai kapan...? ayahmu sudah setuju...? "
" Ntahlah.... aku tidak yakin, tapi ibuku pasti menyetujuinya.... "
" Kalau menurutmu benar, lakukan saja.... belikan dia rumah... "
" Kau bisa urus semuanya... dan secepatnya... pastikan letaknya benar-benar aman... "
" Siap... semua akan beres secepatnya... "
" Jangan lupa, lokasi yang tidak terlalu jauh dari kampusnya... "
" Ya, itu pasti.. aku sudah tahu... "
Jawab Septian.
" Apa menurutmu Lily menyukainya...? "
" Aku rasa tidak.... "
" Sial...! kau memberikan jawaban yang tidak memuaskan.... "
" Kau sendiri pasti tahu, Lily bukan seperti gadis di luar sana Max.. kau tahu kan maksudku... kau pasti tahu.... "
__ADS_1
" Kau benar juga.... tapi mau tidak mau dia harus setuju bukan.... "
" Ya.... dan itu pasti sudah kebiasaanmu untuk memaksa... "