
Dia tidak meninggalkan kamar, duduk di samping Lily dan terus menggenggam telapak tangannya.
" Harusnya aku lebih teliti... maafkan aku sudah membuatmu seperti ini "
Lagi-lagi kecerobohannya membuat Lily celaka, kaki ini hannya cukup kehujanan.
" Bangunlah sayang... ini sudah terlalu lama. kamu pingsan.... "
Ia memeras handuk kecil itu kembali dan menempelkannya di kening Lily.
Terlihat kedua mata itu perlahan bergerak dan terbuka.
" Hay sayang..... "
Ucapnya lembut.
" Hay kak..... "
Terdengar lirih.
" Bagaimana keadaanmu....? "
" Aku baik-baik saja... "
Tersenyum menatap Vendra.
" Maafkan aku ya, sungguh aku minta maaf untuk hari ini. Aku lupa mengirimkan pesan sama supir rumah... "
" Tak apa kak.... "
" Apa ada yang sakit...? apa kamu pusing...? "
" Sedikit.... kamu baik-baik saja kan...? "
" Jangan tanyakan diriku... aku justru khawatir padamu saat ini, kau kehujanan... harusnya tadi telfon saja diriku... "
" Maaf, aku kira kamu tadi sibuk, tapi tadi aku mau menelfonmu, cuma ternyata ponselnya mati... "
Ucap Lily.
" Lain kali jangan lakukan lagi, telfon saha diriku juka kau butuh sesuatu sayang... aku pasti akan langsung mengangkatnya... "
" Baiklah.... "
" Makan, habis ini minum obat... "
Mengambil piring berisi nasi dan beberapa lauk untuk makan Lily.
" Kamu tidak ikut makan..? "
" Tidak... kamu makanlah, habiskan satu piring... "
" Kamu sudah makan siang...? pasti belum kan..? "
Tanya Lily.
" Sudah jangan banyak bicara, makanlah dan minum obat, terus istirahat... "
__ADS_1
" Kak... kamu makanlah juga... jangan kayak gini, aku juga khawatir denganmu... "
Vendra membelai lembut pipi Lily.
" Baiklah.... "
Akhirnya mereka makan satu piring berdua.
" Minum obat, dan tidurlah.... "
Vendra menyodorkan beberapa butir permen pahit alias obat kepada kekasihnya.
" Kamu mau keman...? "
" Keluar sebentar, kamu mau aku belikan apa...? Istirahat dan jangan turun dari ranjang. Panggil pelayan jika ingin sesuatu, kau paham sayang...? "
" Jangan lama-lama ... "
" Tentu.... "
Vendra meninggalkan Lily di kamar dan bergegas turun untuk pergi ke suatu tempat.
" Aku sudah sampai, cepatlah sedikit....! "
Vendra meletakkan ponselnya kembali dan fokus menyetir agar segera sampai di tempat tujuannya.
šš
CAFE CARAMELS
" Maaf, terlambat.... "
" Ya maaf, perjalanan jauh untuk sampai kesini kak.... "
Ucap Vendra.
Ya, orang yang sedang ia temui saat ini tidak lain adalah Rayen.
Yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri, Vendra sengaja menyuruhnya datang untuk mengajaknya diskusi mengenai masalah yang ada di keluarganya.
" Ada apa...? "
Tanya Rayen.
" Kamu kan sudah tahu masalahnya, kenapa bertanya seolah-olah kau tidak bagian dari keluarga...! "
" Hahahah.... aku hannya ingin bertanya, apa tidak boleh...? "
" Sudahlah, aku males kalau harus mendongeng untukmu... "
Vendra meminum satu gelas Coffee yang sudah hampir dingin.
" Kay serius sekali... apa masalah ini benar-benar mengganggumu..? "
Tanya Rayen menatap adiknya dengan seksama.
" Tentu saja, untuk apa aku menyuruhmu pulang kalau aku tidak serius masalah ini..! "
__ADS_1
" Tinggal dimana kamu...? "
" Rumahku tentu saja... "
" Rumah yang mana Ven...? "
" Rumah baru... kamu tidak perlu tahu soal itu "
" Kau menyembunyikan Lily...? "
Rayen sudah bisa menduga semua tentang adiknya, akan tetapi ia memang sering basa basi hannya untuk sekedar memastikan.
" Ayolah, kau sudah tahu kenapa masih banyak bicara hah... ! aku hannya ingin kita membahas masalah yang sedang menghantuiku sekarang.. jadi jangan bahas yang lain "
Protes Vendra.
" Kenapa...? aku kan juga khawatir padanya, kau kan tahu bagaimana sifat laki-laki itu... kalau nekat bisa habis cintamu ditangannya...! "
" Heh...!! hentikan omong kosong mu itu..! tidak ada yang bisa menyentuhnya atau melukainya termasuk papa...! ayolah kak.. jangan memancing emosiku "
" Okay... baiklah, terus kamu mau melakukan apa...? "
" Apa kau tahu siapa wanita itu...? "
" Wanita siapa...? "
" Wanita siapa...? masih bisa kamu bertanya dan bergurau seperti itu hah...!!! "
" Heh, jangan berteriak.. kau tidak malu apa hah.. ? dasar "
" Kau yang keterlaluan...! "
" Aku tidak tahu namanya, bertemu juga tidak. tahu Ven... "
" Apa papa kekurangan dana...? aku yakin tidak mungkin sama sekali, ya kali papa kekurangan dana dan butuh suntikan dana.. "
" Aku rasa tidak, ayah kita cukup kaya... memang kaya... "
" Terus kenapa harus ada permainan konyol seperti ini......? "
" Mana aku tahu... "
" Aku akan pulang, tapi waktunya kapan aku belum tahu.."
Ucap Vendra.
" Kau mau apa..? "
" Kata mama aku harus pulang jika mau masalahnya selesai... "
" Aku tidak yakin... "
Ucap Rayen.
" Kau fikir aku yakin...? "
Ucap balik Vendra.
__ADS_1