BUDAK CINTA YANG TERIKAT

BUDAK CINTA YANG TERIKAT
KULIAH... ?


__ADS_3

" Apa kamu mau melanjutkan pendidikan mu......? "


Tanya Vendra.


" Kenapa.... ? kau tahu semua itu tidak mungkin untukku... biayanya tidak sedikit, bahkan kau tidak mengizinkan aku untuk bekerja di luar... "


Jawab Lily.


" Itu biar aku yang urus, kalau kau mau aku akan mengurus semuanya... "


"Apa kamu bercanda... kau berlebihan.. "


ucap Lily santai.


" Aku serius baby.... kuliah lah.... aku akan menanggung semuanya sayang... "


" Aku rasa itu tidak mungkin, aku tidak mau... aku berhutang banyak padamu.. "


" Kenapa, aku sama sekali tidak pernah memikirkan semua itu sayang, kamu berhak melanjutkan pendidikan mu... ayolah... "


" Untuk apa...? "


" Tentu saja untukmu.... kehidupanmu.... "


" Apa kamu malu mengenal gadis sepertiku...? "


tanya Lily.


" No.... kenapa aku malu, mengertilah sayang, aku ingin yang terbaik untukmu... kamu masih muda... "


" Aku tidak mau... kau membuatku semakin tidak enak... kau tahu kan apa maksud dari perkataanku.. "


" Aku tahu sayang, aku hannya ingin. kamu mengejar pendidikan mu.. bukan karena aku malu atau apapun... percayalah... aku masih sanggup kalau hannya mengurus masalah biaya... "


" Kamu terlihat sombong... "


Lily tersenyum sinis.


Vendra langsung menepikan mobilnya.

__ADS_1


" Maaf, bukan maksud perkataanku tadi merendahkan siapapun atau menyombongkan diri.


Aku ingin yang terbaik untukmu sayang... lagipula kamu pintar.. kejarlah impianmu... "


Menggenggam erat telapak tangan Lily.


" Jangan egois, jangan menolak apapun yang aku mau dan inginkan.... "


Bisik Vendra.


" Tapi... "


Vendra sudah lebih dahulu membungkam mulutnya dengan mendaratkan bibir Vendra disana.


" Emph... "


Terdengar Lily menikmati sentuhan Vendra, sebenarnya bukan menikmati... tapi lebih tepatnya memang dia sudah candu dengan laki-laki yang sekarang bersamanya.


Perlahan Lily mendorong dada bidang Vendra pelan.


" Kau bisa membunuhku... "


Perlahan dan perlahan tangan nakal itu meraba leher putih dan mulai turun hingga ke bagian sensitif milik Lily.


Dengan cepat Lily menurunkan tangan Vendra dan menggeleng.


" Jangan... aku mohon.... "


" Kau pasti akan suka sayang... cobalah.. "


" Aku mohon... "


" Baiklah... kita pulang... "


Vendra melepaskan pelukannya dan kembali menyalakan mesin mobil.


" Maaf... "


Entah kenapa Lily justru malah meminta maaf seolah-olah ia sudah mengecewakan Vendra yang ingin menyentuh buah dada miliknya.

__ADS_1


" Tak apa.. kenapa. minta maaf.... aku yang minta maaf.... "


" Aku....


aku hannya tidak terbiasa...


maksudku aku, ini kali pertama bagiku... aku minta maaf... "


" Aku tahu.... tak apa baby... tidak akan aku ulangi, promise..... "


Lily tersenyum menatap ke arah Vendra.


" Aku harap kau tidak menolak tawaranku kali ini.... mengertilah.... "


" Kau membuatku semakin berhutang banyak... bagaimana aku membalasnya.... "


" Lupakan hal itu, kamu hannya perlu menjalaninya dan menerima semua yang aku perintahkan... "


" Baiklah... terima kasih banyak... "


Terlihat kedua mata Lily berair.


" Tidak sayang, jangan menangis... "


" Tuhan benar-benar baik padaku, aku sudah salah besar terhadapnya...


buktinya adalah kau... kau orang baik yang pernah aku temui, terima kasih, sungguh aku mengucapkan ini paling dalam dari dalam lubuk hatiku... "


Vendra langsung memeluk Lily kembali. Baginya juga ia tidak menyangka bisa jatuh cinta dengan wanita yang dulu ia kasihani dan hannya berkeinginan untuk menolongnya dari pelecehan di club' malam.


" Sudah, jangan menangis... kau tahu aku menyayangimu.. kau alasan aku selalu pulang ke rumah ataupun ke apartemen.


Kau juga satu-satunya wanita yang berani juga menyuruhku berhenti merokok.. "


Vendra tersenyum tidak menyangka dengan dirinya sendiri yang sekarang.


" Kalau kau keberatan tidak apa-apa... aku tidak akan memaksamu... aku hannya tidak ingin kamu sakit... "


" Aku menerimanya dan aku akan melakukannya untukmu gadis kecil.... "

__ADS_1


Lily tersenyum dan membalas erat pelukan dari Vendra.


__ADS_2