
" Apa kamu mau melanjutkan pendidikan mu......? "
Tanya Vendra.
" Kenapa.... ? kau tahu semua itu tidak mungkin untukku... biayanya tidak sedikit, bahkan kau tidak mengizinkan aku untuk bekerja di luar... "
Jawab Lily.
" Itu biar aku yang urus, kalau kau mau aku akan mengurus semuanya... "
"Apa kamu bercanda... kau berlebihan.. "
ucap Lily santai.
" Aku serius baby.... kuliah lah.... aku akan menanggung semuanya sayang... "
" Aku rasa itu tidak mungkin, aku tidak mau... aku berhutang banyak padamu.. "
" Kenapa, aku sama sekali tidak pernah memikirkan semua itu sayang, kamu berhak melanjutkan pendidikan mu... ayolah... "
" Untuk apa...? "
" Tentu saja untukmu.... kehidupanmu.... "
" Apa kamu malu mengenal gadis sepertiku...? "
tanya Lily.
" No.... kenapa aku malu, mengertilah sayang, aku ingin yang terbaik untukmu... kamu masih muda... "
" Aku tidak mau... kau membuatku semakin tidak enak... kau tahu kan apa maksud dari perkataanku.. "
" Aku tahu sayang, aku hannya ingin. kamu mengejar pendidikan mu.. bukan karena aku malu atau apapun... percayalah... aku masih sanggup kalau hannya mengurus masalah biaya... "
" Kamu terlihat sombong... "
Lily tersenyum sinis.
Vendra langsung menepikan mobilnya.
__ADS_1
" Maaf, bukan maksud perkataanku tadi merendahkan siapapun atau menyombongkan diri.
Aku ingin yang terbaik untukmu sayang... lagipula kamu pintar.. kejarlah impianmu... "
Menggenggam erat telapak tangan Lily.
" Jangan egois, jangan menolak apapun yang aku mau dan inginkan.... "
Bisik Vendra.
" Tapi... "
Vendra sudah lebih dahulu membungkam mulutnya dengan mendaratkan bibir Vendra disana.
" Emph... "
Terdengar Lily menikmati sentuhan Vendra, sebenarnya bukan menikmati... tapi lebih tepatnya memang dia sudah candu dengan laki-laki yang sekarang bersamanya.
Perlahan Lily mendorong dada bidang Vendra pelan.
" Kau bisa membunuhku... "
Perlahan dan perlahan tangan nakal itu meraba leher putih dan mulai turun hingga ke bagian sensitif milik Lily.
Dengan cepat Lily menurunkan tangan Vendra dan menggeleng.
" Jangan... aku mohon.... "
" Kau pasti akan suka sayang... cobalah.. "
" Aku mohon... "
" Baiklah... kita pulang... "
Vendra melepaskan pelukannya dan kembali menyalakan mesin mobil.
" Maaf... "
Entah kenapa Lily justru malah meminta maaf seolah-olah ia sudah mengecewakan Vendra yang ingin menyentuh buah dada miliknya.
__ADS_1
" Tak apa.. kenapa. minta maaf.... aku yang minta maaf.... "
" Aku....
aku hannya tidak terbiasa...
maksudku aku, ini kali pertama bagiku... aku minta maaf... "
" Aku tahu.... tak apa baby... tidak akan aku ulangi, promise..... "
Lily tersenyum menatap ke arah Vendra.
" Aku harap kau tidak menolak tawaranku kali ini.... mengertilah.... "
" Kau membuatku semakin berhutang banyak... bagaimana aku membalasnya.... "
" Lupakan hal itu, kamu hannya perlu menjalaninya dan menerima semua yang aku perintahkan... "
" Baiklah... terima kasih banyak... "
Terlihat kedua mata Lily berair.
" Tidak sayang, jangan menangis... "
" Tuhan benar-benar baik padaku, aku sudah salah besar terhadapnya...
buktinya adalah kau... kau orang baik yang pernah aku temui, terima kasih, sungguh aku mengucapkan ini paling dalam dari dalam lubuk hatiku... "
Vendra langsung memeluk Lily kembali. Baginya juga ia tidak menyangka bisa jatuh cinta dengan wanita yang dulu ia kasihani dan hannya berkeinginan untuk menolongnya dari pelecehan di club' malam.
" Sudah, jangan menangis... kau tahu aku menyayangimu.. kau alasan aku selalu pulang ke rumah ataupun ke apartemen.
Kau juga satu-satunya wanita yang berani juga menyuruhku berhenti merokok.. "
Vendra tersenyum tidak menyangka dengan dirinya sendiri yang sekarang.
" Kalau kau keberatan tidak apa-apa... aku tidak akan memaksamu... aku hannya tidak ingin kamu sakit... "
" Aku menerimanya dan aku akan melakukannya untukmu gadis kecil.... "
__ADS_1
Lily tersenyum dan membalas erat pelukan dari Vendra.