
" Aku mau pergi keluar sebentar baby... kamu mau ikut...? "
Ucap Vendra.
" Kemana....? "
" Kerumah teman, ada acara disana... acara ulang tahun... gimana...? "
" Teman apa emangnya...? "
Lily menatap Vendra yang sedang ganti pakaian.
Mungkin sudah terlalu biasa sampai kini dirinya tidak lagi malu melihat laki-laki yang ada di depannya telanjang dada.
" Gimana..? mau ikut...? "
" Teman apa dulu....? "
" Teman kerja... rekan bisnis... ikutlah dan ganti baju... "
" Tapi aku malu, dan aku juga bukan... "
" Bukan apa...? cepat ganti baju...apa kamu tidak percaya padaku...? "
" Bukan begitu sayang, tapi aku tidak terbiasa.... "
" Kamu bilang apa barusan..? "
Goda Vendra hingga membuat Lily malu dan memalingkan wajahnya.
" Sudah jangan menggodaku.... "
" Tapi aku ingin dengar, tadi kamu bilang apa...? kan aku bertanya balik.... "
" Aku tidak terbiasa..... "
" Bukan yang itu baby.... yang terakhir... "
" Sudahlah, aku mau ganti baju... "
Saat Lily melintas di samping Vendra, tangannya langsung meraih tangan mungil itu hingga tubuh mereka sudah menempel dan Lily sudah dalam pelukannya.
" A... lepaskan.... aku akan ganti baju... "
" Kamu bilang apa tadi...? aku tidak dengar.. "
Goda Vendra lagi.
" Ih... aku malu... "
Sambil memukul dada lebar pria yang memeluknya sekarang.
__ADS_1
" Katakan... "
" Ah, tidak ada siaran ulang.... lepaskan... "
" Tapi aku suka jika kamu mengulangnya lagi... ayolah baby.... "
Vendra membelai lembut kepala Lily dan langsung menggendongnya seperti tempo lalu.
" Lepaskan... kenapa kau mendudukkan ku di meja.... "
Ya, sekarang posisinya sama persis seperti tempo lalu, terlihat meja Vendra juga berantakan.
Ada buku, bulpoint, gunting dan juga staples beserta isinya tercecer disana.
" Kenapa... kau terlalu pendek sayang, jadi aku harus memposisikan dengan benar biar sama-sama enak... "
" Sama-sama enak...? "
Lily berfikir soal ucapan Vendra barusan.
" Kau mau tahu...? "
Ucap Vendra yang langsung mendekatkan tubuh Lily dengan tubuhnya dengan menopang punggung kecilnya.
Suara khas ketika sepasang ke kasih sedang bermesraan, bibir mereka sudah menempel.
Vendra melakukannya dengan pelan dan lembut di setiap gerakan bibirnya.
Lily terkejut hingga membuat Vendra melepaskan ciumannya.
" Awh... tanganku..... "
" Tunggu sebentar Baby... "
Vendra langsung melepaskan pelukannya dan mengambil kotak merah melihat darah di telapak tangan Lily.
" Maaf... aku lupa membersihkan mejaku sayang, maaf....
apa sakit sekali... ? maafkan aku... "
Vendra meracau sambil mengobati luka Lily yang terkena ceceran isi staples.
" Tidak apa-apa... "
Menggigit bibirnya menahan sakit.
Vendra langsung mengelus kepala Lily dan mendekap kedalam pelukannya.
" Tak apa.... aku baik-baik saja... "
" Pasti sakit kan... "
__ADS_1
Mencium ujung kepala Lily.
" Tidak kok... sudah tidak sakit, aku akan ganti pakaian.... "
" Tidak usah pergi, aku akan menemanimu "
" Tidak, aku tidak apa-apa sayang, sungguh... "
Vendra tersenyum setiap kali mendengar kata itu keluar dari mulut Lily.
" Kau yakin...? "
Menatap ke arah Lily.
" Iya, aku tidak apa-apa... biar aku ganti baju.. "
" Aku temani.. tanganmu aku perban, kau pasti kesulitan... "
" Tidak usah, ini luka kecil bagiku, tidak apa-apa.. kau duduklah... "
" Yasudah, kalau butuh bantuan panggil saja aku... "
" Emm... "
.
.
" Sayang masih lama.... "
Ucap Vendra yang berdiri di depan pintu.
" Sudah kok... "
Vendra langsung masuk.
" Beautiful baby... "
Ia menatap tanpa berkedip ke arah Lily.
" Bajunya emang kayak gini...? mutiaranya banyak banget.... bagus.. ? serius...? "
" Yes baby... sungguh... "
" Kamu nggak bohong kan...? "
" Kenapa aku harus berbohong baby. ... aku berkata jujur... kau sangat cantik.... "
__ADS_1